Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
tinggal bersama


__ADS_3

.


.


Sesampainya di Rumah


Shila menyambut Vika dan Vivi namun senyumnya memudar seketika melihat Pria tampan dibelakang mereka.


"Pak Ariel? ngapain dia disini? ". gumam Shila


Shila melihat Vivi dengan raut wajah kesalnya karna tidak bisa menolak Ariel sementara Vika malah semakin kebingungan sebab Shila menyebut Pria dibelakang mereka Ariel bukan Varel atau Raffan yang biasa disebut Shila.


"ada apa kak? ". tanya Shila


"entahlah". jawab Vivi membawa masuk barang-barangnya disusul Vika.


Ariel hendak masuk namun dihadang oleh Shila, "ngapain bapak masuk kesini? apa kehabisan kamar hotel? ". tanya Shila dengan galak


"berisik..! aku kesini bukan karnamu.. minggir! ". Ariel dengan santainya mendorong tubuh Shila yang beradu ke pintu


Shila menatap tajam ke arah Ariel, "kalau bukan karna mengerjaiku lalu apa? ". bentak Shila


Ariel menghentikan langkah kakinya dan melirik ke arah Shila, "aku tertarik dengan managermu itu, jadi simpan baik-baik sifat aroganmu itu". ejek Ariel


Shila membelalakkan matanya, "Pak Ariel su.. suka sama Kak Vivi? ".


"diam, jangan salah faham aku hanya tertarik bukan menyukainya". Ariel melenggang pergi meninggalkan Shila yang menganga.


Shila menebarkan senyum manisnya seketika, "lalu bagaimana dengan dokter Gibran?". Shila tertawa cekikikan mengingat dokter Gibran juga tertarik dengan Vivi.


Vika dan Vivi langsung ke dapur, Ariel berjalan mengikuti Vivi lalu duduk di meja dapur.


"ada apa Tuan? apa Tuan membutuhkan sesuatu? ". tanya Vivi


"hmm.. buatkan aku minuman". pinta Ariel dengan tampang datarnya itu.


"kenapa Tuan Varel kak? ". bisik Vika dapat helaan nafas panjang dari Vivi.


"diamlah dek..! kakak harap kamu jangan terlalu syok nanti". jawab Vivi membuat Vika semakin kebingungan.


Vivi membuatkan minuman dingin lalu memberikannya ke Ariel yang langsung meneguknya sampai habis, Vivi sampai melebarkan matanya melihat hal itu apalagi jakun Ariel naik turun terlihat seksi segera ia menggeleng kepalanya untuk menyadarkan diri.


"apa Tuan Kehausan? ". tanya Vika


"hmm.. " Ariel menyahut seadaanya saja.


Vivi mengambil gelas yang tadi dipegang Ariel, Ariel dengan cepat memegang gelas yang sama hingga tangan Vivi dipegang oleh Ariel.


Vivi menoleh ke Ariel begitu juga Ariel, Vika membelalak tak percaya hingga dirinya menjatuhkan sendok masak yang dipegangnya.


"aaeehh? ". Vivi melepaskan tangannya namun tidak bisa menangkap gelasnya yang jatuh hingga pecah mengenai kaki Vivi


"aahh". ringis Vivi


Ariel berdiri dari duduknya, "dasar bodoh! ". decak Ariel menggendong Vivi dan mendudukkannya di tempat duduknya tadi.


"dimana kotak obatnya? ". tanya Ariel ke Vika

__ADS_1


"ehh? ". kaget Vika


"dimana Kotak obatnya? jangan buat aku mengulangi hal yang sama". Ariel berkata dengan nada dingin


"i. iya Tuan". Vika berlari ke Ruang tamu dan mengambil kotak obat lalu kembali ke Dapur memberikannya ke Ariel.


"tidak apa Tuan.. saya hanya kaget, saya bisa mengobatinya sendiri". cicit Vivi


Ariel menatap tajam ke arah Vivi yang terdiam melihat arah lain, alhasil Vivi diam saja seperti patung saat Ariel mengobati kakinya.


Vika mematung ditempat.


"apa yang kau lakukan? cepat bersihkan beling itu". titah Ariel ke Vika


"eeh..? iya Tuan". jawab Vika gelagapan


"ja.. jangan terlalu kasar pada adik saya Tuan". kata Vivi


"maaf..! ". ucap Ariel singkat membuat Vivi kaget tidak pernah Vivi mendengar Ariel mengucapkan kata maaf, tidak dengan Vika yang pernah mendengar Varel meminta maaf pada Shila.


