
.
.
Nae bikin Part Ariel karna Nae ingin Ariel juga bahagia, hehe.. Varel udah bahagia dengan Shila Author sendiri menjamin itu.. wkwkwk.. jadi kita ambil sedikit banyaknya part Ariel ya? nanti kalau mereka sudah bahagia Nae ingin boomingkan ke Publik hahaha.. Kejutaaannn!!!
.
.
.
"dimana mobil Tuan? ". tanya Vivi mengedarkan pandangannya.
Ariel menunjuk dengan ekor matanya, Vivi melihat arah lirikan mata seksi Pria tampan itu dan berbinar seketika.
"kenapa matamu?". tanya Ariel dengan wajah datarnya padahal bibirnya sedang berkedut menahan tawa melihat ekspresi norak Vivi.
"hehe.. saya bisa naik mobil impian saya Tuan". jawab Vivi mengambil kunci mobil Ariel dan melompat riang berlari ke arah mobil Ariel.
Ariel terdiam melihat kelakuan Vivi, "dia sedang apa?". gumam Ariel tidak mengerti mengapa Vivi mengambil kunci mobilnya.
Ariel melebarkan matanya melihat Vivi duduk dibangku kemudi, "apa dia mau membawa lari mobilku? ". gumam Ariel melangkahkan kakinya dengan cepat dan mengetuk kaca mobilnya
Vivi membukanya, "tunggu apa lagi Tuan? ayo masuk..!". senyum manis Vivi
Ariel menganga, "maksudmu bagaimana? kau yang menyetir? ". tanya Ariel
"lalu menurut Tuan bisa meninggalkanku setelah membawa ku jauh dari Rumah? ongkos taksi sangat mahal aku numpang naik mobil Tuan, aku jadi supir tidak perlu dibayar". cerocos Vivi
Ariel menaikkan sebelah alisnya, "apa aku terlihat begitu jahat meninggalkannya disini? kenapa dia berani berprasangka buruk padaku? ". batin Ariel namun ia melangkahkan kakinya dan masuk ke mobilnya.
"kenapa belum jalan? ". tanya Ariel
"seatbeltnya pasang Tuan! ". titah Vivi
"aah". Ariel memasang seatbeltnya.
"wwwooo". Ariel kaget saat mobilnya tiba-tiba melaju kencang.
"kenapa kau bawa mobil seperti orang kesetanan? ". bentak Ariel
"kalau telat 15 menit lagi kita bisa terkena macet Tuan". jawab Vivi
"apaa..?". Ariel memegang pegangan disekitarnya.
Ariel bisa membawa mobil dengan kencang hanya saja ia tidak bisa percaya saat ia jadi penumpangnya, tentu ia takut akan celaka.
__ADS_1
"kau punya sim? ". tanya Ariel
"tentu saja Tuan, saya manager Shila harus punya sim". jawab Vivi
"kau ...? berhenti biar aku yang bawa! ". titah Ariel
"tidak bisa Tuan, 3 menit lagi akan macet..! gawat..! pegangan Tuan". pekik Vivi menginjak gas nya lagi.
Ariel membelalak berpegangan erat dengan wajah memucat, ia tidak menyangka akan mengalami situasi seperti ini, bagaimana bisa seekor ah ralat seorang gadis bisa membawa mobil dengan kecepatan gila seperti ini, bahkan alasannya pun begitu konyol tidak mau terjebak macet.
"aah.. sebentar...!". pekik Vivi menginjak gasnya lagi membelok-belok setir mobilnya mendahului mobil didepannya.
"ok..! 5 detik.. 4 detik.. 3 detik... wuuushhh..!! ahahahah". Vivi terbebas dari jalur rel kereta api yang pas sekali palang turun saat mobil yang Vivi bawa kini sudah berhasil melewati itu.
Ariel membelalak, "k.. kau takut terkena macet Rel kereta api? itu sebabnya kau melaju sekencang itu?". tanya Ariel setelah tersadar.
"hehe.. maaf Tuan, anda tidak tau seberapa macetnya tempat tadi jika kita telat 10 detik saja, kereta api disini sangat panjang Tuan bisa menghabiskan waktu 1 jam nunggu palang itu naik lagi". gerutu Vivi
Ariel hanya bisa diam sambil menggeleng kepalanya, sungguh ia tidak pernah merasakan yang namanya takut tapi kenapa hal tadi bisa membuatnya ketakutan? Vivi benar-benar gadis menarik, bisa-bisanya main-main dengan Kereta api? apa dia gadis gila?
