
.
.
.
Raisa mendatangi Oma Cici yang tengah menggendong Virgo. Virgo mengerjab-ngerjabkan matanya melihat Raisa,
"hai.. adik manis? kakak tidak punya hadiah mahal tapi kakak buat sendiri mau? ". tanya Raisa
"ndili?? ta mam tu angat istimeowa, igo uka". Virgo berbicara dengan logat kecilnya yang masih belum terlalu lancar berbicara tapi itu sudah kategori hebat.
Raisa tersenyum lebar, anak ini sangat hebat tentu Mama nya yang begitu hebat karna bisa membangun pribadi bocah sekecil ini menjadi bocah yang begitu dermawan suka menghargai pemberian orang lain.
Oma Cici tersenyum, "wah.. keliatannya Cucu Oma suka ya? hadiah kakak cantik".
Raisa memberikan kadonya, dengan tak sabarnya Virgo membuka nya.
"waah.. antik.. igo ukaa". Virgo melebarkan sapu tangannya yang diberikan oleh Raisa bahkan ada sablon foto kecil dirinya dengan Papa serta mamanya.
"sini biar kakak lipatin ya?". Raisa melipat sapu tangan itu dan meletakkannya di saku jas mungil di tubuh Virgo.
Virgo begitu senang dengan hal itu bahkan ia berceloteh bahwa Papanya sering diberi sapu tangan di jasnya oleh Mamanya, sekarang Virgo merasa jadi orang besar hingga Raisa tertawa lebar.
"memangnya kamu mengerti bahasa Virgo cantik? ". tanya Oma Cici yang tidak mengerti bahasa Virgo.
selama ini yang tau bahasa Virgo ya hanya Ayu saja, mamanya Virgo sendiri.
Raisa mengatakan apa yang Virgo bicarakan tadi hingga Oma Cici berdecak kagum lalu bertanya nama Raisa dan Raisa menjawab serta mengatakan bahwa ia berpengalaman karna punya banyak adik.
"hebat ya? ". puji Oma Cici
"Raisa? kamu tidak pulang? ". Frans tiba-tiba datang
"Oh..Pacarnya Frans ya? ". celutuk Oma Cici
Raisa melebarkan matanya lalu menggeleng-geleng cepat, "bukan Nyonya".
"jangan panggil Nyonya dong..! coba panggil Oma juga biar Virgo makin lancar manggil Neneknya Oma? ". bujuk Oma Cici
"eeh..? iya O..Oma". jawab Raisa
"ayolah..! maaf ya Oma? Raisa punya batas waktu seperti Cinderella jika terlambat pulang tidak berubah tapi kena pidato Ibunya". Celutuk Frans
__ADS_1
Raisa nyengir malu, "maaf Tuan".
"haha.. kenapa minta maaf?". Oma Cici yang gemas.
"ckk... cepatlah..! ". Frans menarik lengan Raisa lalu memaksanya pergi dengannya padahal Raisa belum berpamitan dengan Oma Cici yang tertawa lepas sedangkan Virgo begitu asik mengayun kaki kecilnya sambil menatap sapu tangan di saku jas nya.
Frans membawa Raisa ke Ayu dan Leon lalu Ayu memberikan banyak kue, Vivi serta Shila dan Jessy juga banyak membungkuskan makanan enak untuk Raisa bawa pulang hingga tangan Raisa penuh dan Frans disuruh bawa lebihnya.
"te. terimakasih Kakak.. kakak.. Tante...". Ucap Raisa yang malu dan tidak tau lagi mau bicara apa.
mereka pun tersenyum cerah, malah mengucapkan terimakasih kembali karna mau menyempatkan waktu datang ke Acara keluarga mereka hingga Raisa merasa dianggap penting padahal dirinya bukan siapa-siapa.
Keluarga Mereka memang sangat hebat dan pantas untuk menjadi Keluarga Terpandang.
Frans tanpa komentar membawa semuanya dan meminjam mobil Papanya karna barang-barang yang dibawanya kini sangat banyak hingga Raisa merasa tidak enak hati.
"maafkan saya Tuan". ucap Raisa merasa tidak enak
"maaf? buat apa? ". tanya Frans
"Maafkan saya malah merepotkan Tuan dengan banyaknya makanan diberikan oleh Keluarga Tuan". jawab Raisa
Frans menarik nafas dalam-dalam, "hei.. biasanya mereka juga akan bagikan makanan-makanan mereka ke orang lain dan kamu hanya salah satunya, kamu pikir kami suka buang-buang makanan? ".
"kenapa aku harus marah? apa aku marah-marah padamu tadi hmm?". Frans merasa heran dengan pertanyaan Raisa.
