Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
apa??


__ADS_3

.


.


di tempat lain


Ariel menatap sinis Desi yang tengah berjalan mendekatinya, dan Nando hanya diam dengan wajah datarnya.


"Tuan?". sapa Desi dengan senyum termanisnya


"apa kau kurang kerjaan?". tanya Ariel dengan nada dingin


"kenapa Tuan bisa ada di kota ini? apa Tuan sedang mengawasiku? ". tanya Desi dengan raut wajah tak tau malunya ia tersenyum manis


Nando melihat arah lain berusaha menahan tawanya sedangkan Ariel terlihat tidak terpengaruh sama sekali.


"kenapa kau bisa berpikir gila seperti itu? apa kau butuh Psikiater? ". ejek Ariel dengan dinginnya


"tidak Tuan, saya sangat sehat dan Anda tidak perlu malu terhadap saya apapun tujuan anda saya mengerti". kata Desi menyibakkan rambutnya kebelakang.


Ariel mendecih lalu tak sengaja dirinya melihat gadis sederhana yang sedang bersama gadis sederhana lainnya, tawa gadis itu begitu manis dan terlihat menggemaskan saat tertawa sudut bibir Ariel terangkat, ia berdiri tegak dan berjalan ke arah Desi tentu saja Desi begitu besar kepala.


"apa yang dilakukan Tuan Ariel? ". gumam Nando dengan was-was


"minggir! ". Ariel tiba di hadapan Desi yang memejamkan matanya


Desi membuka matanya dan terpana melihat wajah tampan Ariel dari dekat,


"kulit Tuan halus sekali". gumam Desi hampir meneteskan air li*rnya melihat betapa tampannya Ariel


Ariel mendorong tubuh Desi ke samping,


"aahh! ". Desi terpekik kaget ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang sedang memakai heels hingga akhirnya ia terduduk tak elit.


Nando tertawa lalu mengikuti Ariel mengabaikan wanita itu, Desi yang terduduk memaki Ariel namun terdengar bisik-bisik beberapa pengunjung Mal tanpa malu memotretnya.


Desi tentu memasang wajah baiknya, "maaf ya? karna memakai heels aku tersandung dan lantainya juga licin". kata nya dengan lembut sambil menebarkan senyum termanisnya


"hati-hati Desi, bukankah kau seorang model? tubuhmu harus dijaga supaya bersih dari bekas luka".


"aah.. terimakasih! terimakasih". ucapnya senang namun dalam hatinya menyumpah akan membuat Pria penguasa Fox Group itu tunduk padanya.

__ADS_1


"anda mau kemana Tuan? ". tanya Nando


"diamlah, ikuti aku tanpa bersuara". jawab Ariel melirik tajam ke arah Nando


Nando mendengus dan mengikuti kemana Tujuan Ariel, Ariel berjalan tenang mengikuti gadis sederhana itu yang tak lain adalah Vivi.


Ariel tidak suka gadis bar-bar tapi menyukai gadis imut yang bisa membuatnya tersenyum, sejak Vivi menabraknya hingga masuk kepelukannya hari itu Ariel ingin marah tapi saat dirinya mendengarkan cerocos gadis blak-blakan dan cerewet itu membuat hatinya sedikit terhibur, namun nyatanya gadis cerewet itu begitu takut padanya hingga sering melarikan diri (Kabur) setiap berjumpa dengannya.


"i.. itu? ". Nando terperangah melihat sosok yang di awasi oleh Ariel.


"diam". Ariel mendelik tajam ke Nando yang dengan cepat membekap mulutnya.


Vivi membawa Vika ke toko baju, "beli baju apapun dek..! " pinta Vivi


"tapi Kak? disini mahal-mahal". cicit Vika


"cepatlah..! bajumu tidak ada dek, kakak lihat bajumu itu-itu aja". Vivi tersenyum lebar mengelus kepala Vika


Vika tampak ingin menarik kakaknya tapi Vivi malah berbalik dan mendorong adiknya masuk ke Toko baju itu hingga disambut oleh pelayan toko.


Vivi memilih baju-baju sederhana untuk adiknya namun harganya pasti mahal karna di Mal ini tidak ada baju yang murah walaupun model bajunya sederhana.


