
.
.
beberapa hari kemudian
Vivi melihat ponsel Ariel bergetar, awalnya ia enggan menjawab karna tidak ingin mencampuri privasi Ariel tapi panggilan itu terus saja dilakukan berulang-ulang hingga Vivi mulai kesal dan mengetuk pintu kamar mandi Ariel.
"Mas...? itu hpnya sejak tadi getar terus". teriak Vivi yang kini memanggil Ariel dengan panggilan mesra.
"iya Beb..? jawab aja". balas Ariel dari dalam
"Tidak mau Mas..!". jawab Vivi
alhasil Ariel keluar dengan tubuh yang basah kuyub dicecar oleh Vivi yang tidak mau mengangkat panggilan masuk itu, Vivi tidak ingin disalah fahami dan jujur saja karna ia takut ada berita buruk dari sana.
Ariel tidak bisa marah pada Vivi yang sejak mengandung begitu sensitif.
.
.
"ada apa? ". tanya Varel menaikkan sebelah alisnya
Vivi membantu Jessy masak di dapur, sementara Frans, Varel, Ramon berkumpul bersama Ariel yang meminta mereka untuk berkumpul entah apa tujuannya.
"aku harus ke China". kata Ariel serius
semua tampak saling pandang lalu beralih menatap Ariel.
"jadi? ". tanya Varel
"Perusahaanku dalam masalah, ada orang lain yang mencoba mencari kesempatan saat aku fokus dengan Fox Group". jelas Ariel
"Apa..? abang punya Perusahaan lain? kenapa aku baru tau? ". tanya Frans sedangkan Varel dan Ramon terlihat tenang seolah sudah tau.
"Papi mengerti nak..!". Ramon menyahut
"baiklah..! aku mengerti maksudmu". Varel mengangguk
"bagaimana dengan kakak ipar bang? ". tanya Frans
"aku tidak bisa membawanya, sebenarnya hidupku banyak masalah dan aku tidak mau melibatkannya hingga menjadi target musuh-musuhku". Ujar Ariel serius
"kalau begitu tanyakan padanya, istrimu sedang mengandung dan Papi tidak jamin dia mau ditinggalkan olehmu". Ramon
Ariel berdecak pelan, "aku harus tau dalangnya yang sebenarnya lebih cepat".
"apa yang harus aku bantu? ". tanya Varel
"carikan web BRIMA, disana akan ada berita nya cari hal mencurigakan dari berita kasus yang paling utama". Ariel.
"baiklah..! ". Varel
"Frans bagaimana bang? ". tanya Frans
__ADS_1
"carikan abang Bodyguard perempuan yang terlihat lemah tapi sangat kuat". pinta Ariel
Frans, Varel dan Ramon terlihat serius karna raut wajah Ariel terlihat tidak baik, sepertinya Ariel mencurigai ini musuh lama yang sudah lama tidak berani muncul.
.
.
ke esokan harinya Ariel kedatangan tamu yaitu Aham dan Rion yang merupakan orang kepercayaan Ariel, mereka disambut ramah oleh Jessy.
Vivi merangkul lengan Ariel dengan kedua alis ditekuk, ia terpaksa harus menuruti permintaan Ariel yang tidak mengizinkannya untuk ikut bersama Ariel ke China.
"Kau...? ". Vivi menunjuk Aham karna tau siapa Aham
"saya Nona". jawab Aham menunduk sopan
"ooh.. kamu orang kepercayaan Mas Ariel". Vivi akhirnya menyadari situasi.
Aham dan Rion hendak mengenalkan diri secara resmi pada Vivi sebab tadi mereka sudah mengenalkan diri secara resmi pada Jessy, pantas saja Ariel kehilangan semua dendam yang telah di pupuk sejak kecil oleh Ariel, Jessy sangat baik pada orang baru seperti mereka.
"jangan mengacau..! ". Ariel menatap tajam kedua orang kepercayaannya itu hingga mereka tidak berani berbicara lagi.
.
.
Varel bekerja menggantikan Ariel yang sedang ke China, ia melakukannya dengan cepat supaya bisa ikut ke China membantu saudara kembarnya.
