Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
mencari


__ADS_3

.


.


Shila berlari mencari jalan keluar dan ternyata tidak sulit mencari jalan untuk keluar dari rumah itu.


Shila hendak lari namun teringat Vivi terkurung di gudang, "dimana gudangnya? ". gumam Shila melihat kebelakang.


Shila berbalik lagi hendak masuk namun suara aneh terdengar dari ruangan bawah,


"apa disitu gudangnya? ". tebak Shila tanpa berpikir panjang ia mendekati tempat itu dan menggedor-gedor pintu.


"kak..? Kak Vivii? ". panggil Shila


"hmmhm.....? hmmm? ". sahut seseorang dari dalam


Shila membuka pengait pintu di luar gudang itu tidak menggunakan kunci, Shila membukanya dan memeluk Vivi yang pucat pasi dengan sekujur basah karna keringat.


"Ya Tuhan..! ini panas sekali". gumam Shila membuka ikatan tangan Vivi lalu Vivi membuka penutup mulutnya.


"Shila..? kamu tidak apa-apa?? ". tanya Vivi khawatir dan panik memegang bahu Shila


"aku baik-baik aja kak..! cepat kita lari sebelum dia bisa keluar dari kamar seperti penjara itu". ajak Shila


"kamu apakan dia Shila? tidak.. tidak.. dia apakan kamu?". tanya Vivi ikut berlari bersama Shila


"dia mengurungku dikamar mengerikan, banyak foto-fotoku disana yang tidak ada dimana pun, selama ini dia mengikutiku kak! aku benar-benar merinding bahkan sampai foto aku dijerman dengan Om Raffan pun ada disana". jawab Shila


"Sayaaaannggg! ". teriak Carol dibalik jeruji besi kamar aneh itu.


"aaakk". pekik Shila dengan kaget


"jangan pergi sayang...! bukankah kau tidak mencintai Tuan Muda sombong itu hah?? aku akan membunuh Ayahmu supaya kau mencintaiku,, hanya aku yang boleh kau cintai Sayangg...! aku juga tidak suka punya anak laki-laki karna hanya merebut cintamu dariku.. kita punya anak perempuan saja sayangg". jeritnya membuat Shila merinding geram sedangkan Vivi melototkan matanya.


"apa dia melakukan sesuatu pada tubuhmu Shila? dia melec*hkanmu kan? ". tanya Vivi dengan khawatir.


"enggak kak..! dia hanya berbicara gila mengenai masa depannya dan aku malah ngeri mendengarnya, aku berharap dia membusuk dipenjara." kata Shila dengan marahnya


"ayo kita pergi kak! ". ajak Shila


Vivi dengan cepat berlari mengikuti Shila, "Shila mana sendalmu? kakimu berdarah". pekik Vivi


"nanti saja kak..! aku mohon bantu aku untuk keluar dari sini..! ini hutan kak". pinta Shila


Vivi berdecak, ia melepaskan sepatunya lalu menarik tangan Shila dan memaksanya memakai sepatu milik Vivi.


"tidak mau". tolak Shila malah menolak itu,


Shila tidak ingin kaki Vivi terluka karna mengorbankan sepatunya.

__ADS_1


"disini hutan Shila, hari sudah gelap dan banyak ranting pohon, kaki mulusmu bisa lecet, aku tidak boleh membuat uang ku rusak". marah Vivi memaksa Shila untuk tetap memakaikan sepatunya dikaki Shila.


"tunggu kak..! kakiku masih sakit, aku tidak bisa pakai sepatu, sepertinya aku tidak bisa menjaga uangmu". kata Shila


Vivi menatap kesal Shila, "kamu menyindirku ya? ".


"kata siapa? ". Shila melihat arah lain


"aku geram karna kamu tidak mendengarkanku, wajar kan aku marah kalau aku dipecat karna kakimu ini bagaimana?? aku beli apartemen dan belum lunas, aku belum mau dipecat". marah Vivi


Shila menahan senyumnya, Vivi melepas tali ikat pinggangnya berbahan kain, ia mengikat kaki Shila yang berdarah lalu memasangkan sepatu di kaki Shila.


"ayo kita pergi..! ". Ajak vivi


"pakai kaus kakimu dengan benar". bentak Shila


Vivi menaikkan kaus kakinya sampai ke betisnya, "awas aja kamu tidak membelikanku kaus kaki baru dan sepatu baru nanti".


