Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
amarah (2)


__ADS_3

.


"ada apa ini Mom? ". beo Jessy sekali lagi mengulang pertanyaan Varel.


Varel memejamkan matanya, "karna wanita itu mommy menyiramku seperti pecundang begini? ". tanya Varel dengan tatapan tajamnya.


plak....


Nando terduduk lemas, ia merasa sedang perang besar antara ibu dan anak itu.


"wanita? apa kau menghargai yang namanya perempuan hah? ". marah Jessy


Varel terkesiap namun masih terlihat datar, ia menatap Jessy dengan tajam.


"berani sekali kau mempermainkan calon menantu ku? apa kau tidak bisa menurut pada ibumu sendiri?? ". jerit Jessy dengan mata merah menyalang.


Varel kaget melihat amarah Mommynya untuk pertama kalinya,


"aku tidak memiliki darah daging sepertimu..! gadis itu gadis baik-baik sialan...! kau hendak mengurungnya bersama Pak Tua Bangkara itu hah? kau mau aku matiii???". jerit Jessy dengan amarah yang naik ke ubun-ubun


"mommy bicara apa? ". tanya Varel mencari tisu dan mengelap wajahnya sendiri.


sebenarnya Varel penasaran pada sosok gadis yang bisa membuat Mommynya semarah ini, ini pertama kalinya Varel melihat amarah Jessy seperti ini bahkan memakinya seperti dirinya melakukan dosa besar yang tak termaafkan.


"jika kau tidak mau dengan gadis pilihanku tidak perlu mengutus pria tua itu menggantikan posisimu, aku akan memanggil Frans kesini untuk menggantikan posisimu". ucap Jessy dengan mata kian memerah


"Frans? mommy yakin dia mau? ". Varel bertanya dengan tenang ke arah Jessy


"kau selamat karna gadis itu tidak masuk dalam perangkapmu..! jika sampai terjadi sesuatu padanya aku sendiri yang akan membunuhmu". kata Jessy dengan serius lalu membanting gelas yang ia pegang hingga pecahan gelas itu mengenai tangan Varel sampai berdarah.


Nando membelalak melihat itu, sedangkan Varel melihat ke arah Jessy yang mengatakan gadis itu selamat dari perangkapnya.


"apa maksud mommy? ". tanya Varel dengan serius


Jessy sepertinya begitu marah hingga berbalik pergi tanpa menjawab pertanyaan putra kesayangannya itu, yah... dibandingkan Frans si bungsu Jessy dan Ramon, Jessy lebih menyayangi Varel dari Frans yang memiliki jiwa bebas berbeda dengan Varel yang selalu patuh padanya.


tapi sepertinya Jessy benar-benar kecewa atas apa yang dilakukan Varel hingga dirinya secara sengaja menyebut Frans seperti sedang mengharapkan mimpi yang teramat besar pada Frans yang tidak pernah patuh pada Jessy.

__ADS_1


"Nando..? ". panggil Varel


"iya Tuan". Nando mendekat ke Varel tapi matanya tertuju pada tangan Varel namun tak berani berucap apa-apa.


"apa maksud Mommy mengatakan gadis itu selamat dari perangkapku? ". tanya Varel dengan serius dan dingin ke arah Nando.


"saya baru saja dapat pesan bahwa gadis itu tidak datang ke kamar pak Bangkara Tuan, sekarang pak Bangkara sedang menggila mencari sosok gadis itu". jawab Nando dengan tatapan tertuju pada tangan Varel.


"tidak mungkin...! apa kau memberi tau seseorang bahwa aku tidak datang ke kamar itu? ". tanya Varel dengan serius


"saya masih sayang kepala saya Tuan". jawaban Nando membuat Varel mengerti bahwa Asistennya itu tidak memberi tau siapapun.


"lalu kenapa gadis itu tidak datang ke kamar itu meski tau aku lah yang ada di kamar itu, pasti terjadi sesuatu bukan? cari tau tentang gadis itu, aku penasaran apa istimewa gadis itu hingga bisa membuat mommy semarah itu". titah Varel


"baik tuan". Nando mengangguk lalu segera pergi dari Varel.


