
.
.
.
"kamu dari mana saja nak? bagaimana cucu papa? ". Suryo berlari mendatangi Shila yang baru saja masuk ke Mansion.
Jessy dan Ramon hanya tersenyum merangkul satu sama lain, sementara Vivi tertawa kecil dibelakang ada Diani yang diam saja.
"tadi Shila habis jual baju-baju Suami Pa". cengir Shila
"dan cucu papa baik-baik saja". lanjut Shila lagi
"ayo nak..! kita duduk, bicaranya sambil duduk ya? ". Suryo memapah Shila hati-hati seolah anaknya itu tengah hamil besar saja hingga Ramon dan Jessy tak kuasa menahan tawa mereka tapi tidak mengeluarkan suara.
"harus dijaga calon Cucu Papa nak..! kamu harus baik-baik jangan suka keluyuran ya? Papa sangat menantikan cucu ini". kicau Suryo
Shila mengerucutkan bibirnya, "sebelum Shila Nikah, kenapa buru-buru nikah nak? apa Varel memaksamu? kamu masih muda sayang ! jangan terlalu dipaksakan". Shila memperagakan kata-kata Suryo hingga yang lainnya tertawa lebar.
"sekarang giliran dapat cucu senangnya minta ampun, kan udah Shila bilang Pa, kalau Shila udah besar bukan anak kecil, jika Papa ingin punya cucu dari dulu kenapa enggak bilang-bilang?". celoteh Shila
"mana Papa tau kamu udah besar nak, Papa kan tau nya anak Papa semakin cantik saja". Suryo malu sendiri akan kata-katanya dulu.
sekarang dirinya lah yang paling senang dan tidak sabar punya cucu hebat, apalagi Gen nya dari Varel yang memiliki fisik yang sempurna juga paras yang tampan dan berkharisma.
.
.
.
"oh.. jadi Varel yang merasakan morning sickness nya". Suryo mengangguk-ngangguk faham cerita Shila dan Jessy.
Vivi pun menganga sebab ia baru tau hal itu.
"jadi itu alasannya Tuan Varel minta bajunya dibuang Shila? ". tanya Vivi dibalas anggukan oleh Shila.
"kenapa manggil Tuan sih nak? berapa kali Papi bilang panggil yang lain jangan Tuan". tegur Ramon tertawa kecil.
"tidak boleh sama Mas Ariel Pi, Vivi udah berapa kali bilang ingin panggil Mas Varel juga tapi dia nya bilang panggilan Mas hanya untuknya saja". jawab Vivi tersenyum tapi menahan kesal hingga Jessy tertawa.
"biarkan saja Pi". tawa Jessy yang tak keberatan Vivi memanggil Tuan pada saudara suami Vivi.
"apa udah beli susu nak? ". tanya Suryo
"belum Pa". jawab Shila
"kalau begitu biar Papa belikan, kamu mau rasa apa nak? ". tanya Suryo
"tidak usah Suryo, biar aku nanti yang belikan". kekeh Jessy
__ADS_1
"tidak apa..! ini cucu ku Jessy, jangan coba larang-larang aku". gerutu Suryo mengambil jaketnya dan memasangnya hingga yang lain terkikik saja akan semangat Suryo.
Shila tidak melarangnya karna tau Papanya keras kepala, ia tidak bisa melawan jika Papa nya itu lagi bahagia seperti sekarang.
"coklat boleh Pa, jangan lupa belikan cemilan ya Pa". Shila
"tidak boleh..! ". tolak Jessy, Ramon dan Suryo serentak begitu tegas.
Vivi tertawa lebar, sedangkan Shila malah linglung sendiri.
"k... kenapa?". tanya Shila
"kamu hanya boleh makan sayur dan buah-buahan sayang, tidak boleh makan-makanan berpengawet". jelas Jessy
"Papa akan belikan banyak buah untukmu nak". kata Suryo bergegas pergi namun Ramon pun minta ikut, alhasil kedua Calon kakek itu belanja bersama ke supermarket.
Jessy pergi ke dapur tinggallah Vivi, Diani dan Shila di Sofa.
"kenapa Shila? ". tanya Vivi terdengar meledek
Shila menatap kesal ke Vivi yang mencibirnya,
"sekarang akhirnya kamu akan merasakan bagaimana rasanya makan diatur oleh Nyonya besar... Haha.. selamat datang didunia wanita hamil sayangku, artisku, cintaku". ucap Vivi tertawa lepas lalu pergi meninggalkan Shila diikuti Diani.