"Tuan Yakin? ". tanya Nando serius
Nando diam, "tapi kenapa Tuan Ariel takut ya? ". gumam Nando
"karna istrinya sedang mengandung! bisa jadi mereka memperalat kelemahan Ariel". jawab Varel berdecak pelan akan pertanyaan konyol Ariel
"iya juga". Nando mengakui
"dia mungkin takut apa yang menimpa Papi dan Mommy saat itu terulang lagi pada nya, bisa saja Vivi mengandung anak kembar". Varel
Nando tersentak, "aah.. Ya Tuhan..! dia pasti trauma karna hal itu ya? kebenaran itu pasti membuatnya takut".
"sekarang berhenti berbicara, kau cari hal-hal yang mencurigakan di Perusahaan, aku tidak ingin ada yang memanfaatkan kita saat pergi ke China". titah Varel.
"baik Tuan, aku akan buat kalau kita ada Pertemuan di China bagaimana Tuan? ". tanya Nando
"hmm.. bukan ide buruk". jawab Varel
sejak saat itu Varel dan Nando bekerja lebih giat lagi hingga mereka harus lembur di Perusahaan untuk memastikan Perusahaan akan tetap aman saat Varel tinggal ke China.
"Apa Om? ". Shila kaget mendengar kabar Varel akan pergi ke China
"aku ikut bagaimana Om? kebetulan sekarang aku lagi menganggur". tanya Shila
"jangan Maharani, ini masalah serius aku takut kamu dalam masalah jika aku membawamu kesana". jawab Varel merangkul pinggang Shila
Shila menaikkan sebelah alisnya, ia merasa ada yang tidak wajar disini tapi demi menghilangkan kekhawatiran Varel ia menganggukkan kepala seolah gadis patuh.
__ADS_1
keesokan harinya
Shila datang ke Mansion Keluarga Varel, ia mendatangi Vivi dikamarnya yang sedang uring-uringan mengkhawatirkan Ariel tapi Ariel meminta pada Vivi untuk tidak menghubunginya demi diri Ariel sendiri (keselamatan).
"hiks.. hiks.. aku tidak bisa tenang! ". racau Vivi dibalik bantal gulingnya.
"Kak? ". panggil Shila
Vivi mengerjabkan matanya lalu bangkit dari rebahannya melihat asal suara yang ia kenali.
"Shila? kamu disini? ". tanya Vivi berubah senang seketika
"kakak kenapa? ". tanya Shila duduk di pinggir ranj*ng Vivi
bukannya Shila tidak sopan masuk ke kamar Vivi yang sudah bersuami tapi Shila tau Ariel sedang tidak ada diRumah dan juga Shila ingin bertanya hal penting.
"aku merindukan Mas Ariel". jawab Vivi berubah sedih lagi seketika
"sebenarnya ada masalah apa dengan Pak Ariel Kak? kenapa Om Raffan dan juga Om Nando juga harus ikut kesana? ". tanya Shila
"tidak tau.. katanya ada masalah dengan perusahaan BRIMA dan Mas Ariel harus pergi ke China detik itu juga". jawab Vivi
"apa ada tanda-tanda mencurigakan kak?". tanya Shila berbisik
"maksud kamu apa Shil? kenapa tingkahmu seperti penyusup yang sedang mencari tau kandang markas musuh? ". tanya Vivi dengan heran
"aku merasa mereka sedang perang besar". jawab Shila membuat Vivi mematung dengan mata melebar kaget
Vivi membenarkan posisi duduknya lalu menceritakan pesan-pesan Ariel yang tidak mengizinkannya untuk menghubunginya padahal Vivi tidak bisa tidur jika Ariel tidak mengelus perutnya atau setidaknya Vivi harus mendengar suara Ariel.
"astagah..! lalu bagaimana ini? ". tanya Vivi dengan serius
"papi dimana? ". tanya Shila
"sepertinya Papi ada cuma Frans tidak ada, katanya ikut Tuan Varel". jawab Vivi
Shila terdiam, "Ya Tuhan...! bahaya apa yang mereka hadapi hingga menutupi semuanya dari kami".
"apa perlu kita susul? ". tanya Vivi
"kakak lagi hamil muda, mana boleh! ". tolak Shila
"kakak tidak selemah itu, kita bisa menyamar kan? ". kesal Vivi
"aku bisa dicekik oleh pak Ariel kalau sampai dia tau kebenarannya". protes Shila
"ya jangan bilang-bilang lah, dan juga mana mungkin Tuan Varel membiarkan Mas Ariel mencekikmu". jawab Vivi
alhasil mereka sepakat untuk pergi ke China mencari tau bahaya yang dihadapi Ariel.
.
.
.
__ADS_1