
.
.
Vivi berdiri tegak lalu melihat sekeliling, ia dengan cepat melototkan matanya hingga Ariel mengerutkan dahinya melihat arah tatapan Vivi, tanpa pikir panjang Vivi melarikan diri dan lepas dari Ariel.
"ap...? ehhh? ". Ariel mengedarkan pandangannya
"kabur lagi? ". gumam Ariel menggeleng kepalanya
"hhmmmffft... ahahahaha". Nando tertawa terbahak-bahak di belakang Ariel
Ariel menatap tajam Asisten adiknya itu, bukannya takut Nando terus saja tertawa.
"wajah anda lebih mengerikan dari Tuan Varel Pak". jawab Nando meledek Ariel dengan menyebut Pak
"ck..! ". Ariel mengabaikannya saja lalu berjalan meninggalkan Nando yang mengikutinya tapi masih saja tertawa.
Vivi bersembunyi dibalik pilar lalu menarik nafas dan menghembusnya tergesa-gesa, "syukurlah dia sudah tidak ada". gumam Vivi dengan lega
"kenapa dari sekian Banyaknya kota yang ada di Indonesia ini harus Bandung tempat tujuan Pak Ariel? apa dia tidak punya uang untuk pergi ke Luar negri". cerocos Vivi tanpa tau tujuan Ariel datang ke tempat ini.
"jantungku masih aman, gila...! sudah hampir berbulan-bulan berlalu tapi aku masih saja gemetar melihatnya karna kejadian itu". gumam Vivi mengelus-ngelus dadanya untuk menenangkan diri.
setelah tenang Vivi melanjutkan keinginannya mencari kulkas, Oven dan perabotan penting lainnya sesampainya di Rumah tidak ada Vika sebab adiknya masih kuliah.
Vivi menyusun semuanya sendiri, meja belajar baru yang ia belikan juga sangat bagus.
"Shila.... aku rela mempertaruhkan nyawaku untukmu". kata Vivi tersenyum manis melihat hasil belanjaannya dari uang penghasilan Akun sosmed Shila yang tidak wajar jumlahnya.
sekali saja Shila posting foto di Akun IG maka banyak sekali yang menglove foto Shila, bahkan iklan apapun di posting di Akun Shila akan melejit pesat, itu sebabnya Vivi sangat menyayangi Shila yang tidak pernah memperhitungkan apapun padanya
Shila tidak punya Akun sosmed tapi berkat Vivi, tentu Shila memilikinya sebab sebagai artis top Heri mewajibkan artis-artisnya memiliki akun Sosmed nya masing-masing dan Vivi lah orangnya pengganti Shila tapi pasti diketahui Shila dan gaji penghasilan itu tidak pernah di minta oleh Shila setiap kali Vivi memberikan uangnya selalu saja Shila menolak dan berikan pada adiknya, itu sebabnya Vivi tidak pernah perhitungan dengan Vika karna Shila sendiri yang meminta nya.
"apa ini kak? ". tanya Vika kaget melihat Rumahnya banyak perabotan dapur dan Meja belajar yang sangat luas dan cantik.
"udah pulang dek..! sini deh". ajak Vivi
Vika menganga melihat semua belanjaan Vivi, "kenapa kakak menghabiskan uang?". tanya Vika seolah protes
__ADS_1
"ini atas permintaan kakak kesayanganmu". kata Vivi membuat Vika menganga
"kak Shila? ". tebak Vika dibalas anggukan oleh Vivi
"benarkah kak? ". tanya Vika setengah memekik hingga Vivi tertawa.
"Shila tidak pernah melihatmu tapi dia sangat menyayangimu, betapa beruntungnya kakak memilikinya, hanya doa yang bisa kakak berikan padanya yaitu doa untuknya supaya selalu bahagia". kata Vivi dengan tulus tanpa sadar air matanya menetes.
"iya kak..! Vika selalu mendoakan kalian berdua semoga selalu bahagia". sahut Vika yang kini menghapus air mata Vivi dan memeluk kakaknya.
inilah yang membuat Vika sangat mengidolakan Shila, apapun kebutuhannya selalu dipenuhi Vivi walaupun dengan uang gaji Akun sosmed Shila.
