Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
perawatan?


__ADS_3

.


.


Shila melihat Ariel dan Varel bergantian, ia melangkahkan kakinya ke Ariel yang sumringah sedangkan Varel mulai khawatir dan Gibran serta Nando malah tegang.


"sayang..? kamu mengenaliku?". senyum tampan Ariel mengangkat tangannya hendak membelai wajah Shila namun di tepis oleh Shila hingga Ariel terbelalak.


"udah berapa kali aku bilang Om..! jangan berakting menjadi om Raffan, aku udah bilang sampai mulutku berbuih kalian itu berbeda". kata Shila dengan tatapan tajamnya


Varel terperangah mendengar perkataan Shila yang otomatis mengenalinya, Gibran dan Nando juga menganga lebar.


"oh.. itu Tuan Ariel? ". tebak Vivi mengangguk-ngangguk padahal ia tidak tau itu Varel atau bukan hanya karna Shila yang tau.


"apa maksudmu Maharani? ". Ariel bersikeras tidak mau mengakui dirinya Ariel


"cukupp...! berhenti memanggilku Maharani Pak..! hanya Om Raffan yang memanggilku Maharani". pekik Shila memanggil Ariel Bapak saking geramnya.


Nando dan Gibran menahan tawa seketika, dan Varel tertawa puas karna Ariel di panggil bapak oleh kekasihnya


Ariel menjatuhkan rahangnya,


"bapak tau bedanya bapak dengan Om Raffan? ". tanya Shila dibalas gelengen oleh Ariel


"bapak banyak kerutannya". jawab Shila asal membuat Ariel memegang wajahnya seketika


Nando dan Gibran tak kuasa menahan tawa nya, akhirnya tawa mereka pecah membahana dan Vivi membekap mulutnya yang sedang tertawa.


"sial... kenapa gadis Arogan ini bisa mengenaliku bahkan aku dan dia sangat persis, aku berkerut? apa-apaan ini". batin Ariel malah percaya dirinya ada kerutan sepertinya Ariel harus pergi ke dokter kecantikan.


Shila berjalan ke arah Varel lalu memukul dada bidang kekasihnya.


"aahh, sayang.. " Varel meringis manja


"om mau mengerjaiku ya?". tanya Shila dengan kesal


Varel mengulum senyumnya, "dia yang bersikeras ingin membuatmu bingung". jawab Varel mengusap sayang kepala Shila sambil melirik Ariel


Ariel segera pergi sambil memegang wajahnya sekiranya mencari kerutan yang dimaksud Shila, Nando segera pamit pada Varel yang dibalas anggukan oleh Varel dan Gibran menarik tangan Vivi berjalan menuju ke dapur.


"mana jam tangan om? ". tanya Shila


Varel mengeluarkan jam tangan pemberian Shila, Shila merebutnya dan memasangkannya kembali ke tangan Varel. Varel menatap lekat Shila, sungguh ia merasa dirinya begitu beruntung memiliki Shila yang sangat baik hati, tidak serakah, tidak haus akan kekuasaan.


jika wanita di luar sana pasti akan merayu Ariel karna kemungkinan Ariel adalah pewaris Fox Group walaupun Varel sudah menjadi CEO Fox Group tapi ia tidak mau merebut hak untuk abangnya, dan juga mana ada wanita yang mau menolak penguasa Fox Group jika Ariel memang penguasa sesungguhnya.


"kenapa om? ". tanya Shila dengan bingung menatap Varel yang menatapnya dengan intens.

__ADS_1


"aku beruntung memilikimu sayang, kamu tetap bersamaku meski aku bukan Penguasa Fox Group nantinya". ujar Varel dengan lembut


Shila tersenyum manis lalu melingkarkan tangannya di leher Varel dan memeluknya begitu manja,


"om adalah yang terbaik..! mirip seperti papaku dan aku yakin pasti om bisa membuka usaha nasi padang nanti". ejek Shila membuat Varel gemas menciumi sisi wajah Shila yang tertawa cekikikan.


"aku tidak pandai masak masakan padang sayang, aku bisa masak makanan luar". jawab Varel, Shila masih asik dengan tawanya.


"bagaimana kamu bisa membedakan kami sayang?". tanya Varel penasaran


"pertama aku lihat Om pakai baju kaus hitam dan aku tau om suka warna hitam, kedua tatapan om yang lebih dalam dari pada Pak Ariel yang menatapku". jawab Shila dengan santai


Varel tertawa lebar, "aku benar-benar kagum akan kecerdasanmu sayang". Varel kembali memeluk Shila


sedangkan di dapur Vivi mengomel pada Gibran yang membuatnya ada di dapur.


