
.
.
Varel meletakkan tubuh Shila dengan hati-hati seolah yang ia gendong saat ini adalah kaca yang takut pecah jika di letakkan begitu saja, Varel mencium lama kening Shila lalu menyelimutinya.
Varel menatap Shila cukup lama tak puas sampai disitu ia mencium punggung tangan Shila, "sayang..! aku tau kamu bisa membedakanku dengannya, aku percaya kamu gadis yang pintar sayang". bisik Varel dengan lembut.
Varel memejamkan matanya, bayangan Pria yang temperamen begitu mirip dengannya membuatnya berdecak pelan, bagaimana tidak? jika selama ini Varel sangat bangga pada dirinya sendiri, tidak pernah ada yang bisa menggantikannya sekarang Tuhan seolah memberikan jawabannya ada Pria yang sangat mirip dengannya bisa menggantikannya.
"dosaku banyak sekali hingga Tuhan mempersulitku seperti sekarang". gumam Varel merasa dirinya begitu banyak dosa hingga masalah seperti ini menimpanya.
Varel tidak mungkin membunuh abang kandungnya sendiri, sebagai Pria yang kini telah punya hati berkat kekasihnya yaitu Shila bisa membayangkan betapa bencinya abangnya itu terhadapnya.
"hmm dia pasti membenciku, ya dia membenciku karna hidupku baik-baik saja bahkan bahagia dengan keluargaku, dia pasti tidak suka karna dianggap tiada". gumam Varel berjalan ke arah Ruangan kerjanya.
Varel berada di dalam Ruangannya lalu menarik nafas berkali-kali, ia benar-benar dilema dan meminta Nando dan Izal datang ke Mansionnya.
dengan wajah malas kedua sahabat baiknya itu datang, namun disambut baik oleh Jessy hingga kedua wajah pria tampan berbeda karakter itu berbinar seperti mendapatkan berlian murni.
"kalian makan apa nak..? biar tante buatkan! ". kata Jessy yang senang Varel sudah mau bergaul dengan manusia dan untuk pertama kalinya Jessy kedatangan tamu bukan urusan pekerjaan
"anakku sudah berubah! ". gumam Jessy begitu senang membuatkan minuman untuk Izal dan Nando.
"kalian sedang apa disini? aku kan suruh masuk? ". Varel datang dengan wajah datarnya yang super dingin
Izal dan Nando saling pandang ditempat, "kami disuruh tante Jessy". jawab keduanya serentak
"ck...! cepatlah ada yang ingin aku bahas dengan kalian berdua! ". Varel berbalik pergi
Nando dan Izal berdiri ditempat lalu berteriak pada Jessy yang masih didapur, mereka berlari menyusul Varel karna mereka tau wajah Varel terlihat serius.
Jessy menggerutu di dapur karna putranya begitu tidak sabaran,
ceklekk..!
pintu di tutup oleh Izal lalu berlari menyusul Nando dan Varel.
"ada apa tuan? ". tanya Nando
"aku mau menceritakan sesuatu". ujar Varel
"cerita apa? ". sahut Izal duduk disamping Nando
Nando dan Izal mendengar cerita Varel pun kompak ternganga lebar, sejak bersama Shila, Varel memang menjadi pribadi yang sedikit terbuka hal itu jujur membuat Varel menghangat, ia tau betapa tulusnya kedua temannya ini dan yakin tidak akan berkhianat.
tok.. tok..tookk..
__ADS_1
"tunggu sebentar..! ". Varel
Izal dan Nando mengangguk lalu datanglah Jessy sambil mengomel karna putranya mengunci Ruangan kerjanya.
"maaf Mom..! Varel berbicara bisnis dengan Izal yang mau ambil Apartemen baru". bohong Varel dengan serius
Jessy melihat ke arah Izal yang mengangguk-ngangguk seperti burung beo saja mengiyakan kebohongan Varel.
"sini Tante Nando bantu! ". Nando berlari kecil mengambil nampan minuman yang dibawa Jessy
"kamu manis sekali nak..! tidak seperti putraku yang dingin itu". senyum manis Jessy mengelus rahang Nando seperti putranya sendiri
Nando dan Izal hanya terkekeh karna tau Varel memang acuh serta arogan, Varel hanya memutar bola matanya dengan jengah karna tau mommynya itu suka menganak tirikan dirinya.
.
