Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
dadakan


__ADS_3

.


.


.


Vivi memegang perut datarnya dimana dokter mengatakan dirinya tengah hamil, Vivi menatap ke arah Ariel yang tersenyum tipis ke arahnya.


"T.. Tuan? maafkan aku". cicit Vivi


"hmm? ". Ariel menaikkan sebelah alisnya.


"a.. aku tidak menyangka akan cepat hamil". cicit Vivi menundukkan kepalanya


Ariel memegang tangan Vivi sambil menghela nafas panjang, "setelah apa yang aku lakukan kenapa kamu masih tidak percaya padaku? bukankah aku yang melakukannya? aku yang salah? kenapa kamu malah meminta maaf? seharusnya aku yang minta maaf".


Vivi mendongakkan pandangannya dan Ariel menarik kepala Vivi lembut hingga masuk kedekapannya.


"bukankah aku sudah bilang akan bertanggung jawab? jangan menyesalinya ya? aku sama sekali tidak pernah menyesalinya". kata Ariel


Vivi melingkarkan tangannya di pinggang Ariel, memiliki Ariel adalah hal yang paling berharga baginya, ia sama sekali tidak pernah percaya bahwa di kehidupan ini hidupnya akan sangat beruntung dicintai oleh Pria seperti Ariel.


.


pernikahan Vivi dan Ariel diadakan dengan sederhana di Mansion mengundang penghulu, sebenarnya itu atas permintaan Vivi saja yang tidak ingin pernikahannya di ketahui orang banyak.


"jaga kandunganmu ya nak? ". kata Jessy


"iya Tan.. eh.. Mom". jawab Vivi kikuk


semua keluarga Ariel memperlakukan Vivi dengan baik, Ramon yang awalnya marah tapi mengingat bagaimana Ariel tumbuh membuatnya harus menerima semuanya dengan lapang dada.


"Pi.. udah ya? jangan marah sama Ariel". bujuk Varel


"tidak.. papi tidak marah padanya". jawab Ramon


"iya Pi..! Bang Ariel bahkan pernah kehilangan ginjalnya saat ia tidak tahan lagi disiksa oleh manusia kejam itu, tapi dia berusaha hingga berhasil mendapatkan Ginjal yang lainnya sebagai ganti ginjalnya yang kosong". jelas Frans


Ramon berubah sendu, "bagaimana kita hidup dengan 1 ginjal? apa bisa? ".


"bisa Pi.. tapi sangat mudah kelelahan". jawab Varel


"iya Pi, jadi papi jangan nyalahin abang ya? kalau ada yang patut disalahkan itu adalah orang yang menculik Abang". kesal Frans

__ADS_1


"iya.. kalian benar..! Papi sama mommy yang salah telah salah memilih pasangan saat itu, beruntung kami mengetahuinya lebih cepat hingga memilih menikah". Jelas Ramon


"apa mommy sama Papi menikah karna saling mencintai? ". tanya Varel


"kami sama-sama melihat mereka berselingkuh, oleh karna itu kami semakin dekat sebagai orang yang tersakiti, papi melamarnya dan Dia menerima semuanya karna ingin melupakan pria itu". curhat Ramon


"karna itu Papi tidak suka anak Papi melakukan hubungan seperti itu diluar nikah ya? ". gumam Frans menebak


"iya". Ramon mengakui


"tapi mereka saling mencintai Pi bukan berselingkuh seperti yang papi benci". jelas Varel


"iya.. kalian benar..! " Ramon mengangguk menepuk-nepuk pundak Varel dan Frans yang bisa menenangkan hatinya menjadi benar-benar lebih baik.


sementara Vivi tersenyum manis dapat ucapan selamat dari Shila, "jangan pecat kakak ya Shil? ".


Shila terkekeh, "aku jamin kakak tidak akan diperbolehkan bekerja oleh Pak Ariel".


"lalu jika tidak bekerja bagaimana cara kakak menghilangkan rasa bosan? ". tanya Vivi tak terima


Shila tertawa, "kakak protes aja sama Pak Ariel, wlleeehhh". Shila menjulurkan lidahnya hingga Vivi berubah kesal.


Vivi bukan gadis manja yang suka berdiam diri di dalam Rumah, ia terbiasa bekerja dan hal itu membuatnya tidak terima jika disuruh menganggur di Rumah.


