
.
.
.
Frans mengikuti saran Shila, ia memanggil calon karyawan nya yang mendapat nilai sempurna saat ujian tertulis, mereka yang dipanggil dapat penjelasan oleh Frans pun terharu.
cita-cita mereka ingin menjadi bagian dari game, tapi karna mata menjadi halangan terbesar mereka tak disangka Frans begitu bijak menguji mereka, padahal tadinya mereka mendaftar hanya coba-coba saja padahal tau mata mereka minus dan tidak akan lolos.
Perusahaan Frans adalah Perusahaan ke enam yang ada di Kota jakarta ini yaitu Perusahaan game, jujur saja mereka sudah mendaftar di 5 perusahaan game lainnya tapi gagal karna mata, tak ingin pekerjaan yang lain mereka hanya bermalas-malasan bermain game sebab suka game.
saat Perusahaan Frans dibuka apalagi Game, mereka yang suka game berlomba-lomba mendaftar walaupun tidak lolos, tidak ada salahnya mencoba.
"wow..! jadi kau adalah Master A? ". tanya Frans tak percaya Master A misterius yang ada dunia game baru beberapa bulan yang lalu itu akan ia temui didunia nyata.
"Tuan mengenal saya? ". tanya Arif tak percaya seorang Putra bungsu Fox Group mengenalnya.
"aku jarang main game tapi aku tau siapa raja di game ". kekeh Frans
"kenapa kau bisa sehebat itu? apa kau tidak bekerja?". tanya Frans
"saya sudah mencoba mendaftar di 5 Perusahaan Game Tuan, tapi gagal saya tidak mau kerja yang lain karna saya punya cita-cita ingin menciptakan game sendiri". jawab Arif malu-malu
Frans tertawa, "baiklah..! kau boleh pulang besok datanglah pagi-pagi, aku tidak meragukan kemampuanmu karna kau seorang Master".
"a.. apa Tuan? saya diterima? ". tanya Arif tergagap
"ya..! sana pergi..! aku akan buat kartu nama mu nanti malam". kata Frans
"terimakasih Tuan". ucap Arif menunduk hormat berkali-kali.
Arif berlari keluar Ruangan Frans, ia melompat dan berjoget seperti orang gila saja, akhirnya ia semakin dekat dengan cita-citanya.
"untung aja kakak ipar menyuruhku menguji mereka yang punya minus mata, jika aku menolak atas pemikiranku sendiri aku tidak akan bertemu master A di dunia game". batin Frans tersenyum lebar.
"selanjutnya". pinta Frans
perempuan berkacamata duduk dihadapan Frans, "apa kelebihanmu Marissa hingga aku harus menerimamu? ". tanya Frans melihat nama perempuan itu.
"saya ahli meneliti game Tuan ". jawab Marissa
"kalau begitu aku minta kamu komentar ini". Frans mengeluarkan game unik yang hanya digunakan oleh orang-orang yang punya uang saja.
Marissa tentu tidak tau game itu, ia hanya mengomentarinya begitu akurat hingga Frans merasa butuh Marissa untuk bagian meneliti game yang akan meluncur.
"ok.. kamu aku terima, pulanglah !! besok pagi datang kesini". Frans
"benarkah Tuan? tapi saya tidak tamat kuliah". tanya Marissa tak percaya
__ADS_1
"apa aku hanya mencari orang berpendidikan saja? asal kamu tau terkadang orang tidak sekolah lebih pintar dari orang berpendidikan". ujar Frans
"ehh..? ". Marissa kaget tak percaya cara Frans mencari karyawan.
Frans hampir tak percaya, semua calon karyawannya yang punya mata minus diterima punya kelebihannya masing-masing dan cocok disemua bidang yang akan Frans bagikan beberapa tim.
.
"bagaimana Frans? ". tanya Shila
"kakak ipar hebat, kenapa kakak bisa tau mereka punya kelebihan? aku sampai menyesal karna sebelumnya memandang rendah mereka". tanya Frans
Shila tersenyum, "sebelumnya aku pernah dengar kak Vivi ngasih tau ke aku ada fans yang berkomentar tidak ada yang menerima pekerja mata minus seperti mereka".
"benarkah kak? ". tanya Frans tampak bersemangat mencari tempat duduk mendengarkan cerita Shila
sementara yang lainnya sibuk mencari karyawan dengan jumlah 130 calon karyawan Frans,
"iya, bagaimanapun mata minus kan bisa memakai kacamata tapi orang-orang menganggap mereka tidak bisa dibawa lembur bekerja". kekeh Shila
"mereka bodoh sekali". kekeh Frans padahal sebelumnya Frans sempat ingin menolak 70 orang yang punya minus dimata itu.
