
.
.
Shila dan Varel syuting berdua, seperti begitu kompak mereka mengiyakan kata-kata Sutradara untuk setiap gerak-gerik Shila juga Varel.
"kenapa kau malah menginjak sepatuku? ". tanya Varel dengan datar
"oupsss..! maaf om..! kan aku udah bilang kita jangan syuting bersama tapi om malah tetap bersikeras kita untuk syuting berdua". gerutu Shila
Varel menggeleng kepalanya, ia tidak marah hanya mengelap sepatunya yang diinjak Shila.
"padahal tidak kotor". kesal Shila
"aku penggila kebersihan". jawab Varel tanpa ragu
"maksud om aku kotor gitu? ". tanya Shila melototkan matanya.
"aku tidak mengatakan itu, kau sendiri yang mengatakannya". seringai Varel
Shila yang tak terima memukul-mukul keras punggung Varel hingga terdengar suara Varel yang sedang tertawa.
mereka yang bertengkar malah membuat orang lain gemas bercampur iri, tidak tau hubungan seperti apa yang mereka lalui tapi siapapun tau Varel menaruh hati pada Shila.
.
.
"huffft...! ". Shila tumbang di ranjangnya dengan posisi telungkup setelah membersihkan diri.
Shila benar-benar lelah karna Varel mengerjainya habis-habisan dengan tidak becus didepan kamera, tidak ada yang berani memarahi Varel di tempat syuting hanya Shila yang marah-marah seperti gadis bar-bar yang dinilai Varel.
Varel suka sekali membuat Shila marah, jujur saja Varel tidak suka Shila menjadi gadis penakut, bagi seorang Varel Shila sangat seksi saat sedang marah-marah padanya.
"capeknya". racau Shila.
di kamar lain, kamar mandi Varel.
Varel bersenandung pelan, tidak pernah sejarahnya Varel seperti itu kini malah tengah bersenandung, sesekali ia terkekeh mengingat amarah Shila yang meledak-ledak mengata-ngatainya secara langsung.
"dia imut sekali". gumam Varel lalu mengulum senyumnya mengingat kegiatannya satu hari ini.
mungkin bagi Varel membuang-buang waktu tapi mengapa sejak bersama Shila malah berbeda? mengapa Varel ingin selalu membuang waktu bersama Shila?
.
__ADS_1
Varel celingukan mencari gadis bar-barnya tapi tidak menemukan siapapun, "kemana dia? apa dia sedang mandi? ". gumam Varel kecarian Shila.
Varel menunggu Shila hampir 1 jam di kamarnya tapi tak kunjung tiba, ia datang ke kamar Shila dan mencari tau ternyata Varel malah melihat Shila tengah tertidur pulas dengan jubah mandinya
"dia ketiduran? ". gumam Varel melihat posisi tidur Shila yang tidak cantik sama sekali.
"hmmmffftt.. dimana wajahnya? ". tawa tertahan Varel seketika.
Varel melihat sekeliling dan tidak melihat Shila wajah Shila, ia tersenyum gemas
"siapa yang bakal mengira seorang model cantik akan bersikap seperti anak kos-kosan yang kucel dikamarnya? ". gumam Varel
Varel mengeluarkan ponselnya dan memotret posisi tidur Shila lalu ia menyimpan kembali ponselnya dan membantu Shila tidur dengan nyaman yaitu dengan menggendong tubuh Shila memindahkan gadis cantik itu ke tempat seharusnya.
Varel menyelimuti Shila sampai menutupi sebagian wajahnya, namun Varel menurunkannya sedikit supaya ia bisa melihat wajah Shila.
"apa aku benar-benar menyukai gadis ini? si bar-bar ini?? aku tidak mungkin menyukainya kan? dia sama sekali bukan tipe idealku". batin Varel menatap wajah Shila tanpa sadar tersenyum lembut.
tangan Varel tanpa sadar meraba alis Shila sampai bulu mata lentik, hidung mungil serta bibirnya yang berbentuk hati sungguh menggemaskan, dan dagu lancip Shila yang menambah kesan menawan Shila.
"papa?". racau Shila
Varel tersentak lalu dengan cepat mengangkat tangannya, ia melihat sekeliling.
