
.
.
"gosip hanyalah gosip, buktinya mereka baik-baik saja". batin Jessy tersenyum senang melihat Varel dan Shila semakin mesra
"kenapa om masih kurus? ". tanya Shila mengelus rahang Varel
"benarkah? padahal aku banyak makan sayang". jawab Varel mengelus rahangnya yang lain
Shila terkekeh, "bagaimana keadaan om? ".
"baik sayang". jawab Varel tersenyum lembut
Jessy mengerutkan keningnya mendengar pembicaraan Varel dan Shila seolah tidak bertemu berhari-hari saja.
"perasaan apa ini? kenapa aku malah merasa aneh?". batin Jessy menggeleng kepalanya membuang pikiran itu jauh-jauh
"mommy udah bisa Varel tinggal kan? ". tanya Varel dengan senyuman mengejeknya
"awas saja kamu meninggalkan mommy anak lampir". ancam Jessy
"ck.. !". Varel berdecak tak percaya mommynya menyebutnya anak lampir
"kenapa mommy menyebutku anak lampir? berarti mommy nya mak lampir? ". ucap Varel dengan datar
"bukankah kamu yang menyebutku mak lampir hah? sudah pasti kamu yang memulainya maka nya mommy menyebutmu anak lampir, ada apa denganmu? kenapa kamu seolah bertingkah mommy lah yang duluan menyebutmu lampir?". omel Jessy
Varel dan Shila saling pandang lalu Shila dengan cepat menghentikan pembicaraan mereka, dan tak lama Vivi datang untuk menjaga Jessy sebelum Ramon tiba.
Vivi menganga melihat Varel, "oh.. jadi ini Tuan Muda Varel yang asli? Shila menggenggam tangannya? ya Tuhan mereka benar-benar mirip tidak ada bedanya entah bagaimana cara Shila tau mereka berbeda". batin Vivi
"ada apa Vivi? kenapa kau diam? panggilkan Shila kembali! ". teriak Jessy
"eeh.. Nyonya.. ". Vivi dengan cepat menggunakan keahliannya yaitu membujuk orang.
.
Varel membawa Shila ke Rumah masa depan mereka, "kenapa sayang? kenapa kamu menatapku seperti itu? ".
"kalian berbeda tapi kenapa mereka semua terkecoh ya? ". tanya Shila penasaran
Varel mengecup sayang punggung tangan Shila, "hanya kamu yang tau perbedaan kami Maharani, aku hanya minta kamu selalu mengenaliku lebihnya aku tidak peduli lagi".
__ADS_1
"bagaimana dengan mommy om? ". tanya Shila penasaran
"kenapa aku harus memikirkannya? bukankah Ariel juga anak mommy dan papiku? sudah sepantasnya dia merasakan kasih sayang mereka, aku juga ingin membuktikan pada Ariel hidup kami tidak sebahagia yang dia pikirkan". jawab Varel sambil menatap penuh cinta pada Shila
"iya om". jawab Shila membenarkan
"ayo masuk..! ". ajak Varel dibalas senyuman oleh Shila
Varel dan Shila bergandengan tangan masuk ke Rumah masa depan mereka, seperti pasangan suami istri saja Shila memasak untuk Varel sedangkan Varel hanya tukang mengganggu Shila memasak saja.
Shila melihat jam tangan di lingkar tangan Varel, "om kenapa tidak berganti sesekali jam tangannya? ". tanya Shila penasaran
"aku sudah bilang kan? aku tidak pernah melepaskan jam tangan ini bahkan saat aku mandi sekalipun". jawab Varel memeluk Shila dari belakang.
Shila tersenyum sambil menggeleng kepalanya, "ada hal yang ingin aku ceritakan sama om, om mau dengar? ". tanya Shila
"apa sayang? jangan membuatku takut". Varel
Shila tersenyum, "lebih baik kita makan dulu ya? ".
Varel terpaksa mengangguk karna perutnya memang sudah kelaparan, Varel bahagia dengan hidupnya sekarang kapan lagi dirinya bisa menganggur tidak mengurus Perusahaan sebab ada Ariel yang menggantikannya, selama ini Varel melihat hasil kerja Ariel yang tak berbeda jauh dengan dirinya saat bekerja.