"sudah kak..! ini banyak sekali". protes Vika


"maaf dek..! ". cengir Vivi lalu meminta pelayan untuk membungkusnya.


betapa bahagianya Vivi bisa membelikan apapun untuk adiknya karna itu adalah impian terbesar Vivi, mereka hidup hanya berdua sementara Vika dipaksa kuliah oleh Vivi demi masa depan adiknya itu biarlah Vivi yang bekerja banting tulang untuk adiknya itu.


"apa kamu mau mobil dek? ". tanya Vivi membuat Vika melototkan matanya


"tidak mau kak". jawab Vika dengan cepat


Vivi tersenyum, "beli ya? impian kakak ingin sekali membelikanmu mobil kecil yang cantik".


"kaaaakkk". rengek Vika


tapi nyatanya hanya dianggap angin lalu rengeken adiknya itu, Vivi membelikan Vika mobil mini yang hanya bisa di tumpangi 4 orang saja,


"kak..! udah kak". pinta Vika


"apanya yang udah dek? uang itu masih banyak, Kakak Shila mu meminta kakak untuk memanjakan adik manisnya ini". senyum manis Vivi tanpa malu mencubit pipi Vika

__ADS_1


"beruntung sekali dek..! kenapa menolak rezeki? tidak baik jika kakaknya ingin membeli sesuatu adek menolaknya". kata Pelayan yang kembali membawa berkas- berkas yang harus ditanda tangani Vivi sebagai bukti transaksi.


Vika hanya mampu terdiam, ia memang sangat menyayangi kakaknya, sejak kecil Vivi kekurangan kasih sayang Papa dan Mama tapi ia tidak mau adiknya kehilangan kasih sayang Papa dan Mama hingga Vivi berperan menjadi Papa sekaligus Mama untuk Vika.


"kenapa Tuan? kenapa harus mengawasinya? ". tanya Nando penasaran


"apa dia beli itu dengan uangnya? ". tanya Ariel


"oh.. Uang hasil akun sosmed milik Shila itu dipegang oleh Managernya karna Shila tidak suka bermain sosmed". jawab Nando


"kenapa? seharusnya gadis Arogan itu yang memiliki penghasilan itu kan? ". tanya Ariel penasaran


"Gadis Arogan yang anda sebut itu sangat menyayangi Managernya, lagian yang sering Update foto dan semuanya di akun sosmed begitu rutin itu adalah Vivi, dan Shila tidak mau menerima uang hasil kerja keras Vivi malah meminta Vivi memberikan uangnya pada Adiknya, mungkin gadis kecil itu adalah adiknya". jelas Nando


"Gadis Arogan itu baik juga". senyum miring Ariel


"yaah.. itu sebabnya hubungan mereka sangat dekat melebihi sahabat, mereka seperti satu darah bahkan yang sedarah pun belum tentu hubungannya akan sebaik mereka". jelas Nando lalu menguap lebar karna mulai bosan mengikuti Ariel yang mengawasi Vivi.


.


.


"Tuan..? kenapa mengikuti mereka? ". tanya Nando dengan kesal disamping Ariel yang kini sedang mengemudi


"ssst... diam saja kau! ". ketus Ariel


"jangan bilang anda tertarik dengan Manager Nona Shila itu? ". tanya Nando dengan asal.


"ya". jawab Ariel tersenyum tipis


Nando tersedak air li*rnya sendiri hingga terbatuk-batuk sambil menatap Ariel tak percaya.


"a.. apaaa? ".


"berisik..! ". decak Ariel tanpa menatap ke arah Nando


Nando memutar kepalanya ke arah depan dimana Vivi tengah membawakan belanjaan sang adik, mobil berwarna merah yang dibeli oleh Vivi untuk sang adik pun sudah ada didepan Rumah.


"ya Tuhan... mereka benar-benar tidak bisa ditebak? apa-apaan ini? dulu Tuan Varel mencintai Nona Shila dan saingannya dokter Leon, sekarang Tuan Ariel tertarik dengan Vivi yang saingannya juga dokter Gibran, ada apa dengan mereka? apa mereka musuh bebuyutan dengan dokter dahulunya? ". batin Nando menutup mulutnya yang tadi menganga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2