Aku Madu Anakku

Aku Madu Anakku
Kumpul Keluarga


__ADS_3

Sejenak Yogi terdiam, mendengar celotehan dari Sinta.


"Apa mungkin, istriku menghianatiku?" batin Yogi meragukan semua ucapan dari Sinta.


"Mas, jika tak percaya lihatlah semua foto-foto ini." Sinta memperlihatkan foto-foto kebersamaan Mita dengan seorang pria.


"Sepertinya saat ini Mita sedang hamil, mas," kembali lagi Sinta berucap.


Setelah mendengar semua itu, Yogi lekas berlalu dari hadapan Sinta.


"Aku harus segera membuktikan, apakah istriku memang saat ini sedang hamil. Karena dia tak pernah memberitahu padaku tentang kehamilannya." Gerutu Yogi di dalam hati seraya terus melangkahkan kakinya menuju arah pulang.


Seperginya Yogi, Sinta menyeringai sinis.


"Sebentar lagi pasti terjadi perang dunia ke tiga, dan pastinya ini adalah suatu pemandangan yang sangat indah," batin Sinta seraya tersenyum sinis.


"Aku ingin melihat pertunjukan yang seru di rumah, Mas Yogi." Gerutu Sinta di dalam hati seraya melangkah menuju ke rumah Yogi.


Sementara saat ini Yogi telah sampai di depan pintu rumahnya. Mita lekas membukanya dan menyalami Yogi. Namun saat Yogi melihat perut Mita yang terlihat membesar, hati Yogi mulai panas dan teringat semua yang di katakan oleh Sinta padanya.


Terjadilah apa yang benar-benar di inginkan oleh Sinta. Yogi emosi dan pergi begitu saja membawa Atin yang saat itu masih berusia satu tahun.


Demikian cerita Yogi pada Mita di hadapan Atin dan Intan. Tak terasa keluar buliran bening dari pelupuk mata.


"Bangunlah, pak. Bapak tidak usah seperti ini, bangunlah." Bu Mita mencoba membangkitkan Bapak Yogi.


Yogi segera bangun dari bersimpuhnya, dan perlahan mengusap air matanya.


"Bu, apakah kamu sudah memaafkanku?" Bapak Yogi masih ragu.


"Iya, pak. Sudahlah jangan di bahas lagi, yang lalu biarlah berlalu. Mungkin memang itu sebagian dari rencana Allah. Walaupun seperginya bapak waktu itu, aku juga mendapatkan fitnah dari Sinta yang membuat aku harus terusir dari rumahku sendiri," berlinang air mata Mita saat ingat kejadian di masa lalu.


"Pantas, saat aku kembali ke rumah ibu sudah nggak ada. Dan pada saat itu, Sinta juga kembali lagi dengan mengatakan ibu pergi dari rumah bersama pacar ibu."


"Pada saat itu, ada salah satu temanku menyarankan supaya kita menyelesaikan dengan pikiran dingin. Dan salah satu teman menyarankan untuk kelak melakukan tes DNA saat anak yang waktu itu ibu kandung telah lahir."

__ADS_1


"Namun pada saat bapak kembali ke rumah, ibu sudah nggak ada. Bahkan bapak sampai bertanya ke para sanak saudara ibu, tapi tidak ada yang mengetahui keberadaan ibu juga. Hingga akhirnya bapak pergi ke rumah saudara bapak untuk menitipkan Atin, dan bapak memutuskan untuk berlayar kembali."


Demikian panjang lebar, Yogi bercerita pada semua yang ada di tempat itu.


"Bapak lupa, aku pernah mencoba untuk mengambil Atin tapi bapak sama sekali tak mengijinkan aku bertemu dengannya kan?" ucap Bu Mita mengingat masa lalu.


"Iya bu, itu pada saat bapak masih termakan hasutan Sinta," ucap Bapak Yogi.


"Sudah dong mengingat masa lalunya, daro tadi berdiri terus apa bapak dan ibu nggak cape?" sela Intan terkekeh.


Intan mengajak bapak dan Atin serta ibunya duduk di ruang tamu. Tak berapa lama saat mereka sedang duduk, datanglah Keano dan Kevin.


