Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
berobat ke luar negeri


__ADS_3

.


.


.


tanpa mereka ketahui satu Pelayan Restaurant sudah heboh dengan kabar kencan Varel dan Shila, sebenarnya Shila dan Varel bukan berkencan melainkan janji bertemu.


Nando menatap datar semua wanita-wanita yang tengah berbisik terang-terangan didepannya.


"bekerja atau bergosip?". tanya Nando


kedua pelayan Restaurant pun terkejut, mereka berdua tidak sadar ada Nando, dengan cepat mereka meminta maaf dan melarikan diri dari tempat itu sebelum Nando marah. mereka berdua tau Nando adalah Asisten kepercayaan Varel.


"Tuan Muda..! sejak dulu anda selalu bersih dari gosip, sekarang lihatlah satu negara menceritakan Tuan dengan Nona Shila, ya.. ya.. ya.. sekarang aku harus mengakui Shila pemberani itu adalah Nona Kami". gumam Nando


sebelumnya Nando jarang memanggil Shila Nona, sebab ia harus menjaga lisannya didepan Varel, bisa saja Varel marah jika Nando memanggil Shila Nona Muda.


.


"naik apa kau kesini tadi? ". tanya Varel melihat Shila tidak membawa kendaraan.


"oh.. tadi naik taksi om, mobil aku dibawa kak Agus ke bengkel". jawab Shila celingak-celinguk mencari taksi.


"ikut aku saja! aku akan mengantarmu! ". ajak Varel


Shila menoleh ke Varel, "sebenarnya om tampan ini baik atau jahat sih? terkadang dia jahat dan terkadang dia juga baik". batin Shila


"tidak usah Om..! nanti merepotkan om". tolak Shila sambil tersenyum


Varel menarik kerah baju Shila berjalan menuju mobilnya, Shila berwajah kesal menatap Varel sebab cara Varel membawanya itu sangat menyebalkan seolah Shila ini adalah anak kecil yang nakal ditarik kerahnya oleh sang mama menuju jalan pulang ke Rumah saja.


Nando menjadi supir dengan sigap membukakan Shila pintu mobilnya dan Varel mendorong pelan Shila masuk lalu Varel lah yang menutup pintu hingga Nando tercengang.


"cepat masuk..! kenapa malah bengong? kau mau gajimu aku kurangi? ". ancam Varel dengan dingin seperti biasa.


"tidak Tuan Muda, kalau bisa ditambahin". jawab Nando membuat Varel menunjukkan kepalan tangannya.


Nando dengan cepat masuk ke mobilnya dan langsung memasang sabuk pengaman.


.


.


"ayo masuk om..! ". ajak Shila


"tidak bisa". tolak Varel


"om.. om harus masuk..! ". titah Shila

__ADS_1


"tidak". tolak Varel


"entah apa yang om katakan sama Papa aku dimalam itu, pokoknya om harus temui Papaku, katanya ada yang mau ditanyakan". Shila tanpa takut menarik lengan Varel dan mendorongnya masuk ke dalam Rumahnya.


Nando hanya bisa menganga ditempat, bagaimana bisa Varel tidak menolak atau menepis Shila, bukankah Nando tadi mendengar Varel ingin pulang dan beristirahat.


"Papaa?? ". panggil Shila dengan ceria hingga Varel kaget mendengar nada bicara Shila yang naik 2 Oktaf namun terdengar lebih berwarna.


"neng udah pulang neng? ". sapa Aji yang kini mendorong kursi roda Suryo.


Suryo menatap Varel yang benar-benar sempurna, malam itu saja ia akui Varel sangat tampan dan sore hari begini Varel lebih menakjubkan.


"Papa..? Shila sudah berhasil membuat Passport buat Papa". Shila mengeluarkan buku penting yang dibuatkan oleh Varel.


"bukankah ada kendala nama nak? bagaimana bisa?". tanya Suryo malah kaget Shila berhasil membuatkannya passport.


"jika om itu yang buatkan semua aman Pa". cengir Shila


Varel sedikit menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya pada Pria Arogan yang lebih memilih jatuh bangkrut dari pada menjual putrinya sendiri.


"bagaimana keadaan Nyonya Besar Tuan? ". tanya Suryo melajukan Kursi rodanya ke arah Varel


"sudah baikan om". jawab Varel


"om? kenapa Om malah memanggil Papa aku Om?". protes Shila


"nak...? siapkan air minum untuk tamu kita". titah Suryo


"maafkan putri saya Tuan..! dia memang kekanakan tapi hatinya murni Tuan, tidak memiliki niat jahat sedikitpun". ucap Suryo


"tidak apa Om..! Mommyku sangat menyukainya, bahkan lebih memilih dia dari pada kami anak-anak kandungnya". jawab Varel tersenyum tipis.


