
.
.
malam ini Shila menghabiskan waktu bersama Varel, Shila mengajak Varel ke pasar malam.
"sayang.. ini? ". Varel menganga melihat tempat permainan yang diajak Shila
Shila tersenyum manis merangkul lengan kekar Varel membawanya bermain wahana, ternyata hanya Shila yang menjerit Varel malah biasa saja malahan menatap pujaan hatinya saja yang terlihat menggemaskan.
"kita naik kapal om". Shila seperti anak kecil melihat kapal melayang
Varel dengan senang hati menggenggam tangan Shila membawa Shila membeli tiketnya, betapa cantiknya Shila saat bertingkah manja.
"cepat om..! ". desak Shila yang tidak ingin naik kapal itu di ronde kedua.
Varel menggendong Shila dan dengan cepat meletakkan Shila dibangku tentu lewat jalan pintas, Shila tersenyum manis menyelamatkan 1 bangku untuk sang kekasih.
"enaknya punya pacar tinggi". jawab Shila cekikikan
Varel yang meloncat duduk disamping Shila hanya terkekeh mengelus sayang kepala Shila, Varel memasang alat pengaman di tubuh Shila.
saking ramainya permainan itu tidak ada yang mengenal Shila, bukan Shila tidak senang tapi malah bahagia terasa seperti manusia biasa saja apalagi bersama sang kekasih.
"aaaahhhhh". Shila melebarkan tangannya lalu tertawa riang melirik Varel
Varel hanya menatap Shila hal itu membuat Shila malu sambil nyengir, Varel mengecup bibir Shila hingga mata gadis cantik itu membelalak karna situasi mereka kini tidak memungkinkan untuk berciuman.
"o.. om". cicit Shila membuat Varel tergelak.
"kamu semakin hari semakin lucu sayang". kata Varel mencubit pipi Shila yang merona
Shila kembali menjerit melihat ke arah depan, Varel tertawa keras bukannya menjerit pria tampan itu malah tertawa hingga Shila hanya bisa melirik tanpa berkata-kata.
.
"mau kemana Maharani? ". tanya Varel kini membenahi rambut panjang Shila
Shila tampak berpikir lalu menunjuk permainan memanah, "aku ingin dapatkan boneka".
"dengan senang hati permaisuriku". jawab Varel membawa Shila bermain
Varel memanah hingga banyak wanita menjerit melihat betapa kerennya Varel, kaki panjangnya itu yang terlihat sangat seksi, sementara Shila yang cemburu segera memeluk Varel menyembulkan matanya ke arah wanita-wanita yang mengagumi kekasihnya.
Varel mengecup sayang pelipis Shila tapi matanya fokus dengan targetnya, sebisanya Varel memanah dan mendapatkan boneka yang Shila inginkan.
"yes..! ". gumam Varel tepat sasaran
"ambil boneka mu sayang! ". bisik Varel
Varel merasakan aura dingin tak bersahabat dari diri Shila, Varel mengedarkan matanya hingga para wanita menjerit dan Varel menyadari mengapa kekasihnya mengeluarkan aura tak bersahabat.
Varel tertawa lalu menurunkan panahnya, ia menerima boneka paus yang lucu kata Shila dari si pemilik permainan, "ini boneka mu sayang".
__ADS_1
Shila memutar kepalanya, matanya berbinar melihat boneka yang hanya ia lihat dari luar saja sebelumnya.
Contoh Bonekanya
"om mendapatkannya? ". Shila melepaskan pelukannya dengan Varel kini memeluk boneka itu dan mengangkatnya tinggi hingga Varel tertawa.
"kamu adalah alasanku bertahan sayang, tetaplah bersamaku seperti ini karna aku tau hatimu sangat mahal dan tidak mudah berpaling sayang". batin Varel yang sangat tau betapa sulitnya dirinya mendapatkan hati Shila.
"iissshhh". Shila mendatangi Varel dan merangkul lengan Varel membawa om tampannya pergi
Varel tertawa gemas melihat raut wajah Shila yang terlalu imut dan menggemaskan, "kamu lucu sekali saat cemburu sayang".
Shila mendengus membawa Varel berjalan hingga tiba di tempat sate madura, Shila mengajak Varel makan disana.
Varel tak heran lagi makan-makanan ditepi jalan sebab Shila sering mengajaknya makan di tepi jalan dan rasanya tentu tak perlu diragukan lagi.
