
.
.
Varel memukul setirnya seketika saat ia tiba-tiba kehilangan jejak mobil Shila karna lampu merah.
sebenarnya Varel bisa saja mengejar tapi mobil dari arah lain sudah lalu lalang, Jika Varel memaksa maka akan terjadi kecelakaan sementara Varel belum menemukan Shila hal itu membuatnya berpikir untuk melawan lampu merah.
"seharusnya aku bawa mobilku tadi". decak Varel dengan geram karna jika Varel membawa mobilnya otomatis Varel tidak akan pernah terkena lampu merah jika sudah berada diposisi paling depan seperti saat ini.
"aku harus kabari Agus". gumam Varel dengan cepat menghubungi Agus
Agus mengatakan bahwa di dalam mobil yang dibawa Shila ada alat pelacaknya, dengan cepat Varel menerima pesan berupa aplikasi pelacak dimobil Shila dari Agus.
Varel tiba di sebuah hutan dan mobilnya Shila ada di sana, ia segera keluar dan memeriksa isi didalamnya.
"aaakkhhhh". Varel berteriak memaki lalu mengedarkan pandangannya.
"dia pasti naik mobil lain". Varel menenangkan diri untuk berpikir jernih
Varel bisa menemukan apapun dengan cepat yaitu kurang dari 8 jam tapi menunggu 1 jam saja sudah membuat Varel gila, Varel tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Shila terlebih lagi Shila adalah kelemahannya hingga ia tidak bisa bersabar.
"Tuan? ". Nando keluar dari mobil dengan langkah terburu-buru diikuti orang-orang bayaran utusan Varel.
"dimana Nona Muda Tuan? ". tanya Nando melihat mobil Shila terbuka lebar tapi tidak ada Shila di dalam sana.
"cepat berpencar..! dia pasti berada disekitar sini". titah Varel
"baik Tuan Muda". jawab seluruhnya segera masuk ke mobil masing-masing dan berpencar arah
"kita masuk hutan Nan! ". ajak Varel
"hutan ini Tuan? ". tanya Nando
"ya mana lagi hutan menurutmu?". bentak Varel yang sedang kalap
Nando dengan cepat bergerak mengikuti Varel, ia tidak marah akan bentakan Varel karna menurutnya sangat wajar Varel begitu marah tidak berhasil melindungi Shila.
.
.
di tempat lain
__ADS_1
Shila perlahan bangun lalu meringis seketika memegang dahi juga pelipisnya yang terasa masih berdenyut.
"aissh..! sakitnya..! dimana ini? ". gumam Shila mengedarkan pandangannya
Shila melebarkan matanya seketika melihat semua dinding yang ada disekelilingnya kini ada potret dirinya
"a.. apa ini? ". gumam Shila merinding takut seketika
foto-foto Shila yang tidak pernah ada kini ada di sekelilingnya, hal itu membuatnya takut bahkan saat ada di Jerman bersama Varel pun ada di setiap dinding
"aaahhh". kaget Shila melihat ada pisau kecil menancap di potret Varel yang tengah menangkup pipi Shila, entah darah apa yang ada di gambar itu jelas sekali orang yang menculiknya membenci Varel seperti ingin melenyapkannya.
"dimana ini?? kenapa aku bisa disini?". gumam Shila akhirnya ia teringat saat terakhir ia mencoba kabur dari Varel malah berujung petaka baginya.
"aku harus pergi mencari kak Vivi". gumam Shila berlari ke arah pintu namun pintunya di kunci hingga Shila tidak bisa keluar.
"dikunci?? ". kesal Shila berlari ke arah jendela yang ternyata dipenuhi besi hingga untuk melompat dari jendela kaca itu pun Shila tidak bisa.
"siapapun toloonggg akuuuu!! ". jerit Shila menggema di hutan terpencil itu
Shila melebarkan matanya mendengar suaranya sendiri menggema seolah tempat ini ada didalam gua saja.
"siapa yang melakukan ini padaku?? dimana kak Vivi?? ". gumam Shila dengan khawatir
"Pak Carol..?". Shila membelalak melihat pria yang beberapa puluh jam yang lalu membuatnya ketakutan.
