
.
.
"strategi macam apa yang menahan lapar Tuan? ". tanya Vivi dengan geram
Ariel terkekeh sekali lagi hendak menyentil kening Vivi tapi gadis manis itu sudah melarikan diri dari Ariel yang mengulum senyum melihatnya.
"imut". gumam Ariel
Ariel mengikuti Vivi yang pergi ke dapur sesuai intruksi Ariel tadi, benar saja Vivi tidak kesasar mencari dapur.
"apa kau tidak membeli mie? ". tanya Ariel melihat belanjaan Vivi
"biar Tuan makan Roti saja, Tante meminta saya untuk mengawasi Tuan jangan memakan makanan seperti itu". jawab Vivi
"ckkk..! aku makan seperti itu juga tidak tiap hari hanya sesekali saja, aku ingin makan pedas!". decak Ariel
"kalau begitu saya buatkan! ". Vivi mengeluarkan Mie telur yang ia beli hingga Ariel menganga.
"itu Mie apa? mana bumbunya? ". tanya Ariel
"saya racik sendiri Tuan! silahkan anda bekerja, saya akan memasakkannya untuk anda". kata Vivi mulai sibuk dengan kegiatan memasaknya
"awas saja kalau tidak enak". ancam Ariel
Vivi malah pura-pura tidak dengar, Ariel bukannya pergi malah duduk di meja dapur sambil bersidakap dada memperhatikan Vivi yang seperti chef.
Vivi dengan mudah mendapatkan bumbu dapur dan menggilingnya sampai benar-benar halus, ia mengangkat mie telur yang sudah ia rebus, betapa cekatannya Vivi memasak di dapur yang baru pertama kali Vivi masuki.
.
"Tuan mau pedas kan? ini Mie Telur Pedas buatan saya". Vivi memberikan satu piring Mie buatannya
Ariel berdehem karna sejak tadi ia memang tidak sabar memakan mie buatan Vivi karna Aroma rempah-rempahnya begitu menggugah selera.
Vivi mengambil untuknya dan duduk di lantai hingga Ariel melihatnya.
"sedang apa disana? ". tanya Ariel
"makan". jawab Vivi mengerjabkan matanya
"siapa suruh dilantai? cepat naik! ". titah Ariel
Vivi menggeleng kepalanya, "tidak sopan itu Tuan".
"cepatlah..!". titah Ariel menatap tajam
alhasil Vivi duduk juga di hadapan Ariel, "entah aku bisa makan dihadapan Tuan Ariel". gerutu Vivi
"makanlah..! aku tidak akan memakanmu, tidak usah menggerutu!". kata Ariel
Vivi terbatuk-batuk seketika mendengar kata-kata Ariel yang tidak akan memakannya? dia yang sudah dewasa tentu hampir saja memikirkan yang tidak-tidak.
"Tidaaaakkkk...! ku mohon otak jangan berpikir macam-macam, Tuan Ariel membahas makan Mie, jangan kotor ..jangan berpikiran kotor...! ". jerit Vivi dalam hati menggeleng-geleng kepalanya
__ADS_1
"kenapa lagi kau? kesurupan? ". ejek Ariel
Vivi tersadar lalu menatap Ariel dengan kesal,
tak ada pembicaraan apapun diantara mereka berdua, Ariel benar-benar makan dengan lahap walaupun ia kepedasan tapi malah menambah nafsu makannya.
Ariel membuka jasnya, ia juga melepaskan dasinya dan membuka 1 kancing bajunya hal itu dilihat Vivi dengan cepat ia fokus dengan mie nya tanpa berani melihat tubuh seksi itu.
"apa ada lagi? ". tanya Ariel
Vivi mendongak menatap Ariel yang mana wajahnya basah dan bibirnya begitu merah karna makan pedas itu.
"apa Tuan yakin mau menghabiskannya? kalau nanti masuk Toilet bagaimana? ". tanya Vivi
"tidak akan..! aku kuat pedas". jawab Ariel
Vivi mengerti satu hal Ariel bisa makan-makanan pedas sedangkan Varel tidak kuat makan-makanan pedas hanya sanggup beberapa sendok saja tapi Ariel bisa menghabiskan 1 kuali.
.
.
"kenapa kau banyak membeli Roti? ". tanya Ariel
Vivi memalingkan muka nya melihat kemeja Ariel basah seperti mandi hujan saja.