"kak.. apa uang Kak Shila tidak akan habis nanti? kenapa kakak bayarin uang kuliahku sampai habis? ". tanya Vika khawatir
Vivi tertawa karna Vika pasti sudah tau biaya kampus Vika sudah lunas sampai Skripsi nantinya,
"Shila tidak akan kehabisan uang dek..! kakak sudah bilang dia sangat dermawan, dia bilang gajinya sudah sangat cukup untuknya padahal kakak juga di gaji oleh Pak Heri tapi gaji dari Fans nya malah jatuh ke kakak dan dia tidak mau menerimanya". jelas Vivi
"kapan kak Shila mau kesini kak? Vika pengen banget ketemu kak Shila". tanya Vika berbinar semangat
"dia sedang sibuk kuliah mungkin 2 bulan lagi dia bisa cuti". jawab Vivi
"ayo kita ke dapur..! kakak belikan Oven untukmu bukankah kamu suka memasak?". ajak Vivi
saat ini Vika semakin mengidolakan Shila,
di tempat lain Ariel di dalam mobil menatap datar Nando yang baru saja masuk membawa berita penting dari luar.
"bagaimana? ". tanya Ariel
"benar sekali Tuan.. Desi si jal*ng betina itu memang menghasut orang-orang disini hingga berpikir dua kali untuk memperpanjang kontraknya dengan Perusahaan Fox Group". lapor Nando
Ariel mendengus, "aku tidak akan jatuh bangkrut karna hal spele ini".
"saya tau tuan". jawab Nando dibalas senyum tipis oleh Ariel.
"sepertinya kau nyaman sekali bekerja denganku". ejek Ariel
"benar sekali tuan, tetaplah sehat-sehat selalu karna aku percaya dengan kemampuanmu". kata Nando dengan serius membuat Ariel tertegun namun hanya sebentar saja wajahnya kembali datar.
__ADS_1
"kenapa kalian tidak menceritakan yang sebenarnya pada Keluarganya? dengan begitu mereka pasti akan menendangku dari sana bukan? ". sindir Ariel namun jujur saja ia penasaran mengapa Nando dan Izal tidak pernah menceritakan apapun pada Ramon, Jessy dan Frans.
"kenapa aku harus membeberkannya? dan juga kenapa anda begitu yakin Tuan Ramon dan Nyonya Jessy akan menendangmu keluar? bukankah anda juga anaknya? darah daging mereka? kami saja yang bukan siapa-siapa disayang oleh mereka apalagi anda yang darah dagingnya sendiri". Nando
"jika mereka tau aku yakin mereka akan terharu bahkan menangis sedih karna anda mau mengunjungi mereka yang tidak becus menjaga anda saat masih bayi, dan setau saya sehebat-hebatnya Tuan Ramon dia juga manusia yang punya kelemahan dan bisa berbuat kesalahan, itu sebabnya kekacauan itu terjadi". lanjut Nando
"benarkah? apa mereka akan menerimaku? bukankah Varel sudah ditunjuk sebagai CEO Fox Group? ". tanya Ariel
"itu sebelum mereka tau bahwa tuan masih hidup". jawab Nando
"lagian Tuan Varel tidak terlihat serakah, dia malah bersenang-senang dengan Nona Shila sementara anda bekerja di Perusahaan". kekeh Nando
Ariel mengangguk, jika dipikir-pikir hidupnya memang tentram di tempat ini tidak ada perebutan tahta antara sesama saudara padahal Fox Group adalah kekayaan yang berlimpah ruah, uang masuknya bisa mencapai milyaran bahkan triliunan rupiah, tapi Varel dan Frans terlihat acuh dengan hal itu seolah bukan masalah besar saja.
"aku bahagia dengan mereka, tapi apa mereka akan merasakan hal yang sama jika aku memberitau mereka yang sebenarnya? ". batin Ariel percaya kata-kata Nando namun masih ada keraguan dihatinya
Ariel melihat layar ponselnya merasakan ponselnya bergetar dengan cepat ia mengangkatnya.
"iya mom". sahut Ariel
"kamu udah sampai nak?". tanya Jessy
"udah mom". jawab Ariel
"dasar anak lampir, kenapa tidak kabarin mommy? ". tanya Jessy
"udah kan mom? cepat makanlah ! udah Frans bilang Abang pasti udah sampai". suara Frans terdengar oleh Ariel
tut.. tut.. tut..
Ariel menahan senyumnya seketika saat panggilannya dimatikan, artinya Jessy tau Ariel telah mendengarnya bahwa Jessy tidak mau makan sebelum memastikan putranya selamat sampai tujuan.
"dasar mak lampir! ". gumam Ariel menyunggingkan senyum tulusnya.
.
.
.
__ADS_1