"kenapa tuan diam? tuan marah? ". tanya Vivi hati-hati
"diamlah..! telingaku sakit mendengar suaramu yang semakin jelek". ketus Ariel
Vivi mengangguk patuh lalu ia diam fokus dengan mobil yang ia bawa kini, tiba-tiba perutnya yang tak tau malu itu berbunyi hingga Ariel melirik ke arah Vivi.
"maaf Tuan, perut saya.. hm..? saya belum makan". cicit Vivi dengan muka memerah begitu malu.
"dia pasti mengejekku seperti kucing gembel yang sangat menyedihkan". batin Vivi merutuk melirik Ariel yang diam saja.
"dasar rakyat jelata? apa kau tidak bisa melihat situasi?". rutuk Vivi sekali lagi perutnya semakin berbunyi
"ckk.. berhentilah..! suara perutmu itu menggelikan". ketus Ariel dengan wajah juteknya.
"eeh.. hehe.. iya Tuan". Vivi segera menepikan mobilnya hingga Ariel melebarkan matanya saat Vivi berhenti di pedagang kaki lima.
"kenapa berhenti disini? ". tanya Ariel.
"bukankah Tuan suruh aku mengisi perut? ". tanya Vivi mengerjab polos.
"iya tapi tidak ditempat seperti ini". tatapan tajam Ariel membuat Vivi menciut namun perutnya kembali berbunyi hingga Vivi menggigit bibir bawahnya.
Ariel melihat hal itu terdiam sesaat, "ckk.. cepatlah..!". titah Ariel yang tak kuasa menahan senyumnya
"terimakasih Tuan". Vivi dengan cepat mengambil kunci mobil Ariel dan keluar dari sana secepat kilat.
Ariel mendengarnya segera menoleh dan melihat Vivi membawa kabur kunci mobilnya, "apa-apaan dia? apa dia membawa lari kunci mobilku? dia pikir itu mobilnya?". gumam Ariel
__ADS_1
.
.
"kenapa kau membawa pergi kunci mobilku?". tanya Ariel
"apa Tuan pikir aku bodoh? Tuan menyuruhku beli makanan lalu mau meninggalkanku kan? aku bukan gadis bodoh Tuan". senyum lebar Vivi sambil mengunyah martabak mesirnya
Ariel menjatuhkan rahangnya lalu berdecak dan mengumpat pelan akan jawaban Vivi.
"dia bodoh, dungu, goblok, IQ 2 digit, apa otaknya hanya disetel untuk berpikiran buruk? apa aku seburuk itu? dasar gadis kampung". umpat Ariel
Vivi tampak begitu rakus memakan martabak mesirnya hingga Ariel meliriknya menahan senyum saja,
"apa kau tidak tau cara makan perempuan anggun?". tanya Ariel dengan nada meledek
Vivi diam, "perempuan? siapa perempuan disini? jika Tuan melihat cara makan manusia sepertiku itu adalah jenis kelaminku, aku bukan perempuan anggun". jawab Vivi dengan santainya sambil sibuk menyantap martabak mesirnya.
"rakus..! ". ejek Ariel
.
.
"kak? kakak dari mana saja? ". tanya Vika yang melihat kedatangan Vivi bersama Ariel.
"kakak temanin Tuan Ariel mengambil mobilnya". jawab Vivi tersenyum lebar
"kakak beli apa? kenapa bau kakak?... kakaaakkk". kesal Vika yang akhirnya menyadari kakaknya beli martabak mesir langganan mereka.
"hehehe.. kakak beli banyak". Vivi menunjukkan beberapa plastik belanjaannya.
"waahhhhh". Vika merampas semua itu dan membawanya masuk lalu membagi-bagikannya Ke Varel, Shila dan Ariel.
"aku harus pulang kak". Shila berdiri sambil mendekati Vivi
"iya.. tidak apa..! sebentar lagi akan malam, hati-hati dijalan ya? bawa martabak mesirnya untuk makan dijalan". Vivi tersenyum manis mengelus kepala Shila
Shila memeluk Vivi dan Vika bergantian, Vika tidak terlihat sedih karna tau Shila orang yang sangat sibuk tentu tidak berani memaksa orang sesibuk Shila untuk menetap di Rumah kecilnya yang pasti tidak sebanding dengan Rumah Shila di Kota.
"Kau tidak pulang? ". tanya Varel ke Ariel
"besok pagi saja..! berhati-hatilah kalian". kata Ariel melenggang pergi masuk ke kamar Vivi
kamar itu memang menjadi kamar Ariel sementara Vivi tidur dikamar Vika, begitu juga Shila namun terkadang Shila tidur bersama Varel (Kamar tamu) hanya tidur bersama saja tidak melakukan hal diluar batas.
.
__ADS_1
.
.