Vika mengira Pria yang menolong Kakaknya adalah Varel, "kenapa sih ini? apa Tuan Varel menyukai kakakku? bagaimana dengan Kak Shila? udah jelas kemarin aku lihat Om Varel hanya peduli dengan Kak Shila lalu sekarang kenapa peduli dengan kakakku? apa jangan-jangan..?? tidak.. tidak.. jangan berpikir yang aneh-aneh Vika". batin Vika


Vika mengira Vivi berselingkuh dengan Varel tapi berpikir Vivi begitu mengagumi Shila tidak mungkin mau menjadi selingkuhan Varel.


"ada apa ini? ". tanya Varel didepan pintu bersama Shila disamping Varel.


Vika yang sudah membersihkan lantai masih memegang sapu menoleh ke arah suara itu, betapa syoknya Vika melihat ada Varel yang lain.


"k.. kok. ada 2 ?". gumam Vika dengan mata melebar syok melihat Varel dan Ariel bergantian.


bruughh..


"dek...! " pekik Vivi berdiri dari duduknya begitu juga Ariel


"Vika..? ". Shila melepaskan genggaman tangannya dari Varel berlari ke arah Vika


Vivi tanpa sengaja mendorong Ariel didepannya hingga terhuyung kesamping namun ditahan oleh Varel.


"kau tidak apa? ". tanya Varel


"hmm". Ariel berdiri membersihkan lututnya seolah ada debu menempel disana.


Vivi dan Shila mencoba membangunkan Vika yang pingsan, mereka menoleh ke Varel dan Ariel yang tampak berdebat mata.


"lebih baik kita bawa semampu kita kak? ". usul Shila dibalas anggukan oleh Vivi


alhasil Mereka berdua membopong Vika sebisanya tanpa meminta bantuan kedua penguasa hebat itu.


"kenapa kau datang kesini? ". tanya Varel sekali lagi


"terserahku". jawab Ariel


"tapi banyak yang belum tau kita saudara kembar bodoh, kau lihat membuat adik Maharani pingsan". tukas Varel


"kenapa jadi adik Shila? bukankah itu adiknya Vivi? ". balas Ariel


"diam saja kau". Varel

__ADS_1


"kau yang diam". Ariel


"dasar penguntit". ejek Varel


"kau yang penguntit". balas Ariel


"bisa diam tidak? ". ketus Varel


"kau yang seharusnya diam". Ariel


Varel berdecak begitu juga Ariel.


"berhenti mengikutiku..! " ucap Varel dan Ariel serentak.


.


Vika perlahan mengerjabkan matanya lalu melihat sekeliling dan matanya masih melihat Varel ada 2.


"dek..? ". Vivi


"Vika? kamu udah sadar? ". tanya Shila


"huuh...? kak? kenapa aku melihat Tuan Varel ada 2?". tanya Vika memejamkan matanya.


"begini dek.. ! Tuan Varel memang memiliki Saudara kembar". jelas Vivi


Vika terbelalak seketika, "hahh? ".


.


Vika akhirnya mengerti penjelasan Shila bahwa Varel memang ada 2 namun yang lainnya adalah Ariel saudara kembar Varel yang hilang sejak bayi.


sejak saat itu Vika harus bisa membiasakan dirinya melihat ada 2 pria tampan didalam Rumahnya, mereka juga tidak pernah membiarkan Bu Wilda masuk Rumah mereka, namun jika harus maka mereka akan mengurung Ariel di dalam kamar.


"maaf ya dek..! kakak harus kembali ke Jakarta nanti malam". ucap Shila ke Vika


Vika tersenyum senang, "tidak apa kak..! Vika senang dengan kedatangan kakak juga Tuan Tampan heheh". Vika melihat Varel dan Ariel sambil nyengir


Shila tersenyum manis merangkul manja Varel dan Varel mengecup kening Shila dengan mesra membuat Ariel malah bosan melihat mereka yang seperti itu.


"bisakah kakak datang ke Kampusku hari ini? ". tanya Vika malu-malu


"hah? maksudnya? ". tanya Shila


"ada acara di Kampusku kak, mereka terkadang selalu mengejekku berbohong saat aku bilang kalau aku dekat dengan Kak Shila". cicit Vika memilin jemari tangannya pertanda dirinya sedang gugup takut Shila menolak.


Shila tertawa mendengarnya, "baiklah, masih ada waktu ayo berangkat!". ajak Shila


Vika tersenyum cerah seketika, dengan semangat ia berganti pakaian membawa Shila karna Shila pergi otomatis Varel harus ikut, tinggallah Vivi bersama Ariel di dalam Rumah.


"kenapa aku harus mengalami hal ini? ". batin Vivi


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2