
.
.
Gibran, Nando dan Varel mengoceh bersama mengenai sosok Desi.
"kenapa kau begitu mengenalnya? ". tanya Nando merasa heran
"hei... dia satu seperguruan denganku saat masih Kuliah semester 4 tapi dia dikeluarkan secara tidak hormat karna tidur berdua dengan pria bule di ruang kelas dalam keadaan tidak berbusana". jelas Gibran
"benarkah? tapi dia bilang kalau dia masih peraw*n". jawab Ariel membuat Gibran, Varel dan Nando melihat ke arahnya.
Gibran bangkit disusul oleh Varel dan Nando, Gibran memeriksa keadaan Ariel.
"ck.. aku baik-baik saja..! lanjutkan ceritamu". ketus Ariel
Gibran menganga melihat ke arah Varel,
"apa? ". ketus Varel lalu matanya Gibran beralih ke Nando yang tertawa cekikikan
"mereka sama saja". gumam Gibran dengan lesu
jujur Gibran berharap Ariel memiliki sifat yang berbeda dengan Varel namun kenyataan pahit yang ia terima, Ariel tidak jauh berbeda dengan Varel.
"mereka sepertinya tidak akan bisa akur". decak Gibran melihat Ariel dan Varel yang saling bertatapan dingin dan datar.
"cepat kau lanjutkan ceritamu tadi". pinta Nando tertawa kecil karna sebenarnya ia penasaran lanjutan cerita Gibran.
"Ehh.. maaf.. maaf.. anda jangan percaya dengan kata-katanya Tuan, dia itu sudah beberapa kali operasi untuk mengencangkan area sensitifnya". jelas Gibran dengan kesal
"hampir saja manusia bodoh ini tidak terjebak, bisa tamat perusahaan Fox Group". decak Varel
"diam kau..! kau yang dia incar, aku yang sial mengalami semua ini". balas Ariel
"bukankah aku sudah menyelamatkanmu? inikah balasanmu? ". Varel
"berisik". ketus Ariel
Nando dan Gibran hanya menganga ditempat mendengar perdebatan saudara kembar yang sudah lama tak bertemu, beginilah jika punya saudara kembar yang memiliki sifat dan karakter yang sama, 1 saja sudah menyebalkan dan sekarang Gibran serta Nando harus menghadapi 2 manusia menyebalkan yang sama.
.
.
Ariel, Gibran, Nando dan Varel duduk di sofa sambil menceritakan keluarga Desi yang sangat dikenal oleh Gibran.
"kau begitu kenal dengannya apa kau punya hubungan dengannya? ". tanya Ariel.
"ya.. aku sempat terpesona dengannya tapi saat dia mendatangiku dan memintaku untuk mengoperasi daerah sensitifnya membuatku tersadar bahwa wanita itu adalah iblis yang selalu ingin selalu murni". jawab Gibran dengan kesal
__ADS_1
"ck.. ck. ckk.. ckk.. untung saja kau tidak terkecoh kalau iya kau memang bodoh, otak mu tidak berguna". ejek Varel
"Tuan tidak tau bagaimana sifat lemah lembutnya itu didepan kami, dia idola departemen kami tau? ". gerutu Gibran tak terima
"dia memang seksi dan cantik". Nando mengakui
"ck.. bagusan Maharaniku". balas Varel dan Ariel serentak membuat Nando dan Gibran bergidik ngeri.
"kau sebut apa? ". Varel berdiri dari duduknya
"memang aku menyebut apa? ". Ariel juga berdiri dari tempatnya
"dia Maharaniku, jangan sebut dia Maharanimu". ancam Varel
"hohohoo.. Dia Maharaniku, kenapa? kau takut dia tidak bisa membedakan kita? ". tantang Ariel dengan tatapan meledek
"ckk.. percaya diri sekalu kau... ! dia kekasihku dan dia sangat mengenalku". ucap Varel dengan sombong
"dia pacarku..! jangan macam-macam". kata Varel mengancam
"aku tidak akan macam-macam karna aku sudah pernah mengatakan pada gadis Arogan itu kalau kita tidak berbeda, aku akan buat dia kebingungan dengan kita". Ariel tersenyum miring
"kau menantangku? kau fikir aku takut? ". Varel mendekat
"tentu saja kau tidak boleh takut". balas Ariel
"Maharanii". balas Varel dan Ariel serentak lalu membuang muka hingga Gibran dan Nando mulai pusing dengan pertengkaran pria dewasa ini.