"kenapa kau membawaku kesini? ". tanya Vivi dengan mata melotot galak


"heii.. aku membantumu yang akan dijadikan obat nyamuk oleh mereka". jawab Gibran seakan tak terima Vivi malah memarahinya.


"aku terima jadi obat nyamuk mereka, kau tidak lihat betapa romantisnya mereka hah? terutama artisku yang sangat hebat bisa mengenali Tuan Muda Varel padahal mereka sangat mirip tidak ada bedanya". omel Vivi


"terserahmu saja". acuh Gibran merasa malas ribut dengan Vivi


Vivi hendak pergi namun tangannya dicekal oleh Gibran.


"kau buatkan aku makanan! ". pinta Gibran memelas


Vivi hendak mengabaikannya tapi mendengar suara perut Gibran membuatnya menghela nafas panjang, mau tak mau ia harus masak untuk dokter menyebalkan ini sebab Vivi masih punya hati bukan? ya walaupun dia galak tak berbeda jauh dengan Shila.


.


.


"abang ngapain kesini? ". tanya Frans seakan tak percaya Ariel membawanya ke Rumah Kecantikan


"cepatlah turun..! ". titah Ariel


dengan wajah bodoh Frans turun dan mengekori abangnya itu, entah mengapa Ariel nyaman bersama adiknya itu mungkin sejak Frans menyelamatkan nyawanya hari itu, kini mereka jarang bertengkar malah Ariel membela Frans terang-terangan didepan mommy dan papinya.


"selamat datang Tuan Muda! ". ucap para pekerjanya yang sempat terkejut dengan kedatangan Ariel


"bisa kah produk kalian menghilangkan kerutan diwajahku? ". tanya Ariel membuat Frans menjatuhkan rahangnya


"abang bicara apa? ". tanya Frans seolah protes


"diamlah..! ". pinta Ariel lembut mengacak rambut Frans

__ADS_1


Frans hanya mendengus merapikan rambutnya, kapan lagi ia bisa sedekat ini dengan saudaranya biasanya abangnya itu cuek dan dingin.


Frans menatap datar ke langit-langit ruangan tertutup kini, ia berdecak malu mendengar ocehan Ariel yang mengatakan Ariel sudah berkeriput.


"entah hantu dari mana yang mengatakan bang Varel berkeriput, keriput dari mana coba? apa dia bodoh? ya Tuhan bantu sadarkan abangku yang sudah tidak waras ini". batin Frans


.


"kenapa abang perawatan wajah? dan juga kenapa bertanya seperti tadi? memalukan tau nggak?". cecar Frans dengan kesal


"ada seseorang yang memanggil abangmu ini Bapak". jawab Ariel membuat Frans menjatuhkan rahangnya.


"apaaa?? hanya karna memanggil abang Bapak?". pekik Frans


"diam..! kau berisik sekali". ketus Ariel


Frans memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri, "dasar tidak waras! ". umpat Frans dengan nada pelan tak didengar oleh Ariel yang sibuk meraba wajahnya.


"abang bawa aku kemana? ". tanya Frans melihat jalan yang di tuju abangnya berbeda


"ke Kantor! ". jawabnya santai


"abanng..! mataku ngantuk kalau berada di dalam Ruangan kerja abang itu, aku sama sekali tidak berbakat bekerja di kantor". protes Frans


"ya sudah..! kau bawa Mobilku nanti". jawab Ariel menekan kepala Frans


Frans menganga mendengarnya, "abang mengizinkanku bawa mobil ini? ". tanya Frans seakan tidak percaya


"memang apa salahnya? bukan kah kau tidak mau di kantor? ya sudah pulang saja". jawab Ariel dengan santainya seakan tidak sadar dirinya begitu berubah dimata Frans


"lalu abang pulang naik apa? ". tanya Frans berbinar


"bukankah ada Nando? percuma saja punya asisten". jawab Ariel dengan datar membuat Frans tersenyum lebar.


"jangan membuatku berubah pikiran! aku benar-benar ada urusan penting disana". ancam Ariel


"iya bang.. iya". Frans melihat arah lain sambil tersenyum senang


"jika abang seperti ini terus aku betah di sini". batin Frans tertawa senang dapat pinjaman milik abangnya ini.


Frans bukannya tidak mampu membelinya tapi dipinjamkan sesuatu oleh abangnya yang terkenal pelit juga perhitungan pada saudara ini sangatlah berharga, lebih berharga dari apapun.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2