Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
kabur saja


__ADS_3

.


.


"dimana Maharani? ". gumam Varel


"dimana Vivi? ". gumam Ariel


mereka sama-sama menggeledah kamar-kamar itu tidak ada siapapun didalam sana, penjagaan sedang melonggar karna akibat peperangan di rumah itu banyak bawahan Ariel yang terluka.


alhasil mereka uring-uringan mencari Shila dan Vivi, kedatangan Frans dan Nando membuat Frans dan Nando melempar pandang melihat kesibukan Ariel dan Varel seolah sedang mencari sesuatu.


"abang sedang nyari apa? ". tanya Frans


"Maharani". jawab Varel


"Vivi". jawab Ariel bersamaan dengan Varel tadi


"tadi aku lihat pria berkumis dan Pria berjanggut yang menembak mati Liang Roy ada di Pasar pusat, keliatannya mereka begitu sibuk". jawab Frans


"apaaa? ". Varel dan Ariel menyahut serentak


"kapan Vivi keluarnya? ". gerutu Ariel segera berlari meninggalkan Frans dan Nando


"kenapa tidak bilang dari tadi hah? ". bentak Varel


"bukannya aku baru datang ya bang? bagaimana caraku tau kalau mereka pergi tanpa izin abang". jawab Frans dengan tampang polosnya


"Kau Nan? ". Varel menunjuk wajah Nando


"saya sudah katakan pada Nona untuk pulang Tuan tapi mereka tidak mau mendengarkan saya, mereka bilang datang sendiri-sendiri pulang juga sendiri-sendiri". jawab Nando membuang muka


"Siall...! ". umpat Varel berlari meninggalkan Nando dan Frans


"kapan abang bicara sama mereka? ". tanya Frans penasaran


"bukankah dari cara mereka melarikan diri dari kita tadi sudah jelas?". kekeh Nando


"abang pantas jadi Asisten CEO". puji Frans mengagumi kepintaran Nando


Nando mengangguk sombong,


Varel mendatangi hotel yang dekat dengan tempat tinggal mereka saat ini, dilihat dari CCTV ternyata Shila dan Vivi yang menyamar memang tinggal di hotel itu tapi salah satu pekerja mengatakan kedua orang itu sudah chek out beberapa menit yang lalu.


Varel mengumpat pelan, ia berlari lagi mencari taksi hingga ia tiba di bandara mencari-cari kekasihnya.

__ADS_1


"kenapa kau disini? ". tanya Ariel


"aku dapat kabar dari pihak hotel kalau mereka sudah pergi beberapa menit yang lalu". jawab Varel


"aku juga diberi tau oleh salah satu penjual boneka yang memberikan fotoku padanya, ckkk.. dia benar-benar marah besar". decak Ariel


"ini semua salahmu". ketus Varel


"diam kau..! kau juga salah". balas Ariel tak kalah ketus


"apa kau bisa diam? " . geram Varel


"berisik! ". ketus Ariel


Ariel dan Varel masih sempat-sempatnya berdebat mencari Shila dan Vivi, sudah berapa kali mereka mencoba menghubungi nomor Shila, Vivi tapi panggilan ke nomor Ariel dan Varel telah dialihkan, tapi saat mencoba nomor hp orang lain aktif namun tidak diangkat oleh Shila maupun Vivi.


sepertinya kedua perempuan cantik itu benar-benar marah hingga berani mengerjai dan membuat kedua pria itu uring-uringan seperti orang gila mencari orang hilang saja.


.


Shila dan Vivi telah memijakkan kakinya di Bandara Republik Indonesia, mereka bergandengan tangan dengan penyamaran seperti laki-laki itu walau ditatap aneh oleh beberapa orang Shila dengan sopan menjawab mereka kakak adik yang baru saja mencoba merantau dari negeri jauh dan tidak bisa berpisah satu sama lain.


"kita kemana Kak? ". tanya Shila


"kita lihat ke Mansion ya? aku penasaran". jawab Vivi


Shila membawa beberapa pelayan ke Rumah Sakit dan membayar semua biaya pengobatannya, Vivi menghubungi Jessy yang ternyata sedang berada di Rumah Sakit yang sama merawat kedua satpam yang masih koma.