"ya Tuhan..Nona Shila, kamu membuat saudara kembar ini menjadi gila". gumam Nando menggeleng kepalanya pelan.
"kasihan sekali Shila jika tau mereka ini bergantian menyamar bahkan jika Shila tidak mengenali Tuan Muda bisa pecah perang saudara nanti yang akan menggemparkan dunia". batin Gibran menatap Varel dan Ariel saling bertatapan tajam.
.
.
ke esokan harinya
Ariel telah sembuh total dan ia dibantu oleh Nando, Gibran membenahi perlengkapan dokternya, tiba-tiba mereka mendengar bunyi seseorang menekan tombol Apartemen.
tit.. tit.. tit.. tit.. Triritttt...
Varel hendak pergi menyambut gadis itu namun dihentikan oleh Ariel.
"buktikan kalau dia memang mengenal salah satu dari kita". kata Ariel
Varel terdiam, ia melihat jam tangannya yang belum ia pasang.
"jangan memakai benda apapun yang membuatnya bisa membedakan kita, aku ingin lihat wajah gadis Aroganmu itu mengenali kita". kata Ariel dengan serius
__ADS_1
Gibran dan Nando merapat, mereka seolah merasakan ketegangan di udara saat ini.
Varel menyimpan jam tangannya, dengan berat hati ia menuruti kemauan Ariel karna ia juga tidak mau kalah dengan Ariel yang mengejek kekasihnya tidak mengenalnya.
tak lama terdengar oleh mereka Vivi mengomeli Shila yang seenak jidatnya saja membatalkan iklan yang akan membesarkan nama baik Shila.
"diam kak..! kenapa kakak tidak bisa diam sih? ". gerutu Shila
"kenapa? kamu bertanya kenapa Shila? iklan tadi akan membesarkan namamu, kamu akan segera melambung tinggi". kesal Vivi dengan gemas
sibuk mengoceh hingga mereka tiba dihadapan Varel dan kembarannya, hal itu membuat kaki Vivi lemas seketika dibantu oleh Shila yang sudah tau kekasihnya punya saudara kembar.
"a.. ada.. 2 Tuan Muda Varel Shil.. " gagap Vivi seakan omelannya tadi buyar di telan angin
"kan aku udah bilang kalau om Raffan punya kembaran namanya om Ariel". jawab Shila dengan kesal membantu Vivi duduk.
Gibran dan Nando mendekat seperti patung merapat di sofa yang sama dengan Vivi sambil menatap ke arah Shila dengan raut wajah tegang.
"ada apa dengan kalian? ". tanya Shila mendongakkan dagunya ke Gibran dan Nando.
"Maharani? ". panggil Ariel dan Varel bersamaan.
Vivi tersedak air li*rnya sendiri hingga terbatuk-batuk, sedangkan Shila beralih menatap kedua pria itu yang memanggilnya dengan sebutan yang sama.
"sayang ini aku..! ". kata Ariel dengan lembut
"bukan sayang.. ini aku". sahut Varel tak mau kalah
"jangan bermuka dua". ketus Ariel
"siapa yang bermuka dua? berhenti menggunakan wajahku untuk mengelabui kekasihku". Varel
"dia kekasihku Ariel.. jangan mengada-ngada". ancam Ariel menunjuk Varel adalah Ariel padahal dirinya lah yang Ariel
Varel melebarkan matanya, "aku Varel jangan mencari masalah denganku..! kau bermain curang kan? aku Varel".
"diammmm...! ". Pekik Shila membuat kedua pria tampan itu terdiam seketika
Nando dan Gibran menutup mulut mereka yang terbuka, mereka tentu tau mana Ariel dan mana Varel sebab tadi Ariel baru saja diperiksa oleh Gibran dan memakai baju kaus putih sedangkan Varel mengenakan baju kaus hitam, tapi mereka penasaran apakah Shila bisa membedakan Varel dengan Ariel.
Vivi hampir saja pingsan mendengar perdebatan pria tampan itu tapi tak membuatnya pingsan karna terlalu asik menatap kedua wajah tampan itu yang sama persis.
"berhenti meributkan hal yang tidak penting". kata Shila dengan tatapan tajamnya.
.
.
.
__ADS_1