
.
.
seperti anak kecil Shila memakai jas kebesaran Varel, bodo amat kebesaran yang penting Shila tidak kedinginan.
Varel melirik Shila yang terlihat begitu membutuhkan jas itu, "kau benar-benar kedinginan ya? dasar kampungan? ".
Shila mendengus, "om tau aku kampungan kenapa pake tanya? wleekk! ".
Varel menggeleng kepalanya melihat sifat kekanakan Shila, Shila hidup didesa tidak pernah menggunakan AC karna di Sumatera barat tidak pernah panas tempat tinggal Shila dulu yang dikelilingi banyak pohon dan gunung, tapi disini Shila kedinginan sebab AC nya memang terlalu dingin bukan karna alam.
"apa yang kau lakukan? ". tanya Varel melihat Shila mengelap pialanya dengan jas nya yang super mahal seolah itu adalah kain lap saja.
"apa? aku mengelap debu di pialaku om". jawab Shila dengan santainya.
"kau tidak tau harga jas ku? kenapa kau jadikan lap piala norakmu itu? ". tanya Varel dengan dingin
Shila melihat jas Varel, "bukannya om orang kaya raya ya? aku baru tau ada orang kaya yang perhitungan". gumam Shila dengan polos hingga Varel kehabisan kata-kata.
"terserahmu". decak Varel memilih membiarkan Shila melakukan kesenangannya.
Shila tersenyum lebar lalu dengan senang hati ia mengelap piala pertamanya dengan jas mahal Varel.
Varel dan Shila tidak sadar dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang, bahkan kegiatan Shila mengelap pialanya itu di rekam oleh Sutradara hingga terlihat oleh masyarat luas di luar sana.
mereka berlomba-lomba memuji Shila karna terlalu cantik membuat Varel membiarkan Shila mengelap pialanya dengan jas seharga ratusan juta itu, jika jas itu milik mereka pasti sudah pingsan berdiri.
benar kata orang banyak perempuan cantik itu sangat beruntung dari segi wajah dan segi percintaan.
Nando pun menganga melihat ke arah Varel yang tampak acuh dengan perilaku Shila, bukankah Varel memesan Jas itu jauh-jauh hari tapi mengapa Varel membiarkan Shila menggunakan jas itu untuk mengelap piala Shila yang tidak sebanding dengan harga Jas Varel itu.
.
.
"apaa?? harga jas ini 160 Juta? ". pekik Shila dengan mata melotot kaget
"Shila kamu baru tau? lalu bagaimana Tuan Muda membiarkanmu memakai jas itu untuk dijadikan lap pialamu ? ". tanya Vivi juga ikutan kaget karna Shila tidak tau harga jas yang di kenakan Shila saat ini
"aku akan cuci sampai bersih! haha.. bisa bahaya kalau om itu marah". tawa hambar Shila segera keluar dari mobil dan berlari kecil masuk ke Mansion keluarga Varel.
"Shila.. Shila.. dia sangat cantik dan terlihat sangat pintar tapi masalah hati dia tidak mengerti, lucu sekali, bagaimana dia bisa tidak berpikir kalau dia bisa saja menjadi Nona muda dimansion ini, Shila benar-benar berbeda". kekeh Vivi merasa kagum dengan pribadi Shila yang sederhana.
.
"om? ". Shila menusuk-nusuk lengan Varel
__ADS_1
Varel melirik Shila, "apa lagi? kau mau jas ku yang mana lagi? ". sindir Varel
Shila nyengir kuda, "kenapa om tidak bilang harganya sampai ratusan juta? ".
"kau malah menyalahkanku? kau fikir barang yang melekat di tubuhku ini barang murahan? seharusnya kau bisa berpikir harga jasku itu sangat mahal, apa matamu berkatarak? ". ketus Varel
Shila mengerucutkan bibirnya, "iya maaf om..! aku akan cuci ini ya? ".
"tidak usah buang saja". tolak Varel
"kenapaa?? om mau mubazir?? om tidak memikirkan mereka yang kekurangan uang? jika om seperti itu kenapa uangnya tidak di gunakan untuk orang fakir miskin? ". marah Shila tiba-tiba
"kau mau cuci seperti apa jas itu? kalau dengan mesin mending buang saja". balas Varel dengan santainya.
