Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Atin sudah mulai curiga dengan sikap Tara. Dia saat ini sedang mawas diri, supaya apa yang menimpah Tia, tidak menimpanya.


"Aku yakin minuman ini sudah di bubuhi obat tidur atau obat ..aku harus waspada," batin Atin.


"Cantika, minum dulu jusnya. Selagi dingin, biar badan segar. Karena seharian berada di kantor," pinta Tara.


"Iya, pak. Sebentar lagi, kita minum bersama-sama klien sekalian," Atin sengaja menolaknya.


"Tapi nanti di minum ya, aku mau ke toilet dulu." Tara bangkit dari duduknya melangkah menuju ke toilet.


Kesempatan ini tidak di biarkan begitu saja oleh Atin. Dia menukar minuman untuknya dengan minuman milik Tara.


Tak berapa lama kemudian, Tara telah kembali dari toilet. Dia lekas duduk kembali.


"Lok, kok minumannya masih utuh? kenapa nggak di minum? apa mau minum yang lain, biar aku pesankan?" Tara mengernyitkan alisnya.


"Nggak usah, pak. Saya sengaja menunggu, bapak. Nggak sopan dan nggak etis rasanya jika saya minum duluan," ucap Atin mencoba tersenyum.


"Baiklah, mari kita minum jusnya bersama." Tara mengangkat gelas berisikan jus.


Atin juga melakukan hal yang sama, namun tanpa rasa curiga, Tara meminum terlebih dulu jus tersebut. Setelah itu barulah Atin meminum jusnya.


"Bagus, Cantika. Biarpun kamu tak meminum semuanya, obat itu akan tetap bereaksi," batin Tara menyeringai puas.


Namun justru Tara yang tak berapa lama kemudian merasakan kepalanya teramat sangat pusing.


"Kenapa kepalaku pusing sekali, dan tiba-tiba datang rasa kantuk ini?" batin Tara seraya memijit pelipisnya.


Setelah itu Tara tak sadarkan diri di tempat.


"Nah loh, untung aku tukar minumannya. Jika tidak, nasibku sama seperti Tia," batin Atin menghela napas panjang.


Atin sempat memotret kondisi Tara yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana sebaiknya ya?" batin Atin mengernyitkan alis seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Hem, biarkan saja dech. Lebih baik aku tinggal pergi saja dia. Tapi aku kok ingin sekali memberinya pelajaran yang setimpal, tapi apa ya?" batin Atin memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Tara.


Namun Atin telah memutuskan untuk meninggalkan Tara sendirian. Dia tak ingin ambil pusing dengan memikirkan cara untuk menghukum Tara si penjahat wanita.


Atin bangkit dari duduknya, dia melangkah pergi begitu saja. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah dengan mengendarai taxi on line.


Seperginya Atin, Tara tak sadarkan diri. Dan saat dia tak sadar, ada dua orang lelaki yang berniat jahat padanya. Satu lelaki mengawasi kondisi sekitarnya, dan satu lelaki lagi menggeranyangi tubuh Tara.


Dompet, ponsel, kontak mobil di ambil semuanya oleh satu lelaki ini. Setelah mendapatkan semuanya yang di inginkan, kedua pria ini lantas pergi begitu saja.


Mereka sangat bahagia mendapatkan apa yang di inginkan.


Beberapa jam kemudian, Tara telah sadarkan diri. Dia celingukan melihat kondisi sekitarnya. Dia seperti orang linglung, yang tak ingat apapun.


"Kenapa aku masih ada di lobi hotel? ini sudah jam berapa?" Tara menyingsingkan jas bagian lengan kanannya. Dia ingin mengecek sekarang jam berapa lewat jam tangannya.


Namun Tara terhenyak kaget saat tahu, jam tangannya tidak ada.


Dia juga merogoh kantung celananya untuk meraih ponselnya, kembali lagi dia terhenyak kaget karena ponselnya juga nggak ada.


