
.
.
"om Varel benar-benar pria cab*l ! aku harus hati-hati terhadapnya". gumam Shila dengan mata melotot kesal.
Shila berjalan sambil menutupi tubuhnya dengan jas Varel, Varel berjalan duluan lalu memesan kamar.
"hanya tersisa 1?". tanya Varel dengan datar dalam bahasa Jerman.
Varel melihat cuaca yang sedang tidak mendukung untuknya mencari hotel lain, Varel tidak membawa mobil sewa nya di negara ini karna meminta Nando untuk mengantarkan Suryono, Vivi dan MangAji.
Varel melihat ke arah Shila dan matanya memicing melihat sekumpulan Pria-pria tampan berwajah khas negara eropa begitu tertarik dengan Shila yang cantik dengan tipe wajah negara Asia.
"aku ambil kunci kamar itu". kata Varel dengan serius dalam bahasa Jerman.
Varel memberikan blackcardnya lalu dengan cepat mengambil kunci juga setelah melakukan pembayaran.
Shila celingukan melihat desain hotel yang berada di sudut jalan, terlihat sangat elegan dengan kesan benua eropa seperti Restaurant milik keluarga Varel.
Shila kaget saat banyak pria mendatanginya, "kenapa ini? ". batin Shila dengan gelisah.
Shila bisa menghajar orang tapi ukuran tubuh Pria-pria yang mendatanginya sangat besar, mereka berpakaian formal dari berbagai negara yang pasti masih dalam cangkupan negara Eropa.
Varel dengan cepat muncul dihadapan Shila dan menatap mereka semua satu persatu, ukuran tubuh Varel dengan pria-pria itu tidak berbeda jauh.
" Dieses Madchen gesort mir !!". kata Varel serius dengan ekspresi dinginnya yang terlihat menyeramkan seolah sedang memberi peringatan bendera perang pada pengusaha-pengusaha manca negara itu.
(artinya : Gadis ini Milikku!!).
mereka saling pandang ditempat lalu melihat ke arah Shila, Shila dengan cepat bersembunyi di punggung Varel.
mereka semua mengucapkan maaf pada Shila dan Varel lalu membubarkan diri dengan raut wajah kecewa karna gadis incaran mereka telah memiliki kekasih.
Varel berbalik dan menangkup kedua pipi Shila, "kau tidak apa-apa? ". tanya Varel
Shila mengangguk, "tatapan mereka mengerikan om! ". cicit Shila yang tau arti tatapan Pria-pria yang mendekatinya tadi.
"hmm.. kan aku sudah bilang jangan perlihatkan tubuhmu pada Pria lain". Varel membenarkan jasnya di tubuh Shila dan memasangkannya di tubuh Shila.
Shila seperti anak kecil yang dipasangkan baju oleh ibunya, ia tidak mengelak karna ia merasa hanya Varel lah pria yang ia percaya untuk melindunginya di negara asing ini.
"kuat berjalan? ". tanya Varel
Shila menggenggam lengan kemeja putih Varel, Varel melepaskan tangan Shila dan tangannya kini menggenggam tangan Shila begitu juga sebaliknya, Shila bersembunyi di lengan Varel saat orang-orang yang juga menginap di hotel ini menatapnya.
bagi seorang model memiliki tubuh sempurna memang sangat dibutuhkan malah menjadi prioritas utama, tapi juga berbahaya jika di lihat oleh Pria mata keranjang.
.
"sudah tau berbahaya lalu kenapa bisa berpisah dari papamu? ". tanya Varel yang kini mendudukkan Shila di sofa
__ADS_1
"tadi terlalu asik om! jadi.. ". Shila tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
"tidak apa..! kamu beruntung bertemu denganku". kata Varel tersenyum mengambil handuk dan mengelap rambut Shila serta wajah Shila yang basah.
Shila menatap Varel lalu melihat sekeliling, "om..? "
"hmm? ". sahut Varel yang masih terlihat serius mengelap rambut Shila yang basah.
"kenapa kita satu kamar? ". tanya Shila
"kita kehabisan kamar". jawab Varel
Varel melirik wajah Shila, "kenapa? kau malu satu kamar denganku? bukankah kita sudah biasa satu kamar? ".
"bukan itu om". jawab Shila dengan serius.
"lalu apa masalahmu?". tanya Varel
"kalau begitu aku akan keluar membeli pakaian untukmu ya? kau bersihkan tubuhmu". kata Varel mengelus kepala Shila lalu pergi meninggalkan kamar itu membawa payung pihak hotel.
