Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
berdua


__ADS_3

.


.


Vivi melihat kearah samping dimana ada Ariel duduk santai di Ruang tamu, "Tuhaaan...! kenapa aku harus mengalami hal ini? apa salahku?". batin Vivi


Ariel melihat Vivi yang termenung didepan pintu menatap ke arah luar, "sedang apa kau disana? ".


Vivi terlonjak kaget lalu segera menutup pintu dan menjawab, "tidak apa Tuan, saya hanya ingin ikut dengan adik saya". jawab Vivi berbohong


"kalau begitu kita ikuti saja mereka". ujar Ariel dengan santainya


"apa? ". Vivi menatap Ariel dengan tatapan tak percaya


"kenapa kau keliatan syok sekali? apa ada yang salah dengan kata-kataku? ". tanya Ariel


"Ya Tuhan.. apa dia memang sejenius yang dikatakan? apa dia tidak tau wajahnya itu mirip sekali dengan Tuan Varel? dia bodoh atau bagaimana hingga ingin ikut dengan mereka? itu sama saja sengaja mencari masalah". batin Vivi


"kenapa kau jadi pendiam? bicaralah jangan mengoceh di dalam hati". kata Ariel dengan datarnya


Vivi membelalak membekap mulutnya, "apa dia tau aku ribut dalam hati? " . batin Vivi


"bicaralah aku bilang jangan mengoceh dalam hati". titah Ariel


"eeeh..? t.. tidak ada Tuan". elak Vivi


"ckk.. cepatlah! aku mau lihat kampus itu juga". Ariel


"apaa? jadi kita ehh..? Tuan dan saya beneran akan mengikuti mereka? ". tanya Vivi


"jadi?? menurutmu aku tinggal? apa yang aku lakukan di rumah sekecil ini? tidak ada yang menarik sama sekali". kata Ariel dengan dingin


"eeh..? t. tapi..? wajah...? hmm..? ". Vivi berbicara dengan gugup melihat wajah Ariel.


"ada apa dengan wajahku? ". tanya Ariel


"kau pikir wajahku begitu jelek hingga harus di tutupi? ". ketus Ariel


"maaf tuan, saya tidak jadi pergi". kata Vivi dengan datar lalu pergi ke arah dapur.


"heii..? kenapa tidak jadi?? ". Ariel berdiri lalu berlari mengikuti Vivi ke dapur.


"apa Tuan tidak tau wajah Tuan itu benar-benar mirip dengan Tuan Varel, bagaimana jika mahasiswa/i disana pada pingsan melihat Tuan seperti itu? bukan karna wajah Tuan jelek tapi karna wajah Tuan itu mirip dengan penguasa fox Group". gerutu Vivi yang tidak tahan lagi mengoceh dalam hati.

__ADS_1


"aku memang penguasa Fox Group". jawab Ariel menahan senyumnya.


"siapa yang bilang anda penguasa fox Group? mereka semua memanggil Tuan disana Siapa?? Tuan Muda Varel atau Tuan Muda Ariel? ". tanya Vivi dengan kesal


"Tuan Muda Varel". jawab Ariel


"itulah sebabnya Tuan, kenapa Tuan pura-pura tidak mengerti? wajah kalian mirip hingga bisa menipu semua orang, sekarang Tuan mau datang ke kampus adik saya untuk memamerkan wajah itu? bukankah Tuan tau Shila dengan Tuan Muda Varel ada disana? saya tidak mau mengambil jalan pusing, lebih baik disini saja". Vivi menyerocos tanpa rem.


"aku mau kita ambil jalan pusing itu". kata Ariel sambil menahan senyumnya


mendengar ocehan Vivi membuatnya tersenyum, mengapa bisa begitu? sebelumnya Vivi selalu diam padahal sejak saat itu Vivi tipikal gadis yang imut dengan mulutnya yang suka mengoceh panjang dalam sekali nafas, sungguh mengagumkan dan jujur saja hal itu sangat menggemaskan.


Pria pendiam tak banyak bicara seperti Ariel memang menyukai gadis yang mengoceh atau suka berbicara, entahlah mengapa Ariel suka gadis yang bawel.


Vivi hanya menatap kesal ke arah Ariel, peduli amat dia penguasa atau tidak yang penting saat ini Vivi tidak sedang bekerja.


"saya tidak mau ambil jalan pusing itu Tuan, berhentilah berdebat denganku". kesal Vivi yang tidak tahan lagi dengan tingkah Ariel yang mengajaknya ke kampus Vika.


"ayo ikut..! ". Ariel menarik tangan Vivi


"tidak mau". tolak Vivi memegang pilar didekatnya dan memeluknya dengan erat walau hanya sebelah tangan.


