
Waktu berjalan begitu cepatnya, Atin berhenti dari kantor Tara tanpa memberikan surat pengunduran diri. Dia sengaja melakukan hal itu, karena baginya tak penting juga membuat surat pengunduran diri.
"Biar saja, Tara penasaran dengan ketidak hadiran aku. Malas amat membuat surat pengunduran diri, lagi pula aku bekerja di kantor juga hanya untuk menjebak Tara. Bukan karena untuk benar-benar bekerja di sana," gerutu Atin seraya menghela napas panjang.
"Aku malah lega sudah tidak berada di kantor, lebih nyaman kerja di kios pasar. Mungkin otakku nggak nyampai dan nggak kuat untuk mengerjakan tugas kantor yang sangat membingungkan," batin Atin tergelak tawa terkekeh sendiri.
Sementara saat ini Atin sedang membantu bapaknya di kios. Karena expresi wajahnya yang terlihat sedang tersenyum sendiri, membuat Yogi menatap heran pada Atin.
"Nak, sepertinya kamu sedang bahagia? apa kamu telah menemukan tambatan hatimu?" Yogi menatap Atin di sela menata semua sayuran dagangannya.
"Bahagiaku melihat bapak dan ibu telah bersatu," Atin menaik turunkan alisnya menggoda Yogi.
__ADS_1
"Atin, bapak bertanya serius padamu. Tetapi kenapa kamu malah bercanda seperti ini?" Yogi mengerucutkan bibirnya.
"Siapa yang sedang bercanda? apa yang aku katakan memang benar adanya, aku bahagia sejak melihat bapak dan ibu bersatu," ucap Atin seraya menggelengkan kepala.
"Atin, barusan bapak melihatmu tersenyum serta terkekeh sendiri. Bapak pikir, karena kamu sudah menemukan orang yang kamu cintai," Yogi menghela napas panjang.
"Kenapa bapak dan Intan sehati, kompak sekali. Apa kalian janjian untuk terus memojokanku mencari pendamping hidup?" Atin mengerucutkan bibirnya merasa tak suka jika bapaknya berbicara ke arah jodoh.
"Pak, nggak usah berbicara masalah jodoh, pernikahan, suami. Kalau Allah telah berkehendak pasti nggak akan kemana," ucap Atin dengan entengnya.
"Dari dulu hingga sekarang, jawabanmu seperti itu saja nggak ada yang berubah," Yogi menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
"Bapak juga, dari dulu hingga sekarang nggak berubah. Untuk apa di buat pusing, pak. Jalani saja hidup ini seperti aliran sungai, jangan di buat sebagai beban pikiran," ucap Atin terkekeh.
Setelah mendengar perkataan dari Atin, Yogi tak berkata lagi. Dia melanjutkan pekerjaannya melayani para pembeli. Atin juga sibuk menerima pembayaran dari para pembeli.
Sedangkan dua karyawannya juga sibuk melayani pembeli lainnya. Atin lebih semangat bekerja di kios pasar, dimana dia bisa bercanda ria dengan para pembeli dan para pedagang yang lain.
Sementara situasi di kantor berbeda adanya, Tara terus saja memikirkan Cantika yang sudah berhari-hari tak datang ke kantor. Penyelidikan dari para anak buah Tara sama sekali tak membuahkan hasil yang di inginkan Tara.
"Dasar anak buah bego, bodoh! padahal aku telah membayar mahal mereka, akan tetapi hasilnya nol. Membuaku kecewa saja! lima orang yang aku tugaskan mencari keberadaan Cantika, tidak ada satupun yang menemukannya. Aku heran, apa saja sebenarnya yang mereka lakukan di luar sana? Menyesal aku telah membayar mahal mereka!" gerutu Tara mendengus kesal seraya melempar semua barang yang ada di meja kerjanya.
Hatinya benar-benar tak bisa lepas dari Cantika, yang kini menghilang begitu saja.
__ADS_1
********