"Tuan sejak tadi diam dan saya takut itu". cicit Raisa dengan jujur membuat Frans terkekeh kecil.
"aku diam karna tidak ada yang mau dibahas, memangnya aku harus mengomel-ngomel padamu? aku tidak mungkin marah-marah tanpa sebab kan? kan kamu tau sendiri aku bagaimana". Frans membukakan pintu untuk Raisa
"saya bisa buka sendiri Tuan". Raisa makin tidak enak saja diperlakukan begitu baik oleh Frans.
"hei.. aku ini Pria yang baik, aku tidak sedingin dan sekaku abang-abangku, aku sangat menghormati kalian sebagai perempuan, cepatlah..! masuk-masuk! ". Omel Frans mendorong Raisa masuk.
Raisa terdiam saja di dalam mobil Frans, "nanti hati saya yang dalam bahaya Tuan, anda memang baik kami semua tau itu". batin Raisa
"Seatbelt! ". titah Frans yang sudah duduk disamping Raisa.
Raisa pun gelagapan memasang pengamannya, lalu mobil mereka meninggalkan pekarangan Rumah Leon dan Ayu.
di dalam mobil Raisa mencuri-curi pandang melihat Frans, pertama Raisa melihat punggung tangan Frans di tengah-tengah mereka lalu urat-urat lengan Frans yang menaikkan lengan kemejanya sementara jas nya sudah berada di bangku belakang.
Glek...!
__ADS_1
pandangan Raisa terus menanjak hingga tiba di bibir merah dan hidung mancung Frans, betapa seksinya Bos nya ini dilihat dari dekat, lama-lama Frans melirik ke Raisa.
"ada apa? ". tanya Frans.
Raisa buang muka melihat arah jalanan, "ya Tuhan..!! Raisaaaaaa??? apa yang kau lihatt?? ". jerit Raisa dalam hati.
Frans menahan senyum saja lalu mengelus dan mengacak pelan Poni depan rambut Raisa hingga gadis itu membeku ditempat bahkan tidak berani sekedar memutar kepala melihat ke arah Frans, ia takut jantungnya langsung lepas dari tempatnya sebab saat ini detak jantungnya semakin tidak normal.
hanya perempuan tidak normal yang tidak jatuh cinta pada Frans, melihatnya dari jauh saja sudah membuat perempuan manapun senang menatap Frans apalagi dekat? sudah pasti suka lah.
.
.
"terimakasih Tuan". ucap Raisa dengan tulus.
"iya, kalau begitu salam pada ibu mu ya? aku tidak bisa mampir". Frans menutup pintu mobilnya setelah mengeluarkan semua makanan yang ada dibelakang mobilnya.
"iya Tuan, sekali lagi terimakasih banyak". ucap Raisa
Frans pun berbalik memasuki mobilnya dan Raisa menunggu Frans sampai mobilnya tak terlihat lagi, tak berapa lama kemudian semua Adik-adik Raisa muncul.
"ssst.. jangan berisik dek..! cepat bawakan makanan-makanan ini untuk kalian makan". pinta Raisa
mereka semua dengan heboh berebut membawa semua barang-barang bawaan Raisa, setibanya di dalam Rumah, mereka makan beralaskan tikar dan makan beramai-ramai.
Raisa tersenyum bahagia melihat betapa recok dan gembiranya adik-adiknya makan enak, Raisa tidak pernah melupakan adiknya saat Raisa makan enak.
Lely pun makan dengan lahap, mereka orang susah bahkan makan saja sayurnya hanya tempe atau kangkung itu pun salah satu saja, terkadang Raisa gajian mereka paling enak makan ikan, lebihnya untuk biaya kampus dan biaya harian adik-adiknya sekolah.
"abang Bos kaya sekali ya Kak? ". tanya Rumini si bungsu dengan polos juga wajahnya yang belepotan.
"iya". jawab Raisa mengelus kepala Rumini.
"Rumini akan berdoa sama Tuhan Yang Maha Esa supaya Kak Raisa bisa menikah dengan Abang Bos". kata Rumini yang memang paling bawel.
Raisa hanya tertawa, ia menganggap perkataan Rumini hanya candaan saja padahal Adik-adiknya yang lain diam-diam juga mendoakan hal yang sama, mereka sangat tau bagaimana menderitanya Raisa membesarkan mereka sementara Ayah mereka sudah kabur karna tidak sanggup membiayai anak-anaknya sendiri apalagi Lely saat itu sakit.
Raisa tidak pernah mengeluh, ia terus berjuang siang dan malam demi sang adik supaya tidak putus kuliah dan sekolah.
.
.
__ADS_1
.