Shila mendelik kesal, ia senang sedang hamil tapi mengapa makannya jadi di atur? saat Shila belum sadar ia tengah hamil makan semua nya dan tidak ada masalah dengan bayinya tapi saat tau, semua jadi begini.
.
.
Vivi terlihat santai makan salad buah sementara Shila menatap lama salad buah itu, ia menatap menu makan keluarga nya sangatlah enak.
Vivi hanya anti sayur jamur.
"Suamiku...? aku mau makan daging? ". rengek Shila memelas
"iya sayang..! tapi satu suap saja ya? ". Varel yang menjawab tanpa ragu menyodorkan daging yang sudah ia potong beberapa bagian.
Shila dengan cepat memakannya takut Varel berubah pikiran.
"kita tukar? ". pinta Shila berbinar senang dapat makan daging.
"sayang..? ". tegur Jessy
Shila memberengut sambil menurunkan pandangannya, dan Varel tak tega melihat wajah sedih istrinya itu.
"baiklah sayang..! aku makan buah kamu makan daging ya? ". Varel menukar piringnya dengan piring Shila hingga wajah Shila kembali riang.
"Varel, kenapa kamu malah memberi istrimu makan daging? dia lagi hamil, kemarin-kemarin Shila makan daging terus tiap hari tidak boleh Rel". tegur Jessy
"tidak apa Mom, kami sehati apa yang Shila makan aku makan". jawab Varel santai
__ADS_1
"ckk..! ". Ariel berdecak
"iri bilang, Istriku hamil aku yang merasakannya". ketus Varel
Ariel membuang muka karna ia kalah, Vivi hamil Ariel tidak merasakan apa-apa selain Vivi terkadang suka marah-marah padanya, anaknya malah sirik karna takut sayangnya dibagi.
Vivi terkikik saja melihat wajah masam Ariel, Frans diam saja sambil melirik satu sama lain terutama dengan Papi nya, mereka fokus dengan makan saja.
Jessy tak bisa apa-apa saat Varel lah yang memanjakan istrinya, kini bibir Shila sudah belepotan bumbu daging.
shila nyengir ke Varel yang menatap penuh cinta padanya, dengan telatennya ia mengambil tisu lalu mengelap bibir sang istri.
"makasih ya suamiku". ucap Shila dengan manja
"iya..! sekarang mau makan buah apa? ". tanya Varel hingga Jessy melihat ke arah Varel.
ternyata putranya itu punya cara tersendiri menjaga istrinya.
"hmmm?? buah anggur". jawab Shila tersenyum cerah
"anggur nya masih ada Bi? ". tanya Varel
"anggurnya baru saja habis Tuan". jawab Bibi pelayan yang tau hanya anggur saja yang habis,
Suryo beli banyak buah tapi anggur hanya beli 2 kg dan itu sudah habis dicemil Shila.
"nanti aku belikan 3 kg kamu habiskan ya sayang?". bujuk Varel
Shila menggeleng kepalanya.
"nanti nggak aku kasih makan yang kamu mau bagaimana? ". tanya Varel membuat Shila terdiam dan akhirnya mengangguk pasrah.
.
.
Varel hanya mual dipagi hari, jika ada bau tak bisa ia tahan maka Varel akan muntah-muntah seperti emak-emak.
berbeda dengan Ariel yang sibuk bertanya dengan Vivi bagaimana caranya supaya ia merasakan kehamilan Vivi seperti Varel yang merasakan kehamilan Shila.
"aduuuh.. Mas..? aku ya tidak tau gimana caranya berbagi rasa sakit seperti itu". jawab Vivi sejak tadi sudah kesal akan pertanyaan Ariel yang membuatnya sakit kepala saja.
"coba kita ke dokter ya Beb". ajak Ariel
"Mas..? udah ah.. besok kan Mas kerja kan? ayo tidur! ". Vivi menarik lengan Ariel membawanya ke ranjang.
"Beb.. aku tidak bisa tidur.. asal kamu tau ya? semua orang iri dengan posisi Varel, dia bisa merasakan kehamilan anaknya". keluh Ariel.
"udah mas..! ngapain mikirin orang sih? lagian setiap perempuan itu punya masa kehamilannya sendiri-sendiri, cepat usap-usap perut aku Mas". desak Vivi.
.
__ADS_1
.
.