
.
.
Shila berpamitan dengan Jessy, Ramon dan Varel.
di bandara Varel sendiri yang mengantar Shila bersama Vivi dan Nando.
"om mau oleh-oleh apa dari aku? ". tanya Shila tersenyum cerah.
Varel menatap Shila dengan serius, ia yang tersiksa tidak bisa melihat Shila selama 1,2 atau 3 minggu kemudian membayangkan hal itu saja sudah membuat dadanya sesak
Varel menarik pinggang Shila hingga masuk dalam pelukannya, hal itu membuat Nando dan Vivi terkejut menatap pemandangan itu.
"om? ". Shila malah biasa saja di peluk oleh Varel walau sempat terkejut.
"hmm? ". sahut Varel memejamkan matanya di bahu Shila.
"kenapa om malah memelukku kayak kak Agus? ". tanya Shila merasa heran
"aku tidak melihatmu selama beberapa hari kedepan". batin Varel yang menjawab.
Vivi dan Nando saling pandang saat ada pengunjung Bandara yang sedang lalu lalang menatap kedua pasangan menawan yang sedang naik daun itu.
Shila hendak melepaskan pelukannya karna ia tidak sabar bertemu papanya tapi Varel masih memeluk Shila dengan erat seolah tidak ingin melepaskan tubuh Shila saat ini.
"om..? aku harus naik pesawat". kata Shila
"masih ada waktu". jawab Varel menatap sekilas tempat pemeriksaan passport
Shila terlihat pasrah saja di peluk Varel karna pikirannya hanya ada Papanya tidak memikirkan yang lain lagi.
Vivi semakin yakin jika Varel sudah mencintai Shila malah sangat mencintai Shila, terlihat sekali Varel yang tidak pernah memeluk perempuan kini tengah memeluk erat Shila.
"Tuan..? Nona bisa ketinggalan pesawat". bisik Nando
Varel melepaskan pelukannya dari Shila lalu menangkup kedua pipi Shila yang malah melihat ke arah pemeriksaan Passport, Shila takut ketinggalan pesawat karna Varel yang terus menahannya
"jaga dirimu baik-baik ya? ".pinta Varel dengan lembut
Shila mengangguk lalu Shila segera berlari meninggalkan Varel disusul oleh Vivi menunduk sopan pada Varel berlari membawa 2 koper Shila.
Shila bahkan tidak melihat kebelakang dimana Varel tengah menunggunya, cinta? Shila tidak tau Varel mencintainya, Shila akan sadar jika ada Pria yang mencintainya jika Pria itu melakukan hal yang sama dengan pengorbanan Papanya.
"Tuan Muda? ". panggil Nando yang merasakan Varel seperti kehilangan separuh jiwanya
"apa? ". sahut Varel
__ADS_1
"Nona sangat merindukan Papanya itu sebabnya dia tidak berbalik menatap Tuan". jelas Nando
"aku tau". jawab Varel
Nando menatap kepergian Shila yang tidak terlihat lagi, "Nona..? bisakah anda juga mencintai Tuan Muda? Tuan Muda tidak pernah jatuh cinta dan anda adalah cinta pertamanya, ku mohon ingatlah Tuan Muda disana walau hanya 2 detik saja". batin Nando yang merasa iba pada Varel yang mencintai seseorang secara sepihak.
.
.
"Tuan Muda". panggil Nando
"apa? ". tanya Varel yang sibuk dengan berkas-berkasnya
"sudah 1 minggu anda bekerja tanpa istirahat Tuan Muda". kata Nando
"aku harus sibuk Nan, aku selalu memikirkannya". jawab Varel dengan serius.
"kenapa Tuan tidak menghubungi Nona terlebih dahulu? ". tanya Nando
"aku tidak mau mengganggu waktunya bersama Papanya". jawab Varel.
Nando terperangah takjub, Varel yang terkenal akan keegoisannya kini malah memikirkan orang lain yaitu Shila, demi tidak mengganggu Shila, Varel menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja hingga lupa istirahat.
"tapi anda menyiksa diri anda sendiri Tuan Muda". batin Nando
Varel melihat ke arah Nando lalu melepaskan pulpen yang kini dipegangnya,
"apa itu tidak akan membuatnya bertanya-tanya? ". tanya Varel
"Nona sangat polos Tuan Muda, dia tidak akan mengerti perasaan anda". jelas Nando
"anda tinggal mengatakan padanya bahwa anda ingin melihat rekaman iklan kita yang sedang di bintangi oleh Nona Muda". sambung Nando lagi.