"bagaimana kue nya kak? kakak suka? ". tanya Shila


Shila menepi kesamping hingga pandangan Vivi melihat seorang gadis yang ia rindukan, "V..Vika? ".


"kak? ". Vika berlari kecil dan memeluk Vivi dengan haru


"aku merindukan kakak". Vika melepaskan pelukannya


"de.. dek.. kakak minta maaf, jangan berpikir... " Vivi berusaha menjelaskan pada Vika bahwa dirinya tidaklah buruk


Vika tertawa, "jangan berpikir apa kak? Tuan Ariel sudah menjelaskannya sama Vika kak, Vika tidak boleh mengikuti jejak kakak karna tidak semua Pria mau bertanggung jawab iya kan? ".


Vivi berkaca-kaca lalu memeluk Vika dan meminta maaf.


"kakak bicara apa sih? kan aku sudah bilang betapa beruntungnya suami kakak nanti, jika aku laki-laki mapan dan tidak memikirkan uang lagi aku pasti juga akan menghamil* kakak". jawab Vika dengan angkuh dapat jitakan maut dari Shila.


"kata-kata apa itu? ". Shila menatap tajam hingga Vika nyengir mengelus-ngelus keningnya.


Vivi tertawa menghapus air matanya, ia mengira Vika akan membencinya tapi ternyata Ariel telah menjelaskannya.

__ADS_1


Acara berlangsung dengan aman tanpa ada hambatan sedikitpun, dokter Gibran memberi ucapan selamat dirangkul oleh Izal dan Nando.


"kamu bisa melupakannya? ". tanya Nando


"bisa..! perasaanku belum terlalu dalam". jawab dokter Gibran tersenyum


"iya.. kalau begitu sama adiknya saja". Izal menunjuk ke Vika yang wajahnya memang mirip dengan Vivi


"ckk.. kalian cepat sekali menjodohkanku, mana bisa aku menyukai adiknya hanya karna aku tidak bisa memiliki kakaknya". decak Dokter Gibran ,


Izal dan Nando tertawa membawa Dokter Gibran bergabung dengan Varel dan Frans, Suryo datang terlambat tapi tetap disambut baik oleh Ramon dan Jessy.


.


Shila yang merasa lelah langsung masuk ke pelukan Varel yang terbuka lebar, Varel mencium lama kening Shila.


"apa kamu mau mengandung juga sayang? ". tanya Varel berbisik


Shila memukul dada bidang Varel hingga Varel tertawa memeluk Shila lebih erat, tak ada pembicaraan lain diantara mereka selain rasa kantuk mata Shila.


semua orang ikut bahagia dengan kebahagiaan Vivi, sedangkan Vika tidur seorang diri di kamar yang disediakan untuknya, Vika juga bahagia karna kakaknya telah mendapatkan laki-laki yang sangat pantas yang bisa membahagiakan kehidupan Kakaknya kelak.


.


di kamar lain Vivi melihat tubuh Ariel dari dekat yang tidak memakai baju, matanya berkaca-kaca melihat bekas luka di tubuh Ariel.


"ini..? ". Vivi meraba bekas luka operasi ditubuh Ariel.


sebelumnya Vivi tidak menyadarinya karna terlalu malu tapi dilihat dari dekat bekas luka itu sangat menyakiti hati Vivi.


Ariel merebahkan kepalanya di pangkuan Vivi, "apa kamu tidak mengantuk? ".


Vivi menggeleng kepalanya, malam ini adalah malam pengantin mereka, yang awalnya Vivi tegang dan takut kini hanya ada kekhawatiran di matanya.


"kata Shila Tuan Ariel pernah menjual ginjalnya demi lepas dari siksaan, apa ini bekas Operasinya? ". batin Vivi


Ariel tidak mengatakan apa-apa pada Vivi, sebagai Pria yang sangat menjaga harga diri tentu Vivi tau Ariel hanya menjaga harga dirinya jangan terlalu jatuh di mata wanita yang dicintai olehnya.


"kasihan sekali Tuan Ariel, entah siksaan apa yang mengenai tubuhnya ini". batin Vivi melihat semua bekas luka ditubuh Ariel.


pantas saja Jessy menangis setiap kali melihat tubuh Ariel, seorang Ibu pasti merasakan penderitaan anaknya dengan melihat bekas luka di tubuhnya itu dan Vivi sebagai wanita yang tulus menyukai Ariel juga merasakan hal yang sama apalagi seorang Ibu yang memiliki ikatan darah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2