"aku datang membawa makan siang untukmu sayang..! ". kata Carol dengan senyuman manisnya
"kenapa bapak bisa disini? dimana ini? dimana kak Vivi? ". tanya Shila dengan dingin dan menahan amarah.
"aku mengurungnya di gudang karna tidak berguna". jawab Carol mendekati Shila membawa makan siang ala barat untuk Shila.
"makanlah! kamu tenang saja sayang! tidak ada yang bisa memisahkan kita, rumah ini sangat aman untuk masa depan kita". kata Carol dengan senyuman manisnya menatap Shila begitu memuja.
Shila melangkah mundur, "pergi..! aku tidak mau hidup denganmu". bentak Shila
Carol menyeringai, "sayangnya tidak ada jawaban lain selain menerima keadaanmu sekarang sayang"
"lepaskan aku pak..! aku masih mencintai Papaku.. tidak ada pria lain yang bisa menggantikannya dihatiku." teriak Shila
"jangan berteriak..! nanti suaramu emasmu rusak, disini tidak ada rumah sakit, hanya ada kita berdua hahaha". tawa senang Carol
mata Shila memerah darah, "lepaskan aku!! ".
__ADS_1
"makanlah..! jangan pernah bermimpi untuk lepas dari sangkar emasku ini". kata Carol menyodorkan makanan nya pada Shila
Shila mendorong kasar makanan itu hingga berserak dilantai, minuman seperti jus, susu, serta air putih juga bertumpahan disana,
"aku bilang lepaskan akuuu!! aku tidak mau disiniii". jerit Shila mengacak-ngacak rambutnya
Carol memegang tangan Shila lalu berusaha menenangkannya dengan senyuman.
"kita akan bahagia disini sayang..! papamu akan merestui kita jika kita sudah punya anak, jadi bersabarlah denganku kalau tidak papamu akan mati ditanganku". ancam Carol dengan tak tau malunya
Shila semakin terbakar amarah mendengarnya, ia meninju Carol hingga tersungkur mengenai sudut lemari kecil dan beling-beling kaca.
Shila mengambil garpu serta pisau yang tergeletak dilantai.
"aku hidup demi papaku tapi kau mengancam akan membunuh papaku?? siapa kau hah?? kau fikir kau itu Tuhannn??? ". maki Shila menggebu-gebu
"ahhh". Carol berusaha bangkit dan melepaskan beling-beling kaca yang tersangkut di lengannya hingga darah bercucur keluar dari luka-luka itu.
"tenang Sayang..! tenang..! aku tidak akan melakukan KDRT padamu, aku mencintaimu". kata Carol masih berusaha tersenyum melihat Shila walau tubuhnya terluka karna Shila.
"aku benci semua ini...! lepaskan akuuu! ". teriak Shila menggema
Carol berusaha mendekat dan Shila mengacungkan pisaunya, "jangan mendekat..! ". kata Shila dengan penuh pengancaman.
Carol memegang pergelangan tangan Shila, Shila menangkis dan berusaha melawan,
"kamu kuat juga sayang". kata Carol dengan senyuman bangga nya.
Shila semakin geram dengan pria gila ini, ia menyerang kembali hingga Carol cukup kewalahan terlebih lagi ia penuh dengan luka beling kaca hingga dirinya tidak bisa menjatuhkan Shila.
Carol mendapatkan pisau Shila selama pertarungan, "menyerahlah sayang !". kata Carol terbatuk membuang pisau itu keluar kamar itu.
Shila mengeluarkan sendok garpu lalu menancapkannya di paha Carol hingga Pria itu menjerit lalu mendorongnya hingga terjengkang dan Shila mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.
Shila dengan cepat mengunci kamar itu dengan terburu-buru, sementara Carol yang tidak bisa berlari terlambat datang menggedor-gedor pintu kamar itu.
"besi ini juga perlu". gumam Shila menggembok besi pintu yang ada dikamar itu juga.
"dia mengerikan..! sejak kapan dia membuat kamar seperti penjara ini". gumam Shila mengambil pisau tadi dan berlari membawa kunci kamar itu.
.
.
__ADS_1
.