Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kekesalan Tara


__ADS_3

Mona semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Tara.


"Mas, kamu ini kenapa? sepertinya marah sekali padaku? aku minta maaf jika perkataanku tadi menyakiti hatimu," mata Mona mulai berkaca-kaca.


"Kamu ingin tahu, kenapa aku seperti ini? gara-gara kamu dan papahmu yang memintaku buru-buru keluar dari rumah, Tia."


"Aku sampai gugup dan tak membawa sertifikat perusahaaan. Dan tanpa sepengetahuanku, sertifikat itu di salah gunakan! Tia menjual perusahaam expedisi milikku pada orang lain!"


Tara meluapkan emosinya pada Mona. Setelah itu dia melepas cengkeraman tangannya pada rahang Mona.


Tara pun duduk dengan napas tersengal-sengal karena emosi yang memuncak. Mona mencoba bangkit dari berbaringnya dan duduk di sebelah Tara.


"Mas, aku minta maaf atas nama papahku. Tolong redam emosimu, mas. Aku janji akan membantumu menyelesaikan permasalahanmu ini, mas," Mona mencoba meluluhkan Tara yang sedang emosi.

__ADS_1


"Dengan cara apa kamu akan menyelesaikannya? membeli kembali perusahaan expedisi itu? jangan mimpi, mereka tidak akan menjualnya kembali. Apa lagi perusahaan itu meraup keuntungan yang sangat besar."


"Perusahaan expedisi itu susah payah aku dirikan dari nol, dan sekarang sudah berkembang pesat. Bahkan niatku sebentar lagi akan membuat cabang dari perusahaanku ini."


Tara berkata bohong tentang perusahaan expedisi yang sebenarnya Intan yang membangunnya.


"Begini saja, mas. Jika kita tak bisa membeli perusahaan itu lagi, apa salahnya jika kita membangun perusahaan yang serupa," Mona memberikan sebuah saran.


"Kamu pikir mendirikan sebuah perusahaan tidak membutuhkan modal yang besar? sementara saat ini aku hanya memiliki tabungan yang tak seberapa. Waktu itu Tia meminta haknya yakni tabunganku, dia meminta cukup banyak." ucap Tara sudah mulai reda emosinya.


"Misalkan iya, aku bisa membuka kantor baru. Belum tentu seramai kantorku yang lama. Usaha jika dari nol itu sungguh susah cari pelanggannya," Tara menghela napas panjang.


"Mas, jangan putus asa dulu. Apa salahnya kita mencoba," kembali lagi Mona mencobs menghibur Tara.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi apakah kamu yakin, papahmu akan memberikan dana dalam jumlah yang sangat besar untukku memulai usaha baruku?" Tara menautkan alisnya merasa ragu mengingat sikap Delta begitu kasar padanya.


"Kamu nggak perlu khawatir, mas. Untuk yang satu ini biar aku yang maju. Aku yakin papah akan menuruti kemauanku," ucap Mona dengan sangat yakinnya.


Berbeda situasi di kantor expedisi, setelah kepergian Tara. Keano dan Intan sempat tanda tanya.


"Mah, sepertinya ada yang janggal dengan hubungan rumah tangga Tara dan Tiara. Padahal waktu itu, Tiara berkata jika Tara sendiri yang memintanya mencarikan pembeli untuk perusahaan ini." Keano menghela napas panjang.


"Hem, iya juga sih. Jika papah masih penasaran, kenapa nggak di telpon saja Tiara. Papah, bisa tanyakan langsung padanya, supaya tidak ada lagi rasa penasaran di hati, papah," ucap Intan memberikan saran pada Keano.


"Nggak juga, mah. Bagiku ini bukanlah hal yang terpenting kok. Cuma ada sedikit rasa penasaran saja, tapi nggak sampai ingin mengetahui sejauh mana rumah tangga mereka. Saat ini aku hanya mementingkan keluarga kecil kita." Keano mencolek hidung mancung Intan seraya terkekeh.


"Gombalnya mulai kelihatan nech, biasanya kalau seperti ini ada maunya." Intan menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Keduanya terkekeh di sela makan siang bersama.


*****


__ADS_2