Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
Bonus Ekstra Part. 16


__ADS_3

.


.


.


"maaf..? aku.. aku tidak bisa meminum wine itu". tolak Raisa dengan kikuk


"ayolah Raisa...! ini hanya minuman dan takar alkoholnya hanya sedikit tidak akan membuatmu mabuk hanya dalam sekali teguk".


"maaf aku tidak bisa, aku benar-benar tidak kuat minum seperti itu". jawab Raisa lagi


"kenapa? ". tanya yang lainnya penasaran


"pake nanya lagi, apalagi?? ya tidak terbiasa lah". gerutu Raisa


"ayolah Raisa..! kami akan mengantarmu jika benar mabuk ya? kita merayakan kemenangan harus minum, kami sudah minum 3 gelas masa kamu 1 gelas saja tidak bisa".


Raisa berusaha menolak hingga mencoba melarikan diri tapi namanya aja punya rekan kerja yang usil tentu saja mereka memaksa Raisa hingga wine itu kini sudah masuk ke dalam tubuhnya, Raisa terduduk berusaha memuntahkan semua itu sedangkan teman-teman Raisa tertawa dan semakin memeriahkan acara.


"nah.. tu kan bisa..! hanya 1 gelas saja".


Raisa terbatuk-batuk memukul dadanya, "a.. aku benar tidak bisa minum itu". cicit Raisa


tapi tidak ada yang mendengarnya, mereka malah berjoget-joget seperti sedang party besar-besaran.


"kamar..? iya kamar". gumam Raisa memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Raisa jalan sempoyongan ke arah hotel, mereka tengah berada di taman belakang Hotel, Frans yang melihat Raisa dari jauh pun meletakkan minumannya dan berjalan tenang menyusul Raisa.


Raisa menunduk tapi matanya lurus kedepan, tangannya juga dibentang ke arah depan.


"lurus..! jalan lurus". Raisa berjalan lurus dengan serius namun ia tidak sadar langkahnya malah miring dan terus saja miring.


hap...!!


Raisa mengucek matanya melihat ada tangan yang merangkul pinggangnya, ternyata dia adalah Arga yang tengah menahan tubuhnya supaya tidak menabrak pohon.


"siapa kamu? jangan macam-macam ya? aku tidak mabuk". Raisa berusaha melepaskan tangan Arga.


"pipimu lucu sekali". Arga menoel-noel pipi Raisa yang merah delima karna sedang mabuk.


Raisa menepis tangan Arga, "jangan macam-macam...! jangan macam-macam".


Raisa dengan kasar melepas tangan Arga hingga Raisa hampir jatuh namun tangannya ditarik oleh Frans.


"Kau..? ". Arga memicingkan matanya ke Frans


"sedang apa kau disini? setauku tidak ada kamar di Hotel ini". Frans


"aku hanya bermain kesini dan penasaran dengannya". jawab Arga


"berikan dia padaku! ". titah Arga

__ADS_1


"dia Karyawanku". kata Frans


"aku bisa melindunginya, aku tidak akan macam-macam padanya jika memang iya aku akan bertanggung jawab". Arga


"aku dipercaya oleh keluarganya untuk menjaganya, kau fikir siapa dirimu?". Frans


"dia milikku! ". kata Arga serius.


"oh ya? karyawanku milikku..! asal kau tau dia membencimu jangan harap kau bisa memilikinya". Frans membawa Raisa pergi tapi Arga menahan tangan Raisa yang lain.


"benci dan cinta beda tipis". kata Arga tersenyum miring.


Frans menaikkan sebelah alisnya.


"Raisa..? ini aku. ? kau pergi denganku ya? ". bujuk Arga


Raisa memicingkan matanya menatap Arga cukup dekat, bukan maksud apa-apa tapi Raisa hanya ingin melihat wajah Pria didepannya karna dipandangan Raisa wajah orang yang dilihatnya tidak bisa diam malah berputar-putar.


"Raisa? ". panggil Frans


Raisa mengerjabkan matanya dan memutar kepalanya ke arah Frans, "Tuan Frans? ". tebak Raisa yang sangat peka dengan suara khas Frans.


"hmm". sahut Frans


"Tuan..? anda adalah malaikatku !". Raisa merentangkan tangannya dan melingkarkan tangannya di leher Frans tentu memeluknya seperti anak kecil.


Frans tersenyum miring ke Arga, "kau dengar? dia memilihku".


Frans menggendong Raisa seperti Koala, Raisa menyandarkan pipinya di bahu Frans dengan mata terpejam.


Arga memilih pergi karna hanya membuatnya sakit hati saja, ia memang salah karna pernah menyakiti hati Raisa tapi saat itu dirinya tidak tau akan jatuh cinta pada gadis tidak berpendidikan yang ia hina itu di kemudian hari.


