
.
.
"Shilaaaaa". panggil Vivi begitu sabar
Shila terus saja berlari memasuki gedung Perusahaan Fox Group.
"permisi? ". Shila menatap 2 resepsionis penjaga tamu
kedua perempuan itu terkejut lalu dengan cepat menunduk sopan, "mari saya antar Nona! ".
Shila mengerutkan keningnya, "kalian tau aku ingin menemui siapa? ".
"mari Nona". ajak salah satu resepsionis tersenyum ramah.
Vivi mengikuti Shila karna ia tidak bisa membujuk Shila lagi, Nonanya memang baik hati tapi jika sudah keras kepala tidak akan mau mendengarkan perkataan orang lain, termasuk Papanya sendiri.
.
"rapat? ". tanya Shila
"iya Nona..! silahkan diketuk lalu masuklah! saya mohon undur diri Nona". ucap resepsionis itu dengan sopan
"Shila? jangan lakukan hal yang sama". peringatan Vivi
"maksud kakak? ". tanya Shila
"astagah Shila.. Rumormu yang melabrak penguasa Fox Group lalu menamparnya itu sudah menyebar kemana-mana". bisik Vivi
"tidak lah..! sekarang aku hanya minta tolong aja sama om Raffan". jawab Shila menepuk pundak Vivi
Vivi hanya bisa menghela nafas panjang, ia benar-benar tidak habis fikir bagaimana sifat Shila sebenarnya, dikatakan baik juga baik tapi juga ada sisi menyebalkannya seperti saat ini,
berapa kalipun Vivi mengatakan apa yang menimpa elis bukan salah Shila tapi tetap saja Shila merasa itu salahnya.
pintu Ruangan Rapat diketuk.
semua orang yang ada didalam Ruangan rapat beralih menatap ke arah pintu, saat ini mereka dimarah habis-habisan oleh Varel hanya karna sebuah spasi, titik, koma dan judul besar, masalah kecil bisa membuat mereka terkena imbas kemarahan Varel.
mereka senang namun juga gelisah, jika pengganggu maka orang itu akan terkena sembur berbisa Varel dan keuntungannya mereka tidak lagi dimarahin.
"Om? ". panggil Shila masuk ke Ruangan rapat Varel setelah mengetuk pintu
__ADS_1
Varel berdiri dari duduknya seketika melihat wajah kekasih hatinya yang selama 1 minggu ini begitu ia rindukan hingga menyiksanya.
Nando menghela nafas lega akhirnya pawangnya kemarahan Varel datang juga diwaktu yang sangat tepat, entah apa yang akan terjadi jika Shila tak juga datang menyapa Varel.
"akhirnya anda datang juga Nona.. selama 1 minggu ini kami begitu menderita". batin Nando menjerit
"Maharani? ". gumam Varel dengan tatapan sendu
"om ngapain? sibukkah? ". tanya Shila celingukan saat semua orang menatapnya.
"kalau begitu aku akan tunggu ". Shila berbalik
"tidak Maharani.. aku tidak sibuk". jawab Varel cepat.
"cepat membubarkan diri..! rapat selesai detik ini". kata Nando yang tau situasi Varel
semua karyawan Varel segera menyusun-nyusun berkas-berkas penting mereka, sementara Varel berjalan cepat ke arah Shila lalu memeluk Shila dengan erat hingga Shila melebarkan matanya.
"om.. ngapain peluk aku didepan karyawan om? apa om pikir ini sedang syuting? ". protes Shila
sementara yang melihat Varel memeluk Shila lemas seketika, berkas-berkas mereka yang sudah tersusun rapi malah berjatuhan lalu Nando menegur mereka semua untuk bergerak cepat.
Vivi juga mengikuti Nando tanpa berbicara, tinggallah Shila bersama Varel saja di Ruangan Rapat yang sangat luas itu.
"om sampai kapan memelukku? ". tanya Shila
"lagian om yang tidak menemuiku lalu kenapa om bilang rindu? ". gerutu Shila
"bukankah kamu terganggu olehku? aku tidak tau kapan harus menemuimu dan kapan tidak boleh menemuimu". Varel menggaruk tengkuknya yang terasa dingin
"kurangi harinya, kalau om mau datang jangan membuat heboh, terserah om mau menyamar atau tidak tapi yang jelas jangan membawa rombongan". jawab Shila
"rombongan? ". beo Varel
"Om Nando, kalian berdua jika sudah bersama gajah pun tidak bisa menutupi kalian". jawab Shila dengan kesal
Varel mengangguk-ngangguk, "jika aku datang sebagai OB atau apapun bisakan? asalkan tidak ada yang tau iya kan? ".