Varel sudah berapa kali mengatakan, ia rela berbagi dengan Ariel bahkan apapun akan Varel berikan jika Ariel menginginkannya tapi tidak bagi Varel satu hal yaitu Shila, Varel tidak akan merelakan kekasihnya diberikan pada pria manapun walaupun pada saudara kandungnya sendiri.
.
"iya om.. dia tau cerita sebenarnya, itu sebabnya mommy masuk rumah sakit". jawab Shila
"ternyata apa yang papi takutkan memang terjadi, mommy tidak bisa diingatkan memori 27 tahun yang lalu". gumam Varel mengangguk pelan sambil memijit pangkal hidungnya.
"Om Ariel memang batu Om, aku tidak suka dengan caranya yang selalu berusaha menjadi diri om didepanku". gerutu Shila
Varel tersenyum, "aku mau kamu buat dia berubah sayang, aku tau dia batu tapi yang penting bagiku kamu mengenaliku itu saja dan tau perbedaan kami"
Shila tersenyum, "tentu saja aku tau perbedaan kalian".
"bagaimana caramu membedakan kami sayang? ". tanya Varel penasaran
"cara menatapku". jawab Shila
"bagaimana cara menatapnya memangnya? ". tanya Varel penasaran
"obsesi, caranya menatapku seperti itulah yang aku tangkap". jawab Shila
__ADS_1
"tapi aku juga terobsesi padamu sayang". ujar Varel heran
Shila terkekeh, "beda om, Om memang menatapku seperti itu tapi tidak sedominan itu".
"benarkah? aku tidak tau mengerti caramu membedakan kami bahkan mommy dan papi saja terkecoh". gumam Varel
"itu karna Om Ariel juga darah daging mereka om, sedangkan om juga anak mereka, mana mungkin mereka tau perbedaannya". jawab Shila
Varel tersenyum, "cepat atau lambat mereka akan tau kebenarannya, untuk itu mommy harus kuat menghadapi semuanya".
"kenapa setiap om bertemu mommy selalu bertengkar? ". tanya Shila penasaran
"sejak aku diculik saat kecil mommy sering menangis setiap malam, aku tidak tau alasannya tapi akhirnya aku mengerti mommy selalu menyalahkan dirinya sendiri, karna itulah aku sering mengajaknya bertengkar hingga dia bosan dan menginginkan anak perempuan". jawab Varel
Shila terkekeh mendengarnya, "bagaimanapun Mommy tetaplah mommy om juga, jangan terlalu menyakitinya ".
"iya sayang, tapi sejak itu juga mommy tidak lagi menangis setiap malam dan Papi ku yang tau perubahan itu juga ikut-ikutan mengajakku bertengkar, kami jarang akur sayang". Varel
"om tidak merindukan masa-masa itu? ". tanya Shila
"tentu saja tapi Ariel lebih membutuhkannya, entah kesulitan apa yang dilaluinya selama ini yang pasti dia tidak pernah bahagia".
"maksud om? ". tanya Shila penasaran
"sejak kecil dia menderita di dunia mafia bahkan ginjalnya sempat di jual ". Varel
"apaaa? ya Tuhan.. mengerikan sekali". Shila syok mendengarnya membayangkan organ tubuh dijual paksa oleh orang jahat.
"hmm.. dia berjuang sendiri hingga ginjal baru ia dapatkan barulah dia kembali untuk balas dendam, dia mengira mommy dan papi membuangnya begitu saja". jelas Varel
Shila membekap mulutnya dengan tatapan ngeri
"aku tidak pernah mendengar hal-hal kejam seperti itu tapi ternyata dunia mafia memang kejam seperti yang di katakan orang-orang ya". gumam Shila
"jadi bagaimana menurutmu sayang? apa dia tidak pantas balas dendam pada kami? ". tanya Varel ke Shila
Shila bangkit dari duduknya lalu berjalan mengitari meja dan duduk dipangkuan Varel, Varel melingkarkan lengannya di pinggang Shila dan memeluknya manja seperti anak kecil.
"aku pikir om Ariel jahat karna dia memang jahat, pantas saja hatinya seperti batu ternyata karna kehidupan kejam yang dia alami, aku akan menjadi temannya Om, demi om aku akan menyadarkannya bahwa orang-orang yang dia benci tidaklah sejahat yang dia pikirkan". Shila
Varel mengangguk-ngangguk dipelukan Shila.
.
__ADS_1
.
.