.
.
Shila sama sekali tidak gugup tidur satu kamar dengan Varel karna sudah terbiasa tidak seperti Varel yang malah belum puas menatap Shila.
"kepalamu ini sangat polos tapi aku yakin dihatimu ada aku walau bukan Cinta". batin Varel tersenyum menatap wajah Shila yang terlelap.
pembicaraan Suryono dengan Varel berjalan lancar, awalnya Suryono terdengar khawatir menerima panggilan Varel mengira nomor asing yang digunakan oleh putrinya untuk menghubunginya.
entah mengapa Suryono percaya pada Varel, saat Varel menghubunginya dengan memberi tau kabar Shila pada Suryono, itu sudah membuktikan Pria muda nan Kejam yang dikenal oleh Para pengusaha itu ternyata tidaklah benar.
.
.
ke esokan paginya.
Shila menguap lebar saat terbangun dengan raut wajah linglung.
"udah bangun? ". tanya Varel yang kini duduk dengan santai di bangku khusus menatap Shila dengan senyuman tipisnya.
Shila mengucek-ngucek matanya, lalu menguap lebar tanpa peduli imagenya didepan Varel hal itu membuat Varel gemas bukannya ilfil.
"om? ".
"hmm? ". sahut Varel
"pinjam hp om..! aku mau menghubungi Papa, sepertinya papa pasti khawatir padaku karna kemarin aku lupa mengabari Papa". Shila menengadahkan tangannya.
"aku sudah memberitau papamu, jika aku tidak mengabarinya aku yakin Papamu tidak akan bisa tidur dan itu tidak baik untuk kesehatannya yang baru saja sembuh". jelad Varel
__ADS_1
Shila seketika mengerjab-ngerjabkan matanya menatap Varel yang tampak begitu mengerti posisi Papanya.
"om kabarin papa? ". tanya Shila
"iya.. kenapa? ". tanya Varel dengan santai
"apa kata papa? jika Papa tau kita tidur satu kamar Papa bisa saja membawa cangkul untuk menghajar om". kata Shila dengan serius
"cangkul? apa itu? ". tanya Varel yang memang tidak tau benda yang dimaksud Shila.
"pokoknya semacam senjata gitu om, kepala om pasti bocor kalau di cangkul oleh Papa". jelas Shila
Varel mengerutkan keningnya lalu tersenyum tipis, "aku tau..! Ayah mana yang akan rela mendengar putri kesayangannya tidur satu kamar dengan Pria asing".
"nah om ngerti kan? om harus hati-hati". senyum jahat Shila
.
Varel mengantarkan Shila ke Suryono dalam keadaan baik-baik saja.
"Papaa?? ". Shila berlari memeluk Suryo mengecup pipi Suryo dengan gemas.
Suryo menatap Varel dengan seksama, malam itu juga Varel pernah menemuinya untuk pertama kalinya meminta Shila menginap di Rumah mereka demi Jessy, Jessy memberi kasih sayang yang tidak bisa Suryo berikan pada Shila, Varel terlihat begitu menghargainya sebagai Ayah Shila tidak seperti dikatakan orang-orang tentang prilaku kejam Varel.
Shila mengoceh menceritakan alasan ia tidak bisa mengabari Suryo, dan menceritakan kata-kata Varel hingga Suryo menoleh ke Varel.
"apa dia memang sebaik itu? tapi putriku tidak mungkin berbohong". batin Suryo menatap Shila yang terlihat tidak menaruh hati pada Varel sebagai lawan jenis namun malah sebaliknya.
"kita bicara empat mata! ". kata Suryo
"kenapa empat mata Pa? kenapa tidak enam mata?? shila mau ikut". rengek Shila
"Shila?? ". Vivi menarik lengan Shila dan membawanya pergi.
Varel mengangguk mengikuti Suryo yang membawanya keluar Hotel dan masuk ke Lift, Suryo sudah sembuh total tentu ia sudah bisa berjalan normal.
.
.
.
empat mata yang ku mau..! untuk nyatakan cinta padamu.. uuu.. uu... hati ini... takkkan bisaa..? lebih lama... tuk memendam rasaa...
haha.. ingat lagu Empat mata D'bagindas.. wkwk.. selamat beraktifitas semuanya.. jaga kesehatan kalian ya penggemar setia Nae....
😘😘
.
.
__ADS_1