
.
.
Vivi cukup kesulitan membawa Ariel yang berat badannya diatas berat badannya, diam-diam Ariel membuka matanya dan mengulas senyum tipisnya.
.
"huh.. huh...! Lelahnyaa". Vivi terduduk lemas di lantai sambil terengah-engah
"kenapa Tuan begitu merepotkan sih? bagaimana caraku membantu Tuan?". gerutu Vivi
"apalagi? tinggal obati kan?, Mommyku bisa marah jika sore ini aku kembali dalam keadaan sakit". jawab Ariel
"kenapa? kau fikir tubuhku bervirus? ". tanya Ariel membuka matanya menatap Vivi yang duduk dilantai terlihat berpikir keras.
"bukan begitu, Tubuh Tuan bisa lecet dipegang oleh tangan Gadis Rakyat jelata sepertiku". jawab Vivi
Ariel mengerutkan keningnya, "ckk.. jangan berpikir macam-macam, cepat carikan aku obat sakit kepala!".
"iya Tuan". jawab Vivi berdiri dan mencarikan Ariel obat sakit kepala, entah apa yang terjadi dengan Kepala Ariel hingga bisa sakit.
"mana airnya? ". tanya Ariel yang sudah duduk namun yang diberikan Vivi hanya obat saja.
"hah? pake air? ". tanya Vivi
"kau bertanya padaku? kau fikir aku bisa menelan obat sebesar ini tanpa minum air?". Ariel berdecak
"ohh.. Tuan Kaya minum obat harus pakai air ya? ". gumam Vivi mengangguk-ngangguk sambil beranjak dari duduknya dilantai dan meninggalkan Ariel yang menganga.
Vivi kembali, "ini Tuan". Vivi menyodorkan minuman hangat yang ia bawa
"Dasar Tuan Pesuruh! ". batin Vivi
Ariel meminum obatnya lalu meneguk airnya sampai habis, lalu memberikan gelasnya ke Vivi
"kau berbicara seperti tadi, apa kau minum obat tanpa air? ". ejek Ariel
"iya". jawab Vivi membuat Ariel terdiam lalu berdehem pelan.
"dasar aneh..!". sindir Ariel
Vivi diam saja sambil mengeluarkan ponselnya mengirim pesan pada Vika bahwa dirinya telah sampai di Rumah.
"kenapa kau duduk dilantai? ". tanya Ariel
"jangan berisik Tuan, lebih baik Tuan tidur lalu pergi dari Rumah saya setelah baikan ok? ". Vivi bangkit dan melenggang pergi meninggalkan Ariel yang menjatuhkan rahangnya.
"kau mengusirku? ". Ariel
"....?".
"untung saja kepalaku sakit, jika tidak sudah habis kau ku buat". gerutu Ariel memegang kepalanya yang masih berdenyut.
.
.
__ADS_1
malam hari sekitar jam 7 malam
"Tuan..? ". panggil Vivi
"Tuaaannnn??? ". teriak Vivi
Ariel membuka matanya, "kau berisik sekali! suaramu jelek".
"sudah jam 7 malam, bukankah anda bilang ada yang harus anda urus? kenapa belum bangun juga? ". cecar Vivi yang suaranya memang sedikit serak
Vivi bahkan lebih memilih berteriak membangunkan Ariel hingga suaranya habis dari pada menyentuh tubuh emas Ariel, sungguh ia trauma akan hal itu kecuali Ariel yang memintanya itu pun karna Vivi terpaksa memegang tubuh Ariel, kalau tidak ya Vivi tidak akan berani.
"benarkah?". Ariel bangkit memegang kepalanya yang sudah lebih baikan.
"selimutmu kotor, berikan pada Laundry aku akan membayar biayanya". Ariel melihat selimut Vivi basah karna keringatnya yang bercucur tadi.
"tidak apa Tuan, saya bisa mencucinya". jawab Vivi
"kenapa kau tidak hidupkan AC nya? jangan bilang kau pelit denganku?". tanya Ariel
"Tuan jika sedang sakit tidak boleh pake AC harus berkeringat supaya racun dalam tubuh anda keluar". jelas Vivi
"racun? kau fikir tubuhku beracun? ". tanya Ariel
"bukan Racun yang seperti itu juga, hmm itu racun yang membuat kepala anda sakit". jawab Vivi merasa manusia paling sabar didunia ini.
awalnya Vivi mengagumi Varel dan juga Ariel tapi tak diduga Ariel begitu menyebalkan, entah bagaimana Shila bisa mengatasi sifat yang sama seperti itu, Vivi akui Shila memang sangat hebat.
