Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
tidak menyesal


__ADS_3

.


.


.


"kalau begitu kita ke Rumah Sakit bagaimana? ". tanya Shila lembut.


"tapi kepalaku sakit sayang". jawab Varel menduselkan kepalanya dibahu polos Shila.


"iya, suamiku harus diperiksa". jawab Shila


"berbahaya bawa kendaraan saat pusing dan mengantuk sayang". jawab Varel memejamkan matanya


"aku bisa nyetir". kata Shila


"kenapa kamu yang nyetir? tidak mau..!". tolak Varel


"kenapa tidak mau suamiku? aku bisa bawa mobil, aku juga punya sim". tanya Shila heran


"sayang aku laki-laki, apa kata orang jika ada yang melihat istri Tuan Muda Ms. Paramastri sedang membawa mobil ternyata penumpangnya malah suaminya sendiri". kata Varel


"memang apa hubungannya suamiku? kenapa dengan kata-kata orang? ". tanya Shila tidak mengerti alasan tak jelas suaminya ini.


"kamu bahkan meninggalkan karirmu sayang demi aku padahal kamu masih muda, aku sudah berjanji akan membahagiakanmu, untuk itu aku tidak mau kamu bawa mobil". jawab Varel masih nyaman dipelukan Shila


Shila menghela nafas panjang, "asal suamiku tau ya? di kampung aku waktu itu umur 18 tahun udah punya anak, bisa ditanyakan sama dr. Leon ya? dia dokter di Rumah Sakit di kampung aku, disana menikah umur 15 tahun suamiku, lagian aku sudah besar kenapa kalian bilang aku masih terlalu muda?".


Shila terus menggerutu hingga ia mendengar dengkuran halus sang suami, Shila mengguncang pelan tubuh Varel tak disangka Varel memang tertidur dengan posisi tak lazim ini.


Shila akhirnya bersusah payah membantu Varel keluar dari kamar mandi dan meletakkannya di ranjang, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"kenapa suamiku jadi begini ya? biasanya tidak pernah dia tidur jam segini". gumam Shila melihat Varel yang tertidur pulas


Shila tak bisa membawa Varel ke Rumah Sakit jika siempu nya sendiri selalu banyak alasan tidak mau dibawa ke Rumah Sakit, alhasil Shila meminta tanggapan Jessy yang memberi saran untuk membawa dokter ke Mansionnya saja.


"iya juga ya? kenapa Shila tidak ingat sekarang zamannya dokter pribadi". cengir Shila yang melupakan hal penting itu.


Jessy tersenyum lembut mengelus pipi Shila, "itu karna kamu terlalu khawatir nak".


Shila tersenyum manis, "kalau begitu Shila telfon dokter ya Mom".


"iya sayang, mommy buatkan bubur ya? ". Jessy


"iya mom". jawab Shila sambil tersenyum


Jessy pun pergi ke dapur sementara Shila kembali ke kamarnya, Shila berlari ke kamar mandi mendengar suara mual-mual dan Varel tidak ada diatas ranjang.


"Suamiku? ". panik Shila masuk ke Kamar mandi

__ADS_1


Varel tengah bersandar di dinding membuka matanya, pandangannya sayu hingga Shila begitu iba melihat suaminya yang tiba-tiba punya penyakit misterius itu.


"sayang? ". Varel berjalan tertatih-tatih ke Shila kembali memeluk Shila dengan lemas.


"suamiku". Shila begitu sedih melihat suaminya yang biasanya begitu kuat dan sehat, rohani dan jasmani kini tiba-tiba sakit.


"kita ke Rumah Sakit ya? ". bujuk Shila


"tapi..? ".


"tidak ada tapi-tapian, suamiku harus diperiksa langsung oleh semua dokter". kata Shila memaksa membawa Varel keluar Kamar setelah membantunya berganti pakaian biasa.


Jessy yang mendengar teriakan Shila yang meminta izin pun segera mematikan kompor nya lalu berlari keluar, ia tertegun melihat Varel begitu menyedihkan.


"kenapa begini nak? kamu makan apa tadi hmm? ". tanya Jessy khawatir.


"Mom..? kepala Varel pusing". keluh Varel yang memang terlihat pucat.


"ayo.. ayo kita ke Rumah Sakit! ". ajak Jessy juga ikut menemani Shila membawa Varel ke Rumah Sakit.


sementara Vivi dan Diani ada di Rumah Sakit lain, ia melihat keadaan ibu nya Maya, dan ibu nya Raisa.


.


di Rumah Sakit Intan


Varel diperiksa oleh dokter, Shila dan Jessy saling berpegangan tangan menunggu hasil pemeriksaan.