"Jam tanganku nggak ada, ponselku juga nggak ada? terus pada kemana?" gerutu Tara dalam hati.


Tara bernist ingin pulang saja, dia juga ingin membayar salah satu waiters yang di perintah olehnya untuk menaburkan serbuk obat tidur ke dalam minuman Atin.


Saat Tara tak mendapati kontak mobil dan dompetnya, kembali lagi dia terhenyak kaget.


"Busyet, kenapa pula kontak mobil dan dompetku hilang juga? apa semua ini ulah Cantika? tapi aku rasa tidak mungkin dia melakukan hal itu, sebaiknya aku ke ruang resepsionist untuk menanyakan rekaman CCTV," batin Tara.


Tara menghampiri waiters yang sempat di mintai tolong olehnya untuk menabur serbuk obat tidur ke dalam minuman Atin. Tara minta pada waiters tersebut untuk membawanya ke bagian petugas yang bertugas menghandle CCTV.


Saat petugas tersebut mengecek CCTV di bagian lobi hotel dengan di saksikan oleh Tara. Mereka sempat terhenyak kaget saat melihat ada dua orang pria bertubuh tinggi memakai masker menghampiri Tara.

__ADS_1


Dalam rekaman CCTV tersebut, satu orang pria seolah sedang mengamati kondisi sekitarnya. Dan satunya lagi beraksi mengambil barang berharga milik Tara.


"Benar dugaanku, jika bukan Atin yang melakukan semua ini. Dari hasil rekaman CCTV, tampak juga jika Atin terlihat gelisah dan bingung saat melihatnya tak sadarkan diri.


"Kenapa pula Atin tidak membawaku kembali saja ke kantor? malah meninggalkanku begitu saja," batin Tara kesal.


Tara juga merasa heran, kenapa malah dia yang tak sadarkan diri. Sedangkan Atin dalam kondisi baik-baik saja.


"Apakah waiters tersebut salah dalam memberikan minumannya? sepertinya memang minumannya tertukar, sehingga aku yang tak sadarkan diri," batin Tara kembali.


Tara juga tidak bisa melaporkan kejahatan dua pria itu, karena tak ada bukti kuat. Dua pria tersebut menutupi identitas mereka dengan mengenakan masker.


Tara meminjam telpon yang ada di ruang petugas CCTV. Dia menelpon salah satu anak buahnya untuk menjemputnya di hotel tersebut, serta meminjam uang cash sebesar seratus ribu untuk membayar waiters yang di mintai tolong, menabur serbuk obat tidur ke minuman Atin.


Tak berapa lama kemudian, anak buah Tara telah datang untuk menjemput Tara.


"Sial, semuanya hilang hanya dalam sekejap mata!" gerutu Tara dalam hati.


"Aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan! gagal total aku mendapatkan Cantika, tapi malah aku kena apes!" batin Tara mendengus kesal.


Tara meminta pada anak buahnya mengantarkannya ke rumah Laras. Dia ingin mencari benda berharga milik Laras, untuk dia jual untuk membeli ponsel baru.


Setelah Tara sampai di rumah Laras, dia lekas menelpon pihak bank, untuk memblokir semua kartunya karena khawatir di salah gunakan oleh dua orang yang mencurinya.


Tara sangat stres mengurus pencurian mobil, ponsel, serta semua surat-surat berharganya yang hilang di curi oleh.


Dia bahkan tak sempat pulang ke rumah Tia. Karena sibuk melaporkan kehilangannya pada aparat polisi.


Sementara Tia panik dan gelisah karena dua hari Tara tak pulang, dan juga nomor ponselnya tak bisa di hubungi.


"Mas Tara, kemana sih? kenapa pula nomor ponselnya tidak bisa di hubungi, kenapa pula dia tak menghubungi balik padanya?" batin Tia mendengus kesal.


Tia juga menelpon ke kantor, namun pihak kantor juga mengatakan jika sudah dua hari Tara tak datang ke kantor.

__ADS_1


*******


__ADS_2