Raisa yang digendong oleh Frans pun membuat para pelayan Hotel terkejut tapi masih bisa mengendalikan diri dengan menunduk sopan.


Frans menjatuhkan Raisa di kamarnya,


"Tuaannn?? boleh minta tanda tangan? ". Racau Raisa mengangkat tangannya tapi matanya masih terpejam


Frans tersenyum melihat wajah Raisa dimana Pipinya yang sangat merah, ia duduk ditepi ranjang dan merapikan anak rambut Raisa hingga matanya menelisik setiap inci wajah Raisa yang dilihat-lihat memang cantik.


bulu mata lentik, alis yang tebal, hidung yang minimalis tapi tidak pesek, garis bibir yang berbentuk hati sangat cantik belum lagi dagu lancip yang menambah kecantikan alami Raisa.


"cantik jika dia tersenyum, lesung pipinya". gumam Frans meraba alis Raisa dan ternyata asli tidak ada pewarna sedikitpun.


Frans menusuk pipi sebelah kanan Raisa yang kalau tersenyum akan ada lubang nya disana.


"Raisa?? ". panggil Frans


"hmm? ". sahut Raisa yang seolah mendengarnya.


"kau menyukai Arga? ". tanya Frans


"hmmm? ". Raisa menyahut tapi kepalanya geleng-geleng hingga Frans menautkan kedua alisnya

__ADS_1


"suka atau tidak, apa menurutmu dia tampan? ". Frans tak menyerah bertanya.


"Tuan Muda Frans jauh lebih tampan". racau Raisa memutar tubuhnya memeluk bantal guling yang ada disampingnya.


Frans terkejut lalu menyunggingkan senyum tampannya, "kau menyukaiku ya? ". gemas Frans yang akhirnya mengerti mengetuk pelipis Raisa yang tidak terusik sedikitpun.


ke esokan harinya.


Raisa terbangun lalu memegang kepalanya yang terasa sakit, "addduuuh..! pusingnya". keluh Raisa.


"minum sup ini bagus untuk pengar! ". kata Frans membuat Raisa membelalakkan matanya.


Frans tengah membaca majalah dengan cara duduk yang sangat berkelas di sofa yang ada di hadapan Raisa.


"T.. Tuan? ". Raisa tergagap dengan wajah yang kian memucat.


"apa yang kau takutkan? cepatlah..! makan itu lalu bersihkan tubuhmu yang bau minuman itu". kata Frans pun bangkit memilih pergi dan tak lupa ia menutup pintu kamar Raisa.


Raisa melihat seluruh tubuhnya yang masih berpakaian, "mampus aku..! apa yang aku lakukan?? bahaya..! aku tidak ingat".


cukup lama berdebat dengan diri sendiri, Raisa terlonjak kaget mendengar suara Frans hingga Raisa buru-buru bangkit dan meminum sup obat pengarnya, lalu meminum pil untuk menghilangkan rasa pusing.


.


"sudah siap? bagaimana keadaanmu? ". tanya Frans


"baikan Tuan.. hmm..? Tuan..? apa saya melakukan kesalahan tadi malam? ". tanya Raisa ragu-ragu


Frans yang tadi duduk pun berdiri mendekat Raisa yang semakin gelisah, "mau tau?? ". tanya Frans


Raisa mengangguk sekali,


"kau menciumku! ". kata Frans membuat mata Raisa membulat sempurna hingga Frans yang melihatnya dari dekat menahan senyum sekuat tenaga.


"a.. ap.. apa?". Raisa


"iya..! kau bilang aku malaikatmu, kau juga mengatakan menyukaiku dan menciumku". kata Frans


"hah?? kenapa Tuan tidak menamparku?". tanya Raisa dengan serius.


"menampar? aku tidak pernah melakukan hal kasar pada perempuan, lagian kamu hanya menempelkan bibirmu saja tidak lebih lalu jatuh di kasurmu dan memeluk bantal guling dikamarmu". Frans


"maaf Tuan..! ak.. aku..? a.. akuu? ".


"sudahlah..! sebentar lagi sarapan akan datang, tidak usah dianggap serius". kata Frans menekan kepala Raisa.


wajah Raisa kini sungguh merah, itu sebabnya ia tidak mau minum karna takut mabuk dan melakukan hal diluar nalar.


sekarang mau ditaruh dimana wajah Raisa? ia tidak menyangka akan berani mencium Frans padahal tidak ada karna Frans hanya meledek saja supaya Raisa tidak akan berani menerima minuman yang ditawarkan orang lain padanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2