
.
.
"aku memiliki Saudara kembar yang terpisah dari kami sejak bayi". kata Varel dengan serius membuat semua orang saling pandang tidak mengerti
Jessy menarik nafas perlahan lalu menceritakan secara singkat kejadian masa lalunya, dibantu oleh Ramon hingga suasana begitu hening di Ruangan luas itu.
"lalu dimana saudara kembar anda Tuan? ". tanya salah satu reporter
Varel, Ramon dan Jessy menoleh kebelakang hingga 2 Pria tampan muncul dan salah satunya memiliki bentuk tubuh dan wajah yang sama seperti Varel.
Nando membukakan kursi Untuk Ariel dan Frans, semua mata melotot sempurna melihat pemandangan itu.
"jadi begitu ceritanya Tuan Ariel bisa terpisah dari Keluarganya Shila? ". tanya Vivi berbisik
"iya". jawab Shila
"kasihan sekali". bisik Vivi
"hmmm..! tapi kakak boleh tanggung jawab". ucap Shila berbisik
"hmm? maksudmu apa? ". tanya Vivi
Shila tersenyum, "terkadang kakak polos juga ya? kakak selalu mengatakan aku bodoh karna tidak menyadari perasaan abang Leon dan Om Varel padaku, tapi kakak sendiri tidak sadar tuh om Ariel menyukai kakak".
Vivi melebarkan matanya, "jangan bicara aneh-aneh Shil, Tuan Ariel itu hanya suka menyuruh-nyuruh kakak aja tidak lebih, dan juga kalau dia memang suka sama kakak apa tidak ada perempuan seksi dan cantik di negara ini? haha.. jangan melucu Shil aku tidak sebodoh itu".
Shila berdecak sambil menggeleng-geleng kepalanya, "kakak memang bodoh juga kadang-kadang". gumam Shila
"kamu bilang apa Shila? ". tanya Vivi
"tidak ada". jawab Shila tersenyum
Vivi melihat ke arah Ariel dan Varel, benar-benar pinang dibelah dua bahkan para reporter sibuk mewawancarai kedua Pria tampan yang sangat sempurna dimata perempuan itu, serta ketampanan Frans kini juga di sorot. Keluarga Jessy dan Ramon memiliki 3 orang Putra yang sangat tampan.
"Tuan Ariel menyukaiku? apa mungkin? tidak.. tidak... tidak.. jangan berpikir terlalu tinggi Vivi nanti kamu jatuhnya akan terasa begitu sakit, jangan berharap banyak...! dia hanya suka menyuruh-nyuruhmu saja". batin Vivi merendah
terkadang Vivi memang merasa Ariel menaruh hati padanya tapi kalau Vivi bercermin maka perasaan di sukai itu akan hancur lebur seketika, bagaimana bisa Pria sehebat dan setampan Ariel jatuh cinta pada gadis jelek sepertinya bahkan tidak ada cantik-cantiknya sama sekali.
sebenarnya Vivi tidak jelek tapi kalau dilihat-lihat Vivi manis dan imut, hanya saja dirinya bukan artis yang harus menjaga penampilan hingga hampir tidak pernah berdandan bahkan wajah Vivi alami memiliki kulit yang lembut seperti bayi saja sangat manis apalagi jika berdandan pasti juga cantik.
.
Aham dan Rion menganga lebar mendengar pengakuan Varel dan Ariel.
__ADS_1
"..ad.. ada apa ini? apa Tuan kita benar-benar tidak ingin balas dendam lagi? ". tanya Rion
"bukankah kau sudah dengar hari itu mis? biarkan Tuan kita membersihkan hatinya yang sudah sekeras baja itu, aku penasaran dengan Gadisnya itu". gumam Aham melirik Vivi
Vivi bangkit dari duduknya dan berbisik pada Shila lalu Aham bisa melihat Vivi keluar dari bangunan dengan cepat Aham keluar meninggalkan Rion sikumis yang sibuk mengoceh tidak sadar Aham sudah menghilang dari sisinya.
Vivi pergi ke toilet lalu setelah itu ia keluar dari gedung dan duduk di bangku panjang yang ada di taman gedung, Vivi menatap lurus kedepan.
"apa aku terlalu berandai-andai? apa semua yang dikatakan media benar? apa Tuan Ariel memang menyukaiku? tapi bagaimana bisa? Tuhan... Ku mohon hilangkan Perasaanku ini, aku tidak mau patah hati hanya karna menyukai seorang dewa di dunia manusia ini". batin Vivi meratap sedih.
