
.
.
ke esokan harinya.
"Shila..? ". panggil Vivi
"hmm? ". sahut Shila menatap Vivi dengan linglung
"kamu kenapa sih? dari tadi aku lihat kamu melamun? kamu mikir apa?? ". tanya Vivi
"Bang Leon? ah.. maksudku Dokter Leon yang membantuku sebelumnya pergi ke Luar Negri untuk Sekolah". jawab Shila
"lalu? apa masalahnya? ". tanya Vivi
"bang Leon bilang dia ingin melupakan perempuan yang dicintainya karna sudah menjadi milik orang lain". jawab Shila
"siapa yang dia cintai? kamu? ". Tebak Vivi asal
"hah? kakak bicara apa sih? ". tanya Shila dengan lirikan kesalnya
"kenapa emangnya? ". tanya Vivi malah bingung karna ia merasa perkataan tidaklah sebuah dosa
"dia abangku tidak mungkin dia mencintaiku". jelas Shila menegaskan
"ck.. kalian bahkan tidak sedarah kenapa dia tidak boleh mencintaimu, kamu yang menganggapnya abang tapi dia tidak". jelas Vivi dengan entengnya
Shila tersentak, "a.. apa? ".
"lihat..? kamu pura-pura bodoh lagi, aku pernah dengar abangmu itu melamarmu kan? tapi kamu bilang dia hanya mengasihanimu". dengus Vivi
Shila lagi-lagi menyadarinya, "..m.. ma.. maksud kakak dr. Leon tidak bercanda? ".
"tentu saja..! bisa saja yang dia katakan benar, bercanda seorang abang kandung juga ada batasnya, tapi dia bukan abang kandungmu kan? berhentilah membuat orang lain kesal dengan pikiranmu itu yang terlalu sempit". ejek Vivi dengan cibiran khasnya.
Shila mengerucutkan bibirnya tapi ia dalam berpikir, masalah Dr. Leon, "sebelum dia pergi bang leon memang mengajakku menikah dan hidup disana, sudah 2 kali dia mengajak menikah denganku".
"nah.. aku sekali mendengarnya saja langsung faham, bukankah dia mencintaimu? perempuan yang dia cintai itu kamu yang sudah dimiliki Tuan Muda Fox Group". kekeh Vivi merasa gemas dengan otak polos dan bodoh Shila
Shila melebarkan matanya, "ja.. ja.. jadi? "
__ADS_1
"yaaa...! selamat menikmati kebodohanmu itu ya?". kekeh Vivi yang sudah menganggap Shila sebagai sahabat baiknya begitu juga sebaliknya.
Shila memberengut, ia tidak menyangka Leon benar-benar mencintainya, Shila kan tidak akan peka jika tidak diungkapkan malah memberi teka-teki yang Shila tidak akan pernah bisa menebaknya jika tidak ada yang menjelaskannya (Vivi)
"mana aku tau bang Leon menyukaiku, Om Raffan aja mengungkapkan perasaannya tapi bang Leon malah...? ". Ucap Shila tergantung
"dia mengungkapkannya Shila..! hanya saja ungkapannya lain dari pria lain, yaitu melamarmu.. oh Shila artisku.. kenapa kamu polos sekali? mana ada orang yang mengajak menikah itu main-main hmm? menikah itu sesuatu yang sakral dimata agama dan hukum, dia sangat serius padamu". jelas Vivi yang mulai pusing dengan belaan Shila seolah dia tidak bersalah saja karna tidak tau perasaan Leon
"sudah.. sudah.. aku tau sekarang, lalu aku harus bagaimana? bang Leon sudah pergi tadi malam". gerutu Shila memukul-mukul kepalanya.
"kenapa kamu malah memukul kepalamu sendiri? ". tanya Vivi khawatir memegang tangan Shila
"aku tidak menyadarinya sama sekali, aku pasti menyakitinya tanpa tau apa-apa aku hanya mengganggapnya abang". kata Shila berkaca-kaca seketika
Vivi memeluk Shila dan menenangkan Shila, "kamu tidak tau karna kamu besar didesa Shila, kamu tidak tau karna tidak pernah bergaul dengan manusia disana, aku yakin kamu seperti ini lah yang membuat lawan jenismu tertarik padamu tapi kamu malah tidak..? hatimu sangat polos Shila, aku tau itu hanya saja aku sering membantu mencerahkannya kan? jangan sedih ya?". Vivi merasa bersalah sudah memberi tau Shila soal perasaan Dr Leon hingga Shila malah merasa bersalah karna tidak apa-apa padahal dirinya sudah sangat melukai hati pria yang sudah dianggap abang olehnya itu.