.
di Rumah Varel dan Shila
"halo Pa? ". sapa Shila terdengar ceria
"kamu dimana nak? kenapa tidak pulang? ". tanya Suryo
"Shila sama Om tampan pa..! hehe Shila akan pulang besok ya? papa tidur yang nyenyak". cengir Shila
"lama-lama Papa ingin menikahkan kalian". decak Suryo terdengar kesal hingga Shila memberengut manyun
"iya. iya.. berikan sama om tampanmu". pinta Suryo
Shila memberikan ponselnya ke Varel, Varel yang tau segera meletakkan ponsel Shila ditelinganya.
"iya Pa". sahut Varel
"papa tidak tau apa maksud cerita Shila sama Papa, dia mengatakan kamu punya saudara kembar nak?". Suryo
"iya Pa..! maafkan Varel". jawab Varel
mereka bercerita banyak hal, Varel merasa hatinya sangat tenang setelah bercerita dengan Suryo yang bijak juga dewasa pantas saja Shila tumbuh menjadi gadis istimewa yang memiliki karakter luar biasa ternyata dibentuk oleh Suryo yang memang pria hebat.
"terimakasih Pa..! ". ucap Varel dengan senyuman
"awas kamu macam-macam nak..! tongkat Papa sudah hampir siap, jangan sampai kamu menjadi korban pertama". ancam Suryo yang dibalas kekehan oleh Varel.
"Varel tidak akan macam-macam Pa..! Maharani segalanya bagi Varel". senyum tulus Varel mengelus kepala Shila yang asik mengangkat boneka pausnya.
.
.
ke esokan harinya Shila bekerja seperti biasa sedangkan Varel memakai jubah hitamnya mendatangi Rumah Sakit.
__ADS_1
Varel tidak jadi masuk melihat Ariel ada di Ruangan inap Jessy, "ada Ariel, lebih baik aku pergi saja". batin Varel pun melenggang pergi
"apa maksud Mommy? ". tanya Ariel tak senang mendengar cerita Jessy kemarin ada Shila disini bersama dirinya.
"dia datang kesini? sialan..! apa dia melanggar janji? tapi tunggu bukankah ini mommynya? wajar saja dia muncul". batin Ariel yang merasa dilema antara benci dan marah.
"pelukan kalian terlihat mesra sekali seperti tidak bertemu berhari-hari saja, dan gara-gara kamu juga Shila meninggalkan mommy". bentak Jessy berubah menjadi mak lampir kata Ariel.
"ck... dasar mak lampir! ". gumam Ariel berdecak
"apaaa?? kau anak lampiiirrr". geram Jessy
Ariel memutar bola matanya dengan jengah, "kenapa mommy bisa masuk rumah sakit hanya membahas tentang anak Mommy yang lain? ".
"menurutmu kenapa anak lampir? aku berharap aku punya anak kembar dan satu lagi perempuan supaya aku bisa menendangmu keluar dari mansion mommy". gerutu Jessy
Ariel menganga mendengarnya, wanita ini benar-benar mak lampir yang haus dengan anak Perempuan, dimana-mana orang kaya raya menginginkan garis keturunan laki-laki tapi mengapa malah Jessy berbeda ingin anak perempuan?
"kasihan sekali nasib kami". batin Ariel prihatin dengan nasib dirinya juga Varel lahir dari rahim mak lampir ini yang gila anak perempuan.
"mommyyyy".
Ariel menoleh cepat ke arah pintu sedangkan Jessy melihat sipelaku hanya tersenyum manis, "anakkkuuu".
"anak? ". batin Ariel menautkan kedua alisnya
"mommy ngapain lagi di Rumah Sakit? apa sedang bersandiwara lagi? ". tanya Frans blak-blakan membuat Jessy menyentil kening Frans saat tiba disisinya.
"aduuh". Frans mengusap keningnya
"kamu fikir mommy berakting? siapa yang memberi taumu? ". tanya Jessy
"siapa lagi kalau bukan Tuan Papi Ramon". jawab Frans kembali dapat sentilan dan tinju Jessy
"mommy cukup..! kenapa mommy semakin bar-bar saja heh? ". kesal Frans
"mau dapat tendangan 180° hah? ". ancam Jessy dengan mata melotot
"tidak.. tidak.. hehehe". cengir Frans
Frans dan Jessy pun kompak menoleh ke arah Ariel yang tampak memasang wajah datarnya saja.
"kenapa abang mom? ". bisik Frans
"biasalah". jawab Jessy
"dicampakkan oleh kakak ipar? ". celutuk Frans dan Ariel menaikkan sebelah alisnya.
"oh.. jadi ini yang namanya Frans Ramon? aku tidak tau karna tidak ada fotonya di publik". batin Ariel menebak.
.
.
__ADS_1
.