"kenapa kau menghindariku? ". tanya Ariel dengan sebelah alis terangkat
Vivi melangkah mundur hingga punggungnya mengenai dinding dan Ariel mendekati Vivi hingga jarak mereka begitu dekat.
"baju Tuan tolong diganti! ". pinta Vivi yang masih memalingkan muka
Ariel melihat tubuhnya sendiri, "ckk..! apa bagusnya ini? ". Ariel malah dengan entengnya melepaskan kemeja nya dan melemparnya ke wajah Vivi
"aahh! ". Vivi memekik
bukannya Jijik Vivi malah mematung di tempat, bau keringat Ariel pun sangat menyegarkan di hidung gadis jelata sepertinya.
"Ya Tuhan.. wanginya terasa sekali, apa-apaan ini? dunia sangat tidak adil, bagaimana bisa Pria seperti Tuan Ariel dan Tuan Varel tidak memiliki kekurangan? bahkan keringatnya pun wangi, ini benar-benar tidak adil". gerutu Vivi dalam hati
"cepatlah..! ambilkan aku kemeja baru! ". Ariel menekan kepala Vivi
"aehh?! iya Tuan". Vivi berjalan dengan posisi yang sama tidak menjauhkan kemeja basah Ariel yang disangkutkan di kepalanya hal itu membuat Ariel tertawa kecil.
.
.
di tempat lain
Shila dan Varel tengah bergandengan tangan dengan memakai penyamaran yang begitu sempurna, Shila tersenyum manis melihat tiket nonton bioskop nya kini.
Varel merangkul pinggang Shila dan mengecup pelipis Shila yang tertutup penutup hoodie putih.
"kita masuk sayang? ". tanya Varel dibalas anggukan cepat oleh Shila
__ADS_1
mereka duduk di kursi paling belakang,
"kenapa ?". tanya seseorang pada teman di bangku depan Shila dan Varel
"aku dengar dari temanku yang kerja di Perusahaan Fox Group bilang kalau Tuan Varel meminta Managernya Shila untuk membawa barang-barangnya". jawab wanita disamping yang bertanya
"benarkah? mungkin hanya sebentar saja". jawab yang lainnya
"heii.. mereka didalam Ruangan Tuan Varel hampir 8 jam, menurutmu apa yang terjadi diantara mereka? yakin hanya sekedar mengantar? ".
"iya juga, tapi kenapa dengan Shila ya? apa Shila begitu percaya dengan Managernya? bahkan saudara kandung pun bisa merebut milik kita apalagi hanya seorang Manager".
"iya benar juga sih, tapi bukannya Tuan Varel sangat mencintai Shila? sudahlah jangan dipikirkan mungkin Tuan Varel bekerja sementara Managernya Shila disuruh bersih-bersih kan? ".
"iya juga ya? "
"hahah"
Shila menoleh ke arah Varel sedangkan Varel mengulum senyum menatap ke arah Shila.
"kapan Om menunjukkan diri ke Publik? ". tanya Shila berbisik
Varel mengecup bibir Shila yang melotot seketika melihat sekeliling.
"akan aku tanyakan pada Ariel". bisik Varel
Shila memutar kepalanya ke arah layar dan bersandar di bahu Varel, sedangkan Varel memberikan popcorn yang tadi dibelinya dengan senang hati Shila memakannya.
setelah menonton bioskop Varel dan Shila menghabiskan waktu dimalam hari ke Pasar malam bermain wahana yang Shila inginkan, gadis cantik itu begitu bahagia dirangkulan Varel.
"mau masuk Rumah setan sayang? ". tanya Varel membuat Shila menoleh seketika
"R.. R.. Rumah hantu? ". cicit Shila tergagap
Varel tergelak saat Shila mengalihkan perhatian dengan bermain wahana lain, jelas sekali Shila takut masuk Rumah hantu, saat Shila melihat Ariel saja yang berpura-pura menjadi Varel membuatnya gemetar mengira melihat hantu apalagi mendatangi Rumah hantu, Shila benar-benar takut.
.
di Ruangan Ariel
"Tuan..? ". tanya Vivi
"hmm? ". sahut Ariel yang fokus memainkan komputernya sesekali melihat berkas penting dan menandatanganinya.
Ariel sudah terbiasa dengan tanda tangan seperti Varel, ia benar-benar bisa meniru Varel hanya Shila saja yang tidak terkecoh saat dirinya menjadi Varel.
"kapan saya boleh keluar? ". tanya Vivi
"nanti saja". jawab Ariel
.
.
.
__ADS_1