"aku harus bagaimana kak? apa bang Leon membenciku? ". tanya Shila dengan nada bergetar
"tidak..! dia tidak akan membencimu". jawab Vivi begitu yakin
"sekarang kita kerja ya?". bujuk Vivi
"bekerja bisa menyibukkanmu hingga tidak akan kepikiran hal lain". jelas Vivi dibalas anggukan oleh Shila.
.
"ada apa Tuan? ". tanya sang sekretaris pria
"dia ingin mengcasting Nona Shila dengan iklan celan* dal*m, orang ini benar-benar meremehkan kita". geram Heri yang sangat tau Shila begitu istimewa bagi atasan tertingginya yaitu Varel.
"Ya Tuhan..! ini mengerikan.. Tuan anda harus menolaknya dengan keras, Nona muda bukan artis yang seperti ini". tegas pria itu yang juga seorang pekerja setia Varel.
"ya.. aku akan lakukan itu, aku akan memakinya". Heri berjalan cepat membawa berkas itu
.
.
"ada apa ini kak? ". tanya Shila melihat keributan di gedung Entertainmentnya.
"aku tadi dengar dari bawah katanya pak Heri menuntut Perusahaan celan* dal*m". jawab Vivi
__ADS_1
"kenapa? kesalahan apa yang mereka buat hingga Pak direktur menuntutnya? ". tanya Shila dengan heran
"coba kita tanya". ajak Vivi
.
Shila melebarkan matanya mendengar alasan Direkturnya menuntut Perusahaan itu, ternyata karna berani menawarkan iklan dalam*n itu untuk Shila.
"a.. aku? ". cicit Shila
"maafkan saya Nona Shila.. saya sudah menuntutnya, beberapa hari lagi kami akan sidang, berani sekali dia menawarkan iklan tidak senonoh pada Kekasih Tuan Muda Saya". decak direktur Fox Entertainment.
Vivi berdecak kagum akan kata-kata direktur itu yang seolah memiliki sifat 2% dari Varel, ia akhirnya mengerti mengapa Pria ini diangkat menjadi direktur menggantikan Bangkara yang si tua bangka gila ranj*ng.
Shila menerima panggilan Vidio dari luar negri, ia menjawabnya setelah meminta izin.
"jangan mengasihani Perusahaan itu sayang? aku akan menuntutnya sampai jatuh bangkrut, dasar Pria kotor, berani sekali dia menawarkan iklan itu padamu dengan bayaran tinggi? apa dia pikir aku tidak punya uang? aku akan membuatnya jatuh miskin, kamu jangan membelanya sayang". kata Varel dengan serius tiba-tiba
Shila tersenyum, saat ini pikiran Shila kacau karna masalah perasaan dokter Leon tapi Pria menyebalkan ini muncul membuatnya sedikit melupakan rasa bersalahnya pada Leon.
"kenapa kamu diam sayang? jangan bilang kamu mengasihaninya". Varel memicingkan matanya
Shila menggeleng kepalanya pelan sambil tersenyum, "om sangat keren kok! ".
Varel menebarkan senyum menawannya, "aku ingin mencium mu sayang, aku begitu merindukanmu". kata Varel
Shila lagi-lagi tersenyum, "om cab*l jangan macam-macam jika tidak ingin aku tuntut". ancam Shila
"tidak lucu saat disidang aku dihukum karna mencium kekasihku sendiri sayang, apa kamu mau membuat gempar dunia? ". kekeh gemas Varel
Shila menggeleng-geleng kepalanya, "aku menuntut karn om cab*l ". jawabnya enteng
"apa buktinya? ". tanya Varel
"apa perlu bukti? bukankah kata-kataku sudah bukti? siapa yang berani mengatai om Cab*l hmm? lagian om pasti dengan senang hati masuk ke penjara tanpa perlawanan kan? ". Shila berkata dengan percaya diri
Varel tertawa disebrang sana, ia membayangkan masuk penjara karna mencium kekasihnya sendiri juga dikatai cab*l.
.
.
__ADS_1
.