"iya..! ". jawab Shila membuat Varel beryes Ria seperti anak kecil hingga Shila terkikik pelan.
Varel membawa Shila ke Ruangannya, diam-diam banyak karyawan Varel yang mengintip termasuk Nando dan Vivi.
"benarkah? jadi selama 1 minggu ini kalian dimarah-marahin tidak jelas oleh Tuan Muda? ". bisik Vivi
__ADS_1
"iya.. Entah apa yang Nona katakan hingga Tuan Muda tidak bisa menemui Nona, walau mampu tidak bisa datang atau menelfon karna tidak mau mengganggu, Tuan Muda seperti orang tidak waras selama 1 minggu tidak bisa bertemu dengan Nona". balas Nando
"aku penasaran apa yang membuat Tuan Muda begitu takut menemui Shila, jadi jika Shila tidak datang kalian akan dimarah habis-habisan hanya karna kesalahan spasi, titik Koma di berkas kalian? ". tanya Vivi
"yaa..! Nona menyelamatkan kami semua". jawab Nando mengakui Shila penyelamat mereka semua.
.
Varel seperti pelayan mengambilkan segala macam minuman dan jajanan ringan untuk Shila, Shila hanya mampu tersenyum lalu mengambil susu botol lalu meminumnya untuk menghargai pemberian Varel
Varel menatap Shila dengan senyuman, ia sudah tidak waras selama 1 minggu ini tidak bisa menemui Shila hanya karna Shila benci dirinya yang pemaksa, pengacau pekerjaan Shila.
"om kenal Elis? ". tanya Shila
"siapa Elis? ". tanya Varel balik tidak mengerti
"dia wanita seksi yang menyatakan cinta ditangga darurat saat di Rumah Sakit, om si pria kejam yang menolak serta merendahkannya kan? ". tuding Shila
Varel terdiam, "maksudmu apa Maharani?". Varel tampak mengingat-ngingat sesuatu hingga dirinya tersadar akan sesuatu.
"jadi kamu si rambut indah itu? ". tanya Varel
"ooh.. ternyata om benar-benar si pria kejam ya?". tebak Shila dengan mata melebar galak
Varel menurunkan pandangannya, "lalu kenapa dengan wanita itu? ". tanya Varel tidak menatap Shila karna ia saat itu ia memang begitu kejam menolak perasaan wanita itu.
Varel saat itu tidak tau perasaan mencintai tentu saja ia tidak berperasaan menolak cinta orang lain, saat ini Varel sudah tau arti cinta dan mengerti betapa tak suka nya cinta nya di tolak.
Shila menahan senyum melihat gelagat Varel seperti bocah 10 tahun yang sedang bersiap di hukum karna mencuri uang mamanya.
Shila menjelaskan semuanya hingga wajah Varel menggelap seketika, "jadi dia mendatangimu? "
"tunggu dulu om..! aku bilang dengarkan aku terlebih dahulu, aku ingin om membantuku meminta maaf padanya, aku tidak sengaja membocorkan rahasianya yang menyatakan cinta pada om saat itu". jelas Shila
"kenapa kamu harus meminta maaf padanya? dia memang bersalah, niatnya saja jelas terasa saat kamu menceritakannya padaku, berhati-hatilah pada siapapun yang datang padamu Maharani, kamu jangan terlalu polos dan jangan mudah percaya pada orang asing". Varel
"jadi om tidak mau membantuku? percuma saja aku datang kesini! ". ketus Shila bangkit seketika lalu Varel dengan cepat memegang pergelangan tangan Shila
"bagaimana jika aku hanya klarifikasikan saja? aku bisa membantunya keluar dari masalah itu, tapi kita lakukan bertiga tanpa harus meminta maaf". saran Varel
Shila duduk disamping Varel, "bagaimana caranya?". tanya Shila
.
__ADS_1
.
.