"lanjutkan! ". Nando berubah serius saat Jessy pergi dan Izal telah mengunci pintu Ruangan Varel.
.
brakhh...!
"dia gila apa ya? ". marah Izal
"aku rasa otaknya sudah tidak waras". decak Nando
"temui dia bagaimana? ". saran Izal
"temui? ". beo Varel
"apa kau fikir dia bisa diajak bicara? karakternya saja sama dengan Tuan Muda hanya saja Tuan Muda sedikit lebih baik". Nando
"lalu apa yang ku lakukan setelah menemuinya? ". tanya Varel seolah tertarik saran Izal
"tanyakan padanya baik-baik kenapa melakukan hal itu? jika dia menjelaskan bukankah semua masalah selesai? ". jelas Izal
"pikiranmu sangat rasional". gerutu Nando
"iya kan? aku benarkan? lalu apa masalahnya? ". Izal bertanya seakan tau apa yang dipikirkan Nando
"kau kenapa Nan? ". tanya Varel
"aku merasa Pria ini memusuhimu Tuan, entah apa alasannya aku rasa dia memang menginginkan posisimu, jika anda datang menemuinya secara pribadi aku yakin dia akan melakukan sesuatu padamu". Nando
"benar juga, kakinya terluka aku pernah dengar katanya itu terkena tembakan". Izal mengingat sesuatu
"astagah..! aku melupakan itu". decak Varel
__ADS_1
"melupakan apa? ". tanya Izal dan Nando
"aku menembaknya hari itu karna dia mengikuti Maharaniku dengan mobil serta plat mobil yang sama dengan milikku, ckk.. dia pasti semakin dendam padaku". Varel mengacak rambutnya frustasi
"tapi kan bukan kesalahanmu Rel, kau juga tidak tau dia itu abangmu kan? ". Izal menjelaskan
"aku tidak tau harus berkata apa?". Nando pun menggeleng kepalanya tak mengerti
mereka berbincang lama sampai jam 2 malam hingga tertidur dimasing-masing tempat, Nando tidur disofa sebrang, Izal tidur di lantai beralaskan kain tebal berlapis-lapis dan bantal dari ruang tamu, Varel tidur di meja kerjanya dengan posisi duduk bersandar.
Jessy membuka pintu Ruangan Kerja Varel karna ia memiliki kunci cadangan, betapa lembutnya senyum Jessy melihat keadaan itu.
"anakku benar-benar sudah berubah dan mau mempercayai manusia, Shila kamu benar-benar panutanku sayang..! kamu bisa merubah sifat putraku hanya dalam beberapa bulan sementara aku yang membesarkannya tidak bisa mengubahnya". gumam Jessy keluar dari Ruangan Varel dan mengunci pintu Ruangan Varel.
Jessy tidak tau apa yang dibahas putranya tapi Jessy yakin pasti mengenai masalah pribadi Varel apapun itu yang membuat Jessy senang adalah Varel cukup terbuka walau bukan padanya, biasanya Varel memendamnya sendiri.
Jessy masuk ke Kamar Varel dimana ada Shila disana.
"sayang..? ". Jessy mengelus sayang kepala Shila
Shila menggeliat manja lalu membuka matanya secara perlahan, "tante? ". Shila tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
dengan senang hati Jessy membantu Shila duduk, "kamu lelah nak? apa perlu tante pijitin? ". tanya Jessy memegang paha Shila
Shila terkekeh lalu mengucek matanya, "tante..? mana baju Shila? Shila mau mandi". rengeknya manja
"dengan senang hati menantu kesayangan Tante". balas Jessy dengan hormat hingga Shila mendengus namun pipinya merona.
Jessy dan Shila bersama-sama layaknya seorang ibu dan anak kandung ke dapur, lama-lama Vivi bergabung, mereka memasak untuk semua orang yang ada di mansion.
.
"wah.. wah.. masak besar nih..! ". Ramon begitu senang Mansionnya kedatangan Shila karna tau Jessy sangat mengasihi kekasih Putranya itu.
"iya Om..! ". senyum Shila mengembang
"mana Anak nakal itu? ". tanya Jessy berkacak pinggang.
"palingan lagi rebutan baju dengan kedua kawan karibnya". kekeh Ramon
semua saling pandang lalu terkikik, Varel yang sekarang berbeda dengan Varel yang dulu sebelum kenal Shila.
.
.
.
__ADS_1