Aham menatap punggung Vivi, "kenapa dia? apa sedih? aku harus menguji apakah dia pantas dengan Tuanku atau tidak? ". gumam Aham
Aham memang tampan, ia sering melakukan hal itu untuk menguji seorang perempuan yang begitu berani mendekati Tuannya, tapi kali ini Tuannya lah yang mendekati gadis biasa ini, tentu ia harus mengujinya.
"hai...? ". Aham datang menebarkan senyum termanisnya.
Vivi melirik sekilas, dirinya sedang sedih jadi tidak ada waktu untuk berbinar melihat makhluk ciptaan Tuhan yang indah itu.
"boleh aku duduk disampingmu? ". tanya Aham
Vivi melirik tempat duduknya, ia beranjak kesamping dan memberi tempat yang begitu luas pada Aham.
Aham duduk lebih dekat dengan Vivi hingga Vivi berdecak melihat Aham, "kau sedang apa? ". tanya Vivi dengan galak.
"menjauh dariku! ". Vivi mendorong kesamping Aham hingga pria itu kembali tertegun dengan tingkah Vivi.
"hei.. kau buta? aku sangat tampan kau berani mengusirku? ". tanya Aham kini kehilangan kesabarannya malah memarahi Vivi
Vivi mengabaikannya hingga Aham menganga, apa dirinya kurang tampan sekarang hingga Vivi mengacuhkannya.
Vivi berdiri dari duduknya dan hendak pergi tapi tangannya dicekal oleh Aham hingga Vivi menoleh,
"apa aku kurang tampan? ". tanya Aham dengan raut wajah bodohnya.
Vivi menatap wajah Aham dengan seksama, "sekarang aku bertanya apa kau bodoh?? ".
"apaa? ". Aham membelalak
"kau tidak lihat aku gadis jelata? kenapa kau mendekatiku? pakaianku dan juga penampilanku kau bisa menilainya kan?? dan juga kalau cuma untuk main-main pergi sana jauh-jauh, aku tidak ada waktu melayani pria aneh sepertimu, asal kau tau ya? diluar sana banyak perempuan seksi dan cantik melebihi diriku yang rela melebarkan pah*nya untukmu secara cuma-cuma, kalau kau tidak mau disebut BODOH maka kau cari saja mereka jangan akuu...! MENGERTI...!! ". cerocos Vivi melampiaskan amarahnya pada Aham.
Aham melepaskan tangan Vivi dengan mata melebar kaget, Vivi melenggang pergi meninggalkan Aham.
"apa dia barusan mengomel tanpa bernafas?". gumam Aham syok baru pertama kalinya ia mendengar seorang gadis memarahinya
.
__ADS_1
"kakak dari mana? ". tanya Shila
"huuh.. aku sakit perut lama di dalam toilet". jawab Vivi berbohong
Shila mengangguk, "mereka mulai kerepotan! ". bisik Shila
Vivi melihat ke arah Ariel, Vivi menggeleng kepalanya seketika membuang jauh-jauh pikiran merasa disukai itu.
"Shila.. aku pulang ya? ". bisik Vivi
"kenapa kak? ". tanya Shila menautkan kedua alisnya bingung.
"sepertinya aku harus minum obat, perutku masih sakit! ". jawab Vivi berbohong.
"benarkah? kenapa tidak ke Rumah Sakit? ". tanya Shila
"tidak lah Shila, aku ke Apartemenku aja". jawab Vivi tersenyum
Shila bisa melihat wajah Vivi memang sedikit pucat, ia mengelus pipi Vivi.
"ya udah kakak bawa aja mobilnya, aku akan pulang sama om Raffan". kata Shila
Vivi mengangguk, "jangan kemana-mana ya? ".
"iya". jawab Shila dengan patuh
.
"aku dan kekasihku hubungan kami baik-baik saja, jadi ku mohon pada kalian semua untuk tidak meragukan kekasihku lagi". kata Varel dengan raut wajah dinginnya ke para wartawan.
Ariel mengedarkan pandangannya tak menemukan gadis manisnya (Vivi ) disekitar Shila.
"dimana dia? ". batin Ariel menaikkan sebelah alisnya.
Aham kembali ke sisi Rion hingga Pria berkumis itu memarahi Aham yang pergi tanpa bicara apa-apa.
"diamlah..! ". ketus Aham memukul mulut Rion yang berisik sekali didengarnya.
"Tuan..? apa anda menyukai gadis itu karna cerewetnya? ". batin Aham melihat jelas Ariel tampak mencari sesuatu yang ia yakini itu adalah Vivi.
.
.
.
__ADS_1