Ariel melihat kebelakang dan tak kuasa menahan senyum melihat Vivi seperti monyet memeluk Pilar itu dengan tangan melingkar, kaki Sebelahnya juga melingkar memeluk pilar itu.


Vivi mengomel pelan, "biarkan aku jadi monyet sebentar, aku tidak mau ambil jalan pusing itu apa jadinya jika media meliput berita tentang kalian? disana ada orangtua nya yang seorang reporter, tidak.. tidak.. Aku masih mau liburan dengan adikku, bisa gawat jika Tuan aneh ini datang kesana tanpa mau menutupi wajahnya".


Vivi menautkan kedua alisnya merasa tidak ada suara, "apa dia sudah pergi? ". gumam Vivi pelan lalu memutar kepalanya secara perlahan ke arah samping.


"aaahhh". kaget Vivi saat menoleh dirinya bersitatap dengan Ariel yang begitu dekat dengannya seolah sengaja meledeknya.


Ariel dengan cepat menarik pinggang Vivi yang hampir jatuh hingga masuk dalam pelukannya, "kau selalu berteriak? apa tenggorokanmu baik-baik saja?". senyum meledek Ariel.


Vivi membulatkan matanya sambil membekap mulutnya,


"sekarang kau melototiku?". tanya Ariel


Vivi memejamkan matanya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Ariel.


"maaf Tuan, anda tadi mengagetkanku karna terlalu dekat-dekat". jawab Vivi dengan kesal karna bukan salahnya menjerit seperti itu.


Ariel terkekeh malah membuat Vivi semakin membelalakkan matanya,


"Tuhan...? kenapa aku bisa berada disini? ku harap aku bisa menghilang ke kutub selatan". gerutu Vivi dengan pelan namun Ariel mendengarnya.

__ADS_1


"kau ngapain ke kutub selatan? ". tanya Ariel


Vivi membekap mulutnya lalu memutari pilar didekatnya dan berlari meninggalkan Ariel yang memperhatikan cara Vivi melarikan diri darinya lewat jalan pusing kalau menurut Ariel.


"kau mau kemana? ". tanya Ariel


"mau ke kutub selatan". jawab Vivi dengan nada kencang lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintunya dengan kuat hingga Ariel tertawa.


"dasar perempuan aneh". kekehnya pelan


.


Vivi menatap datar ke arah depan dimana dirinya dipaksa oleh Ariel datang ke kampus Vika yang sedang ada seminar dengan dosen kampus juga.


Vivi melirik Ariel yang memakai topi putih dan masker hitam menutupi wajah tampannya, "kenapa Tuan Ariel ingin kesini? apa dia sedang mencari jodoh dari kampus ini? aaah.. iya juga ya?? ya ya bisa saja bukankah kampus ini adalah kampus ternama di Bandung? pasti banyak perempuan cantik". batin Vivi


"kau mengoceh apa lagi? ". tanya Ariel melirik ke arah Vivi


"eeh..? tidak ada Tuan, hanya berpikir gadis-gadis kampus disini sangat cantik dan sangat keren". jawab Vivi tersenyum


"ckkk... 90% mereka semua wanita". jawab Ariel berdecak pelan mengetuk kening Vivi


Vivi meringis mendapat serangan itu, "bagaimana mungkin? mereka seumuran dengan Shila dan Vika, tentu saja gadis". bela Vivi tak terima sambil mengusap-ngusap keningnya.


"gadis dari mana heh? kau lihat saja ciri-ciri yang aku sebutkan". Ariel merangkul Vivi yang terlihat kesal


Vivi memutar matanya ke arah gadis-gadis cantik itu sambil mengamati bentuk tubuh mereka sesuai intruksi Ariel hingga matanya melebar kaget.


"ja.. jadi mereka? ". Vivi membekap mulutnya tak percaya kebenaran itu.


"kau menyadarinya? itu sebabnya mereka tidak ada yang gadis hanya beberapa saja yang gadis". Ariel melepaskan rangkulannya perlahan sambil tersenyum tipis melihat wajah Vivi yang memucat saat tau kebenarannya.


"a.. adik saya bagaimana Tuan? ". tanya Vivi dengan cemas


"dia masih murni". jawab Ariel


Vivi lega mendengarnya lalu menatap ke semua anak-anak kampus itu dengan teliti hingga ia bisa melihat perbedaannya bahwa perempuan cantik dikampus itu jarang ada yang masih gadis.


"apa Tuan Ariel memperhatikan bentuk tubuh semua perempuan? ahhh.. dia keliatan cuek dan dingin pada kenyataannya matanya keranjang juga". batin Vivi melirik Ariel disampingnya lalu kembali melihat ke arah lain.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2