"kalau begitu aku cuci tangan, awas aja om buang ya? aku bakar semua sepatu dan jam tangan limited om itu". ancam Shila dengan serius membuat Varel melihat ke arahnya.
"apa? berani kau membakarnya? apa kau tidak tau semua harganya? ". Marah Varel balik
"maka nya jangan mudah bicara seperti itu". peringatan Shila menunjuk-nunjuk wajah Varel hingga Varel menggeleng kepalanya melihat perubahan wajah Shila.
"terserah kau saja". acuh Varel malas menanggapi Shila yang kekanakan itu
Shila mudah marah juga mudah tenang, entah jiwa seperti apa yang ada di dalam diri Shila itu.
.
Varel melirik Shila yang tampak sibuk di kamar mandi setelah bolak-balik keluar mansionnya menggunakan mobil Shila.
Shila menyahut, "sebentar lagi om! sabar napa? besok pagi bisa kering".
"kenapa lama sekali? ". tanya Varel
"tidak boleh pake mesin cuci kan? nanti baju om rusak". sahut Shila
"terserah kau saja.. kau buang pun tidak masalah". gerutu Varel untuk pertama kalinya.
.
.
"kamu tidak bekerja hari ini sayang ? ". tanya Jessy melihat Shila tengah berpakaian santai memegang ember layaknya seorang pembantu cantik.
"hehe iya .. Tante..! jemuran dimana tante? ". tanya Shila
"kamu cuci baju sayang? siapa yang memerintahkanmu cuci baju? ". tanya Jessy dengan marah seketika
"tidak Tan.. aduh gimana ya? gini tan, tadi malam Shila tidak sengaja mengotori jas mahal Om Varel, bukannya di suruh cuci malah disuruh buang, Shila marah-marah Tante, mentang-mentang dia banyak uang enak aja nyuruh jasnya seharga ratusan juga dibuang". cerocos Shila
__ADS_1
Jessy menganga melihat ember yang di letakkan dipinggang Shila, "kamu mencucinya sayang? kenapa tidak dibuang aja? ".
"issh.. Tante sama aja". jawab Shila mengerucutkan bibirnya berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Jessy tertawa seketika, bagaimana ia bisa marah jika Shila bertingkah seperti itu, Jessy hanya tidak mau Shila kelelahan harus mencuci pakaian padahal perempuan kelas atas tidak pernah mencuci pakaian.
.
Varel mencium bau Jas yang telah kering di berikan Shila.
"om pake ya? cantik dan wangi loh". pinta Shila tersenyum lebar seperti anak kecil.
"aku mau keluar kota Bocah..! kau tidur sendiri saja beberapa hari ini". kata Varel sambil merentangkan tangannya.
persis seperti suami istri, Shila memasangkan Jas yang telah ia bersihkan dan kering ke tubuh Varel, Varel suka wanginya.
"ini wangi apa? ". tanya Varel
"om suka deterjen buatan ku? ". tanya Shila berbinar.
"buatanmu sendiri? ". tanya Varel tak percaya
Shila mulai berceloteh tentang alasan dirinya bisa membuat sabun, sampo dan deterjen sendiri, dari bahan-bahan alami.
"apa kau mengizinkan aku mengambil idemu? aku ingin membuatnya dan akan ada hasil untukmu". kata Varel tiba-tiba jiwa bisnisnya muncul
Shila ternganga mendengarnya, "hah? kok bisa? ".
"kok bisa? kau tidak mau uang? aku suka wangi jas ini". Varel berdecak
"hehe.. maaf om.. iya.. deh, terserah om aja aku tinggal terima uangnya kan?". tanya Shila
Varel mengangguk
"kalau begitu nama produknya harus Paramastri". kata Shila membuat Varel melihat ke arahnya.
"aku suka wanginya bukan berarti aku membuatkanmu produk atas namamu". kata Varel dengan malas
"pokoknya buatkan atas namaku tapi penerbitnya perusahaan om, aku hanya ingin namaku ada disana sebagai rasa bangga ku ide ku ada disitu". jawab Shila
Varel terdiam, "baiklah..! "
Shila tersenyum senang.
Varel mengendus jas nya yang memang sangat segar, entah bahan alami apa yang Shila butuhkan hingga bisa menciptakan wangi sesegar itu.
.
__ADS_1
.
.