Suryo meminta Varel untuk duduk, mereka berbicara banyak hal.


"kalau begitu Tuan tau saya pernah menolak kerja sama kalian dengan alasan menjual putri saya? ". tanya Suryo sambil memperhatikan raut wajah Varel yang tidak berubah artinya Varel sudah tau sesuatu.


"anda sudah tau Tuan Muda". senyum kecut Suryo


"maafkan alasan Papiku Om, dia memang membuat alasan bodoh itu karna Mommyku". ucap Varel


Suryo tersenyum, "kalau begitu aku tidak akan berbicara formal".


Varel mengangguk mengerti, ia sangat tau Suryo dan Shila yang tidak bisa di nilai dengan uang.


"aku tidak tau bagaimana caranya mengatakan pada Shila untuk tidak perlu pergi ke Jerman, apa kau bisa membujuk Shila? ". tanya Suryo serius


Varel terdiam lalu melihat ke arah Suryo, "om sangat mengenal putri om sendiri kan? dia bahkan tidak mematuhiku om, bagaimana aku bisa membujuknya?".


Suryo mengangguk-ngangguk membenarkan lalu Suryo menjelaskan maksudnya yang tidak ingin berobat di Jerman, Varel jadi teman curhat Suryo saat ini.

__ADS_1


.


.


di Kamar Varel, kamar mandi.


Varel mengguyur tubuhnya dibawah pancuran showernya, ia mengingat cerita Suryo yang tidak ingin berobat di Jerman sementara Shila bersikeras membawa Suryo berobat disana.


"sebenarnya bagaimana kasih sayang diantara mereka? kenapa bisa seperti itu?". gumam Varel bertanya-tanya.


rumit sekali masalah Suryo dan Shila, entah ikatan seperti apa yang terjadi diantara Ayah dan Anak itu, tapi berhasil membuat seorang Varel memikirkannya padahal Varel tidak pernah memikirkan masalah orang lain.


.


ke esokan harinya Shila menganga lebar saat ini melihat tamu di Rumahnya adalah Jessy (mommynya Varel).


"kenapa nak? cepat buatkan minuman! ". pinta Suryo yang memang mengundang Jessy.


"eeh.. iya Pa". sahut Shila tersadar dari keterkejutannya.


Suryo menjelaskan alasan dirinya mengundang Jessy, Jessy benar-benar menyukai saran Suryo.


"terimakasih Pak Suryo mempercayai saya..! saya akan menjaganya dengan segenap hati saya Pak". ucap Jessy dengan tulus memegang tangan Suryo sebagai besan.


"saya meminta tolong jagakan dia Nyonya bukan menjodohkannya dengan Tuan Muda, putri saya sangat keras kepala dan tidak ada yang bisa melawan sifat kerasnya itu, saya tidak punya pilihan lain". Suryo


"iya Pak..! saya sangat mengerti ! jika saya berada di posisi anda pasti tidak akan bisa tenang meninggalkan putri secantik Shila sendirian di kota Jakarta ini". Jessy


"apa? maksud Papa apa ini? Papa minta apa sama Tante Jessy? ". tanya Shila tiba-tiba


.


.


Shila tidak bisa melawan kehendak Suryo yang menitipkannya pada Jessy, jika Shila menolak Suryo juga enggan pergi ke Jerman.


Jessy menemani Shila yang mengantarkan Suryo bersama Aji ke Bandara, pembelian tiket mudah saja di lakukan jika Suryo sudah memiliki Passport.


Jessy tersenyum tulus mendengar semua omelan sayang Suryo pada Shila yang berusaha untuk terlihat kuat, Shila terus mengatakan dirinya akan baik-baik saja dan meminta Suryo fokus pada kesehatannya disana.


"tolong saya Nyonya.! anak saya sedikit manja jadi harap maklumi sifatnya yang masih kekanakan". Ucap Suryo ke Jessy.


Jessy menunduk ke Suryo, "aku akan menjaga putrimu dengan sangat baik Pak Suryo, kamu hanya perlu fokus dengan kesehatanmu lalu giliranmu yang merawat Shila".


Suryo tersenyum tipis diwajah tirusnya sambil mengangguk kecil.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2