Shila menahan tawanya, "iya.. iya".


Shila dan Vivi berjalan tak tentu arah mengikuti insting mereka saja hingga Vivi mulai benar-benar tidak kuat.


"hos... hosh.. hos..! Shila kamu per..gi saj.. a duluan.. ak.. aku tidak kuat". pinta Vivi


"tidak kak..! kita sama-sama mencari jalan keluar dari hutan ini". tolak Shila


"cepat kak..! aku akan menggendongmu". kata Shila berjongkok


Vivi memukul-mukul bahu Shila, "ke.. kenapa ka. ki mu bis.. a sangat kuat?".


"karna aku gadis desa kak..! jalan seperti ini sudah hal biasa bagiku, ayo cepat kak aku gendong! ".


Vivi berdiri malah minta di papah saja, mana mungkin Vivi membiarkan Shila menggendongnya.


.


.


"su.. dah cukup..! kakiku... tidak kuat berjalan lagi, kita sudah berjalan 15 KM dan tidak ada jalan keluarnya". Vivi tumbang di dedaunan kering sambil meluruskan kakinya dengan nafas tersenggal-senggal.


Shila mengedarkan pandangannya, hidupnya besar di dalam hutan dan berjalan ditengah hutan sudah biasa baginya.


"aku cari minuman ya kak! ". Shila hendak pergi dipeluk kakinya oleh Vivi


"jangan kemana-mana". pinta Vivi masih ngos-ngosan.


Shila pun memilih duduk dan beristirahat di depan Vivi.


"kamu mungkin bisa lomba maraton Shila.. kakimu benar-benar tidak normal bahkan nafasmu masih beraturan tidak sepertiku". Vivi

__ADS_1


"sudah kakak diam saja..! atur nafas kakak dengan baik, disituasi begini masih memikirkan lomba". gerutu Shila


"Maraharaniiii? ".


Shila tersentak mendengar suara itu yang sangat kecil namun ia merasa ada seseorang yang tengah mencarinya.


"siapa itu yang mencari Maharani? ". gerutu Vivi yang tidak bisa berpikir jernih lagi


"om Raffan? ". gumam Shila karna yang memanggilnya Maharani hanya Varel seorang.


"Maharaniii?? ". suara itu terdengar lebih dekat


"Ooommm? ". teriak Shila membalas.


Vivi melebarkan matanya, "itu Tuan Muda? ya Tuhan..! Shila kamu sangat beruntung, cinta Tuan Muda sangat tulus bahkan di tengah malam begini dia berani masuk hutan demi mencarimu". kata Vivi masih terengah-engah.


Shila terdiam hingga mulai terlihat sebuah senter menyorot wajahnya dan Shila menutupi matanya dengan telapak tangannya karna menyilaukan matanya.


terdengar oleh Shila seseorang berlari ke arahnya dengan terburu-buru apalagi suara dedaunan kering


srek.. srek.. srekkk...!


Shila melihat senter yang terlihat tidak bisa diam itu,


"ini yang kamu maksud pengorbanan kan? sejak kapan Tuan Muda mau membuang waktu berharganya mencari mu". jelas Vivi dengan nafas masih tersenggal-senggal.


Shila semakin terdiam, "om mencariku karna mencintaiku? ". batin Shila melihat langit berbintang, dari perkiraan Shila bisa menebak kini sudah jam 12 malam.


brukhh..


Varel menjatuhkan senternya lalu memeluk Shila dengan erat, "syukurlah kamu baik-baik saja Maharaniku...! maafkan atas keterlambatanku".


tangan Shila begitu ragu-ragu membalas pelukan Varel, "om mencariku sejak kapan? ". tanya Shila menurunkan kembali tangannya.


"sejak kamu menghindariku tadi". jawab Varel melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Shila


"kamu baik-baik saja kan? dimana bedeb*h itu? aku akan membunuhnya sekarang juga". cecar Varel


"dia ada didalam hutan sana Om..! kami sudah berjalan 15 km dan belum menemukan jalan keluar". Shila


"syukurlah..! aku benar-benar tidak berani memberi tau papamu sampai aku benar-benar menemukanmu Sayang..! maafkan aku..! ". ucap Varel kembali memeluk Shila


tangan Shila bergetar membalas pelukan Varel, ia merasa Varel memang mencintainya dan percaya cinta varel tulus padanya, pengorbanan Varel tidak sia-sia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2