"ckk..! ya sudah aku pulang, lain kali aku akan bayar hutangku". kata Ariel mencoba untuk berdiri
"Tuan? apa Tuan bisa berjalan? ". tanya Vivi
"kenapa kau menghindar? bukankah kau bisa menangkapku? ". tanya Ariel dengan tatapan tajamnya
"ke.. kenapa saya harus menangkap Tuan? nanti jika terjadi adegan di TV-TV itu bagaimana?". jawab Vivi dengan takut-takut sambil menundukkan wajahnya
"apa kau korban Sinetron? ". ejek Ariel padahal niatnya juga begitu namun Vivi bisa menebaknya tentu ia tidak mau mengaku
"kau sama sekali tidak ada manisnya". gerutu Ariel meninggalkan Vivi
Vivi menautkan kedua alisnya, "kenapa aku harus bertingkah manis padanya? dasar Tuan Pesuruh".
tring.. tringg.. (pertanda Ariel sudah keluar dari Apartemennya).
"apa dia pikir ini Rumahnya? apa tidak ada Rumah Sakit? kenapa kepalanya bisa sakit? apa dia pikir aku seorang perawat? suka-sukanya saja menyuruhku, kalau bukan karna Atasan tertinggiku sudah aku omeli dia sepanjang Rel kereta api biar panas sekalian kupingnya itu, aku bisa ngerap tanpa jeda". omel Vivi dalam satu tarikan nafas.
jika Ariel mendengarnya pasti sudah tertawa lepas Pria tampan itu tapi sayangnya Ariel tidak mendengarnya sama sekali.
.
sesampainya di Mansion Ariel disambut oleh Jessy yang begitu khawatir dengan keadaannya.
"benarkah mom? ". Ariel melihat layar ponselnya ternyata banyak panggilan tak terjawab dari mommynya.
"Maaf Mom". senyum Ariel
Jessy pun mengangguk lalu mengelus rahang Ariel, "biarkan Papimu yang datang ke acara itu ya? kamu pasti lelah nak istirahatlah, percayakan semuanya pada papimu".
__ADS_1
"Papi yang pergi ke sana Mom? dengan siapa? ". tanya Ariel
"sama Nando". jawab Jessy
"terimakasih mom". ucap Ariel yang hatinya begitu menghangat dapat perhatian dari Jessy
"iya sayang..! sana pergilah, tapi tunggu kenapa bajumu basah nak? apa kamu kehujanan? ". tanya Jessy khawatir
"hmmm.. Tadi aku ketiduran di tempat pengap mom, ya beginilah". jelas Ariel
Jessy tidak mengerti namun dilihat dari cara Ariel menjawabnya tidak mau menatap mata Jessy seolah tau Ariel sedang tidak mau membahas hal itu.
"baiklah, mommy tidak akan bertanya, bersihkan tubuhmu jangan sampai sakit ya? ". Jessy berkata lembut
.
di dalam kamar mandi.
"apa aku bisa berpisah dari mereka? bagaimana ekspresi mommy saat tau kalau aku Bukan Varel tapi Ariel, bagaimana caraku menjelaskannya?". gumam Ariel dibawah pancuran shower.
Ariel bosan dianggap Varel, ia ingin mengakui segalanya ke Jessy, Ramon dan Frans bahwa dirinya adalah Ariel bukan Varel supaya keluarganya menyayanginya setara dengan Varel dan juga tidak memanggil namanya Varel melainkan Ariel.
.
"ada apa nak? kenapa kamu mengumpulkan kami disini? ". tanya Jessy
"kenapa Rel? apa ada masalah? ". tanya Ramon
"ada apa sih bang? udah ngantuk nih! ". gerutu Frans
Ariel menatap mereka satu persatu, "aku ingin kalian mendengarkan pengakuanku! ". ujar Ariel dengan serius
DeG...!
mereka saling pandang dengan debar jantung masing-masing,
"pengakuan? ". beo Frans, Jessy dan Ramon serentak.
"hmmm..! " Ariel memejamkan matanya lalu membukanya setelah merasa siap.
"aku bukan Varel". kata Ariel
"ll...laalu? ". tanya Jessy
Ariel menatap Jessy dengan tanda tanya, "Lalu? ". beo Ariel seakan tidak percaya respon keluarganya itu.
"mau mu apa nak? apa kamu mau meninggalkan kami? ". tanya Ramon
"abang jangan macam-macam ! aku suka dengan abang yang tidak pelit tidak seperti bang Varel yang sangat pelit". Frans
Ariel mengerjabkan matanya melihat mereka satu persatu, "K.. kalian sudah tau? ".
.
.
.
__ADS_1