"Tuan Obati luka ditangan Tuan, saya merasa amarah Nyonya bukan perihal biasa". Nando berkata


Varel menatap tajam ke arah Nando yang dengan cepat menutup pintu,


"sial...!". Varel mengibaskan tangannya yang berdarah bahkan sampai bercecer dimana-mana.


biasa nya semarah apapun Jessy, Jessy tidak akan sanggup melihat tangannya berdarah tapi apa yang baru saja terjadi, Varel merasa Jessy sengaja melukainya karna amarahnya itu. sehebat apa calon menantu idaman Jessy hingga posisi Anak kesayangan Jessy bisa musnah dalam sekejab.


.


Jessy menelfon Frans yang sedang berlibur di Beijing, Frans yang melihat Mommynya menangis pun panik.


Frans memang tidak terlalu disayang oleh Jessy tapi tidak merasa dianak tirikan juga oleh Jessy, hanya saja Frans lebih bebas dari Varel hingga Jessy membiarkan saja apa yang membuat Frans senang walau harus berkeliling dunia sekalipun.


"Ok. Mom.. Frans pulang ya? Frans Pulang, jangan sedih Mommy..! Frans akan memukul Abang untuk Mommy". kata Frans dengan lembut di layar ponsel Jessy.


panggilan terputus, Jessy sesegukan dengan tatapan tajamnya ke arah depan.


"aku membesarkan putraku sebaik mungkin tapi kenapa sifatnya seperti iblis? kenapa anakku tidak seperti Anak Pak Suryono? jika dia tidak mau menikahi Shila aku bisa membujuk Frans untuk menikahi Shila". gumam Jessy menghapus sisa air matanya yang tumpah.


.

__ADS_1


1 minggu berlalu


Shila tersenyum bahagia bisa membawa Suryono keluar dari Rumah Sakit, Kemo terakhir sekitar 3 bulan lagi, untuk itu Suryono boleh dibawa pulang namun 2 minggu menjelang Kemo terakhir Suryono harus datang lagi ke Rumah Sakit.


"Papa... Papa? Papa cepat sembuh ya? 1 kali Kemo lagi Papa akan sembuh". Shila memeluk Suryono dengan manja


Suryo tersenyum mengecup puncak kepala Shila, tubuhnya memang semakin kurus, pipinya juga semakin tirus, kepalanya juga sudah botak tapi Shila tetap berada disisinya untuk membuatnya tetap hidup.


"kenapa tidak ada wartawan nak? kemarin papa dengar mereka ribut soal wartawan? ". tanya Suryo


"Dokter Leon mengurus semuanya Pa..! Shila baru tau ternyata Dokter Leon itu sepupu dari pemilik Perusahaan Fox Group Pa". jawab Shila


"Fox Group? sepupu? ". beo Suryo dibalas anggukan oleh Shila


Shila tidak memberi tau Suryo tentang hadiah bermalam dengan CEO Muda Fox Group, ia yakin Suryo akan marah besar dan tanpa ragu membawa cangkul mencari Tuan Muda Fox Group itu meski bersembunyi di lubang tikus sekalipun.


"ini Rumah Kita Pa..! ". Shila membantu Suryo keluar dari Taksi


Shila kaget melihat para wartawan tengah berkemah di depan Rumahnya, memang selama 1 minggu ini Shila sibuk dengan Papanya bukannya wawancara dengan para wartawan yang akan membuat Shila semakin melejit pesat.


"Nona Shila.. Nona Shila.. ".


"maaf...! bisakah kalian mewawancarai saya besok saja? saya sedang sibuk menemani Papa saya yang baru saja keluar dari Rumah Sakit, Saya mohon dengan sangat !! jangan mengganggu ketenangan Papa saya". Shila mengatupkan kedua tangannya memohon para para wartawan itu yang membeku seketika saling bertatapan satu sama lain dengan rekan-rekannya.


"ayo Pa..! Papa ingat kata dokter Leon kan? harus istirahat". ajak Shila memapah Suryo masuk ke gerbang Perumahan mewah miliknya.


Varel melihat semua itu, hari ini ia benar-benar geram dengan Shila yang membuat Mommynya tidak berbicara padanya sedikitpun sampai detik ini, namun melihat Shila sedang membawa seorang Pria Tua menyedihkan membuatnya terdiam.


"Tuan? ". panggil Nando


"kita pergi..! ". ajak Varel


"baik Tuan". balas Nando


Varel mengerutkan keningnya, ia merasa mengenal rambut Shila tapi tidak ingat dimana ia melihat Rambut Shila, dan juga suara Shila terdengar tidak asing olehnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2