Shila tersenyum lebar saja membalasnya.
"ayo kita bantu yang lain! ". ajak Shila
Frans mengangguk,
Shila, Frans dan Ariel masuk ke bagian Vivi yang akan mencari 30 karyawan lainnya, tak disangka oleh mereka Vivi malah bertanya-tanya berapa jumlah keluarga yang ditanggung, ada adik atau kakak yang kuliah, apa pekerjaan sebelumnya.
"apa lagi cara kakak ipar Vivi nih? ". Frans menepuk keningnya sambil geleng-geleng kepala.
Shila tertawa tanpa suara, sedangkan Ariel menganga tak percaya istrinya sedang mencari karyawan atau mencari seseorang untuk diberi bantuan.
"Beb? kenapa kamu malah bertanya seperti itu? ". tanya Ariel dengan gemas
"Mas..? dia punya adik 5, ibunya sakit dan ayahnya kabur". Vivi menunjuk perempuan didepannya.
"kakak ipar mencari karyawan atau orang untuk diberi bantuan? ". tanya Frans tertawa
"apa saya ditolak Tuan? ". tanya perempuan itu dengan raut wajah sedih.
"hmm... " jawab Ariel dan Frans serentak
"tidak..! kamu diterima Raisa". Vivi yang menjawab.
Raisa semakin bingung harus mendengarkan yang mana.
"kakak ipar kenapa kakak bertanya keluarga dan hal-hal pribadi? apa kakak mau memberi bantuan? ". tanya Frans tertawa geli.
__ADS_1
"asal kalian tau ya? Raisa tulang punggung keluarganya, adiknya aja ada 5 aku yakin dia pekerja keras, percayalah caraku mencari karyawan untuk Frans". kesal Vivi
"iya Tuan, saya berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh". kata Raisa tersenyum haru mendengar alasan Vivi.
alhasil Frans, Ariel dan Shila hanya diam menonton Vivi yang merekrut pekerja dengan cara tak lazim, entah Frans harus tertawa atau sedih dengan cara Vivi ini.
Varel datang membawa minuman dari luar dan memberikannya pada Shila.
"kenapa sayang? ". tanya Varel heran semua orang berkumpul menonton Vivi.
"Kak Vivi menerima pekerja sangat lucu suamiku". kekeh Shila sambil bersiap meminum jus buah yang dibawa suaminya.
Varel meneguk minumannya, ia mendengarkan wawancara Vivi hingga tiba-tiba Varel menyemburkan minumannya, saat orang yang ditanya Vivi punya tanggungan dan langsung diterima sungguh aneh sekali cara Vivi menerima karyawan.
Shila tertawa cekikikan melihat wajah kaget suaminya,
"kamu punya ibu yang sakit Maya? ". tanya Vivi berkaca-kaca
"iya Nona". jawab Maya
"bagaimana jika kamu fokus dengan pengobatan ibumu saja? ". tanya Vivi
"maksud nona? lalu bagaimana dengan biayanya? ". tanya Maya tidak mengerti dari mana ia dapat uang jika tidak bekerja.
Maya punya program bantuan tapi karna harus bayar bulanan membuatnya malah berhutang hingga tidak bisa digunakan lagi.
"suami saya akan menjual Perusahaannya dan memberi bantuan pada orang-orang yang membutuhkan operasi tapi tidak ada biaya". Vivi melihat ke arah suaminya.
"hah? ". Maya menggaruk-garuk kepalanya.
Ariel mengerti arah tujuan Vivi lalu berkata.
"kau tidak perlu bekerja, aku akan biayai operasi ibumu".
Maya menangis haru seketika, lalu mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.
.
.
.
mereka yang diterima di Perusahaan Frans bertekad akan bekerja keras dan membuat orang-orang yang merendahkan mereka di 5 Perusahaan game lainnya sadar bahwa mereka tidaklah sebodoh itu, begitu juga yang lainnya bahkan malam-malam mereka sudah berkemas, ada yang tidak bisa tidur memilih main game, ada yang sudah siap-siap karna takut kesiangan jika bangun kesiangan tinggal gosok gigi dan cuci muka saja padahal ada alarm, saking semangatnya lupa ada alarm, ada juga yang memandang logo Perusahaan Frans yang diberi nama Player Game sampai tertidur pulas.
.
.
.
__ADS_1
.