Shila dan Jessy buru-buru bangkit dan berlari masuk menemui dokter, suster tidak berani melarang karna mengenal keluarga itu, padahal yang diminta dokter hanya 1 orang saja.


"bagaimana keadaan suami saya dok? ". tanya Shila


"bagaimana keadaan putra saya dok? ". tanya Jessy bersamaan dengan Shila.


"hmm.. maaf Nyonya, Nona, gejala Tuan Muda sangat spesial". jawab dokter dengan bingung menjawab pertanyaan yang mana.


"spesial? ". beo Jessy dan Shila tidak mengerti


"apa bisa disembuhkan dok? ". tanya Jessy


"apa harus ke Jerman dok? ". tanya Shila


si dokter menggaruk-garuk kepalanya, "begini Nona, Nyonya, mengenai penyakit istimewa Tuan Varel seharusnya akan sembuh jika Nona melahirkan". jawabnya yang kebingungan mencari bahasa manusia bukan bahasa dokter.


"hah? ". bingung Jessy dan Shila.


dokter Pria itu pun menjelaskan dengan bahasa yang lebih dimengerti oleh Shila dan Jessy, hingga mereka berdua keliatan syok.


"hah? apa hubungannya saya hamil dengan suami saya sakit dok? ". tanya Shila tidak mengerti

__ADS_1


sementara Jessy hanya diam karna saat ia mengandung Frans, Ramon juga merasakan hal yang sama hanya saja tidak separah Varel. saat itu Ramon hanya merasakan ngidam-ngidamnya saja.


Shila mendengarkan penjelasan dokter hingga Shila menganga, ia masih muda belum pernah hamil dan tidak pernah tau ada cara pasangan suami istri hamil dengan hal unik seperti itu.


.


"kenapa sayang? apa kata dokter? ". tanya Varel memegang tangan Shila dengan lembut


"kata dokter aku yang hamil suamiku, dan yang sakit suamiku". jawab Shila tidak tau harus bahagia atau sedih mendengar berita ini.


"a.. apa? ". Varel tersenyum lebar dengan wajah pucatnya itu.


"suamiku bahagia? ". tanya Shila memegang rahang Varel dan mengusapnya lembut.


"iya sayang! tentu saja aku bahagia". jawab Varel mengelus-ngelus perut Shila.


"dimana mommy? apa mommy sudah tau? ". tanya Varel


"Mommy sedang tebus obat untuk suamiku, dan mommy tau". jawab Shila


"kenapa kamu sedih sayang? apa kamu tidak senang? ". tanya Varel mendudukkan Shila dengan hati-hati di sampingnya.


"tapi kenapa harus suamiku yang menderita?". Shila menjawab.


Varel tersenyum lembut, "itu artinya ikatan aku dengan anakku sangat kuat Maharani, aku tidak akan mengeluh jika apa yang aku alami itu bawaan anak kita".


"benarkah? tapi keliatan sekali aku mau enaknya aja minta duit suamiku". kesal Shila seperti anak kecil yang tak terima dibilang pemalas tidak mau kerja hanya tau minta saja.


beberapa hari ini Shila selalu minta uang pada suaminya, Varel tidak pernah bertanya untuk apa uangnya dan selalu memberikan uang untuk sang istri, bahkan menyediakan brankas uang supaya istrinya bisa mengambilnya dengan mudah, Varel memberikan BlackCard tapi istrinya itu jarang menggunakannya, jika tidak ke Mal kartu itu tidak akan digunakan Shila.


Varel tertawa lebar lalu mengelus sayang kepala Shila, "kamu mau menikah denganku saat masih muda itu adalah kebahagiaanku, sekarang kamu sedang hamil anakku tidak ada yang lebih membahagiakan dari dua hal itu sayang".


"hiks.. hiks.. ". Shila menangis seketika menutupi matanya


"sayang? kamu kenapa? ". tanya Varel panik memegang pipi Shila.


"suamiku terlalu baik". jawab Shila dengan mata nya yang basah.


Varel tersenyum mengusap air mata Shila, "masih menyesal? ".


"tidak lagi". jawab Shila memberengut.


Varel memeluk dan mencium puncak kepala Shila, awalnya ia juga tidak tahan dengan rasa mual yang menyiksa nya, tak disangka olehnya ini adalah efek kehamilan Shila, betapa bahagia nya Varel mendapat kabar itu.


Shila diperiksa di dokter kandungan, ternyata memang benar Shila sudah hamil 3 minggu tidak ada yang menyadarinya, sebenarnya Varel sudah merasa mual sebelum-sebelumnya tapi tidak separah sekarang hingga Shila mengetahuinya. Jika dia tidak melihat suaminya seperti itu, mungkin Shila tidak akan tau jika dirinya tengah hamil.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2