Ayah dan anak terhenyak kaget saat melihat adanya Atin dan Yogi di rumah Intan.


"Loh Tante Atin dan Kakek Yogi kok ada di sini? memangnya kenal sama mamah Intan?" tanya Kevin mengernyitkan alisnya.


"Mamah? bukannya Nak Keano masih sendiri?" Yogi menyela pertanyaan dari Kevin.


Intan menceritakan pada Keano dan Kevin jika Yogi dan Atin adalah ayah dan kakak kandungnya yang telah lama berpisah dan kini telah bertemu.


Setelah mendengar penjelasan dari Intan, baik Keano, Kevin, dan Yogi hanya berhooh ria.


Mereka mengobrol beramai-ramai di sela canda dan tawa. Namun tidak dengan Laras yang sedang murung di dalam kamarnya. Ketidak hadiran Laras menjadi perhatian dari Atin.


"Laras mana, Intan?" bisik Atin pada Intan.


Sejenak Intan menatap di sekeliling, dan dia baru menyadari jika tidak ada Laras di ruang tamu.


"Sepertinya di kamar, mba," bisik Intan membalas bisikan dari Atin.


"Aku mau ke toilet sebentar dan melihat kondisi Laras," bisik Atin pada Intan.


Intan hanya menganggukkan kepalanya, sementara Atin bangkit dari duduknya melangkah menuju ke dalam ruangan rumah Intan.


Atin melangkah menuju ke kamar Laras, dan dia mendapati Laras sedang menangis menatap foto pengantin dirinya bersama Tara. Sedangkan Risky sedang tidur nyenyak.

__ADS_1


"Laras, kenapa kamu nggak keluar bersama kami? di luar ada kakek, ingin bertemu denganmu," Atin menjatuhkan pantatnya di pinggir ranjang.


"Bude, sudah lama datang? maaf, aku nggak tahu jika ada bude." Laras lekas mengusap air matanya supaya tidak di ketahui oleh Atin.


Namun Atin sudah bisa menebak karena mata Laras sembab.


"Laras, pasti kamu habis menangis, iya kan? apa yang membuatmu sedih, si Tara?" tanya Atin menyelidik.


"Aku nggak menangis kok, budhe," Elak Laras.


"Kamu nggak usah berbohong, Laras. Kalau menurut budhe, pria seperti Tara nggak pantas kamu tangisi oleh air matamu yang sangat berhrga," Atin mencoba menghibur Laras.


"Budhe kok bisa bicara seperti itu? seperti sudah mengerti sifat, Mas Tara saja?" Laras mengerucutkan bibirnya.


"Kan ibumu cerita semua tentang suamimu," jawab Atin sekenanya.


"Tapi belum tentu juga itu ada benarnya, budhe. Bisa jadi wanita yang bersama dengan Mas Tara itu cuma saudaranya. Hanya aku saja yang telah salah paham padanya," Laras membela Tara.


"Ya sudah, jika pemikiranmu seperti itu. Sekarang kita ke ruang tamu, karena ada kakek. Dia kan belum pernah bertemu denganmu sama sekali," ajak Atin.


Dengan rasa malas, Laras bangkit dari pembaringan menuruti Atin. Mereka jalan berdampingan menuju ke ruang tamu.


Atin memperkenalkan Laras pada Yogi. Laras dan Yogi saling bersalaman. Tiba-tiba Yogi bertanya suatu hal yang membuat kaget baik itu Laras maupun Intan.


"Intan, dari tadi bapak kok nggak melihat suamimu?" tanya Yogi menatap menyelidik ke arah Intan.


Belum juga Intan sempat menjawab, Yogi tiba-tiba berucap kembali.


"Laras, suamimu juga nggak kelihatan? kakek juga inging berkenalan bukan hanya dengan suami ibumu, tapi juga dengan suamimu. Memangnya suami kalian sampai sore seperti ini belum pulang dari bekerjanya?" Yogi mengernyitkan alis menatap pada Intan dan Laras.


Intan hanya diam, begitu pula dengan Laras. Suasana hening seketika tanpa ada suara sepatah katapun.


"Kenapa kalian hanya diam saja?" Yogi semakin penasaran menatap Laras dan Intan.


*********

__ADS_1


__ADS_2