"maafkan Mommy Jessy ya? Mommy pasti bukan sengaja mengabaikan kalian tapi karna keadaan Pak Joko dan Pak Anton masih kritis". ucap Vivi memohon maaf pada semua pelayan-pelayan keluarga nya


"iya Nona kami mengerti, kami juga hanya bisa bantu doa". jawab mereka serentak.


Shila dan Vivi mendatangi Jessy ternyata Jessy dan Ramon tampak begitu sibuk melihat ke kaca memastikan keadaan Joko dan Anton baik-baik saja.


"mommy? ". sapa Shila dan Vivi serentak


sontak saja Jessy dan Ramon menoleh lalu melihat Shila dan Vivi ada didekat mereka saat ini bukan di dinegara lain.


"kenapa kesini nak? kita tidak tau kapan bahaya datang". tanya Jessy memeluk Shila dan Vivi bersamaan.


"kami sudah membasmi dalangnya Mom". jawab Vivi dan Shila kompak


Jessy dan Ramon menganga lebar mendengar cerita heboh Vivi yang tak heran lagi mereka ketahui begitu bawel, itu lah pesona Vivi hingga Ariel jatuh cinta pada Gadis itu.


tak berapa lama kemudian keluarga Joko dan Anton tiba dalam keadaan tergesa-gesa dari kampung, mereka menangis melihat keadaan suami mereka dibalik kaca itu, bahkan anak-anak mereka pun menangis.

__ADS_1


Ramon tak henti-henti meminta maaf begitu juga Jessy, istri dan anak Joko serta Anton tak menyalahkan Jessy dan Ramon asalkan suami mereka sembuh dan biaya pengobatan tidak dipikirkan lagi oleh mereka, jujur saja mereka tau itu sudah resiko pekerjaan yang harus diterima.


mau pekerjaan mudah, gaji besar tapi tidak ada resiko berbahaya itu tidak mungkin, itu sebabnya mereka hanya bisa berdoa.


Shila dan Vivi menemani Jessy serta Ramon yang setia menunggu pekerja nya, betapa terharunya keluarga kedua Satpam itu mendapat perhatian dari atasannya padahal dibayarin biaya Rumah Sakitnya saja sudah syukur tak perlu merepotkan diri untuk tinggal di Rumah Sakit hanya demi seorang pekerja kecil.


"ooh.. pak Joko dan Pak Anton sudah lama kerja sama Mommy dan Papi ya? ". Shila mengangguk-anggukan kepalanya


"udah berapa tahun Pi? ". tanya Vivi


"mungkin udah 20 tahun juga". jawab Ramon


"pantas saja Papi dan Mommy khawatir dengan mereka". senyum tulus Shila


"berkat mereka kami bisa melarikan diri nak, apa menurutmu mommy orang yang tidak tau balas budi hmm? ". tanya Jessy lembut


Shila nyengir, "hehehe".


"kenapa kalian hanya pulang berdua? ". tanya Ramon penasaran


"iya nak..! dimana Ariel dan yang lainnya? apa mereka semua ada di Mansion? ". tanya Jessy pun baru menyadari sesuatu


Shila membuang muka sedangkan Vivi menekuk wajahnya tak suka,


"ada apa nak? apa yang terjadi? ". tanya Ramon hingga Jessy terdiam mengingat kata-kata Shila sebelumnya.


"kalian masih marah sama mereka? ". tanya Jessy tiba-tiba


Ramon seketika kepalanya berdenyut seolah merasakan kekhawatiran Ariel dan Varel di negara sana, Ramon pun mengomeli Vivi dan Shila seperti emak-emak namun dibela oleh Jessy


"tau apa kamu tentang perasaan Perempuan hah? kalian laki-laki mau enaknya aja tidak tau apa-apa tentang perasaan kami". marah Jessy


Ramon menjatuhkan rahangnya, "kamu membela mereka sayang? bukankah kamu seharusnya tau kalau mereka hanya khawatir itu sebabnya melakukan hal itu".


"apa salahnya bilang-bilang sama Vivi Pi". jawab Vivi


"tidak ada salahnya untuk jujur kan? kenapa harus menipu? ". kesal Shila


"kalau tidak tau lebih baik Papi diam aja tidak usah ikut campur". serang Jessy


"ya Tuhan..! aku tidak mengerti pikiran perempuan yang tidak mau salah". gerutu Ramon yang kini malah terkena getah akibat membela putranya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2