Varel tampak memikirkan perkataan Nando, Nando hanya mencari solusi untuk masalah penyakit cinta Varel yang tidak ada obatnya sebelum bertemu dengan Shila.
.
.
di Jerman
Shila malah tidak memikirkan Varel, ia sibuk dengan syutingnya dan sesekali ia pergi ke tempat penginapan Papanya di hotel yang sama dengannya begitu juga sebaliknya.
"kamu tidak mengabari Tuan Muda? ". tanya Vivi serius tiba-tiba
Shila menoleh ke Vivi, "om itu sangat sibuk kak, mana mungkin aku menggganggunya, lagian kami jarang akur".
__ADS_1
"tapi setidaknya kamu mengabarinya bahwa kamu telah sampai di sini dan beraktifitas seperti biasa, Tuan Muda melakukan ini demi kamu supaya bisa bertemu dengan Papa mu". jelas Vivi
"masa sih? tapi om tidak akan melakukan hal seperti itu demi aku, kalau iya kenapa aku harus sibuk? kan kakak tau buktinya aku sibuk syuting selama disini sampai tidak ada waktu istirahat". jawab Shila
"setidaknya Kamu memberitaunya Shila, ini bukan masalah pekerjaan saja, dia pasti ingin tau kamu udah sampai dengan selamat atau belum". jelas Vivi
"nanti aja kak..! aku harus menghafal naskah". tolak Shila kembali fokus dengan naskahnya.
bisa dikatakan ini adalah film pendek durasi belasan menit namun Shila tidak pandai berakting, ia cukup kesulitan karna ia belum menguasai akting tapi semua kru utusan Varel seolah diperintahkan untuk sabar pada Shila hingga tidak ada yang memarahi Shila.
"Kasihan sekali Tuan Muda, apa karna karma nya ya? tapi mengapa aku malah kasihan pada Tuan Muda? cinta bertepuk sebelah tangan memang menyiksa". batin Vivi melihat Shila yang sudah berhasil menyelesaikan syutingnya.
Shila memberi hormat dan mengucapkan terimakasih pada semua anggota kru nya.
"huh...! selesai juga semua penderitaanku". gumam Shila dengan lega sambil meregangkan jemari tangannya.
.
"bagaimana keadaanmu Shila? apa udah baikan? ". tanya Vivi yang melihat Shila sudah selesai mandi.
"aku mau ketemu Papa". ucap Shila berjalan mencari baju-bajunya di dalam koper.
"kamu tidak mau menghubungi Tuan Muda?". tanya Vivi sekali lagi setelah melihat Shila berpakaian.
Shila menghela nafas panjang lalu melihat ponselnya yang bergetar seketika, Vivi dengan cepat mengambilkan ponsel Shila lalu memberikannya pada Shila.
Shila mengangkatnya sambil tersenyum lebar, ternyata yang menghubungi Shila adalah Jessy, awalnya Shila bahagia namun mendengar penjelasan Jessy bahwa Varel bekerja keras tanpa istirahat membuatnya kebingungan.
"tolong kamu hubungi dia sayang katakan untuk tidak bekerja terlalu keras, suruh dia istirahat ya? ". bujuk Jessy
"tante memang tidak bisa mengatakannya? tante emangnya lagi dimana? ". tanya Shila
Shila pun mengiyakan permintaan Jessy, ia menarik nafas panjang lalu menghubungi Varel.
"waah.. cepat sekali om angkat VC ku". kata Shila tersenyum lebar
"kau baru mengingatku bocah? selama ini kemana saja kau? aku fikir kau masih di dalam pesawat". sindir Varel tapi matanya menatap lekat Shila di layar ponselnya
"om ini kenapa sih suka mengejekku terus? aku dapat kabar dari Tante kalau om suka bekerja sampai lupa istirahat ya? om mau ngejar apa?? uang?? apa om kehabisan uang setelah membiayaiku ke jerman? ".
Varel menganga di sana tapi tak bisa di pungkiri ia memang sangat merindukan ocehan dan sindiran kasar Shila, mana pernah seorang Varel kekurangan uang.
.
.
.
__ADS_1