"lebih baik aku tidur di kamarku saja". batin Varel yang tidak ingin tidur di kamar Shila karna tidak ingin ada kesalahfahaman.
.
.
ke esokan harinya
Varel bekerja di kantornya lalu melihat TV dimana Iklan dirinya bersama Shila telah muncul di TV menjadi trending topik di media.
"Tuan Muda? ". panggil Nando ragu-ragu
"Apa Tuan baik-baik saja? ". tanya Nando
"kenapa kau malah bertanya seperti itu? ". tanya Varel balik.
"komentar mereka mengatakan anda jatuh cinta secara sepihak pada Nona Shila". cicit Nando dengan hati-hati takut menyinggunt Varel.
walaupun Nando dan Varel satu kampus dahulunya, bisa dikatakan teman tapi tetap saja dirinya tidak berani melanggar aturan antara Atasan dan bawahan, dari dulu Varel memang baik pada Nando walau terkesan kejam dan tidak punya hati padahal sebaliknya.
"apa menurutmu begitu Nan? ". tanya Varel tersenyum tipis menatap wajah Shila yang sangat menawan di TV nya.
__ADS_1
Nando malah menganga, "anda tidak marah dikatakan cinta bertepuk sebelah tangan oleh mereka tuan? anda tidak ingin menuntut mereka? ". cecar Nando.
"apa yang harus aku katakan? aku memang tertarik pada bocah itu". jawab Varel malah mengakui dirinya menaruh hati pada Shila
"tapi.. Mereka mengatakan Nona Shila tidak mencintai anda". jelas Nando
"kalau dia mencintaiku semudah itu tidak asik sama sekali". tawa Varel malah membuat Nando ngeri melihatnya.
"bukannya malu di katai Cinta bertepuk sebelah tangan, dia malah tertawa dan senang? Tuan Muda memang kehilangan kewarasannya saat jatuh cinta". batin Nando
Varel tidak marah saat semua orang tau Varel mencintai Shila seorang diri sementara Shila terlihat tidak mencintai Varel dari tatapan gadis polos itu saja sudah menjelaskan semuanya.
.
.
"apa-apaan berita ini? ". decak Shila memberikan ponselnya Vivi kembali pada Vivi.
"kenapa Shil? ". tanya Vivi menahan tawa
"kenapa artikelnya seperti sinetron? kenapa jadi drama? tidak.. tidak.. apa katanya? novel?? kenapa jadi begitu? semua tidak benar, kenapa pulak Om Varel mencintaiku?? haha.. setiap hari dia selalu mengata-ngataiku bahkan membuatku marah dan kesal". gerutu Shila
Vivi senyam-senyum sendiri.
"aisssh..! aku udah memperingati om untuk tidak datang tapi dia datang hari itu hingga beritanya semakin runyam begini? ". Shila mengomel-ngomel sendiri.
Shila malah tidak tau apa-apa dan mengira semua itu hanya gosip, mana Shila tau Varel mencintainya, dimana-mana penilaian Shila pria mencintai perempuan yang dicintainya itu akan rela melakukan pengorbanan seperti yang dilakukan Papanya.
semenjak berita itu, Shila selalu dihormati oleh siapapun berapa kalipun Shila menjelaskan berita itu tidak benar tapi tetap saja tidak ada yang percaya kata-kata Shila.
"kenapa darling? ". tanya Agus dengan gaya centilnya yang semakin menjadi-jadi.
"aku tidak tau bagaimana mengatasi berita itu kak! mereka tetap tidak percaya penjelasanku". curhat Shila dengan lemas.
Agus terkekeh, "kenapa kamu malah tidak nyaman darling? seharusnya kamu senang kan? kamu di hormati dan disegani banyak orang".
Shila mendengus, "tidak enak sama sekali, setiap kali aku bicara sama om malah katanya biarkan saja, dia malah tidak peduli berita itu seperti hanya hal kecil saja".
"kamu kenapa polos sekali?". decak Agus menggeleng kepalanya mendengar penjelasan Shila yang terlihat tidak mengerti situasi Shila.
orang bodoh pun tau kalau Varel membiarkan berita itu menyebar karna untuk mengunci Shila, siapa yang berani mendekati Shila saat tau seorang Tuan Muda Fox Group menaruh hati padanya.
.
.
__ADS_1
.