
.
.
di Kamar Varel menatap Shila yang sejak tadi menatap tajam dirinya seolah Varel adalah musuh bebuyutannya saja.
"kenapa sayang? ". tanya Varel dengan gemas
"diam om..!". bentak Shila hingga Varel terdiam
"aku belum memaafkan om". ketus Shila membuang muka
"seharusnya aku yang marah sayang, bagaimana bisa kamu kesini tanpa bilang-bilang hmm?". Varel berkata dengan lembut
"apa? om malah menyalahkanku? om pikir kami bisa tidur-tiduran di kasur tanpa memikirkan bahaya apa yang sedang kalian hadapi hah?". marah Shila
"iya sayang maafkan aku ya? bukankah aku yang ingin kamu baik-baik saja". jawab Varel dengan lembut tak terpancing dengan api amarah Shila.
"bahkan kak Vivi tidak bisa tidur tenang tapi saat ada dihotel negara ini dia langsung tertidur karna dia tau suaminya ada dinegara yang sama dengannya". kesal Shila
"kan bisa dihubungi sayang? ". tanya Varel
"bagaimana mau dihubungi kalau nomor yang dituju tidak aktif". bentak Shila
Varel terdiam, "maaf ya sayang..! aku hanya tidak ingin kamu terluka".
"tidak bisa..! aku belum memaafkan Om..! sana pergii..! ". Shila menarik lengan Varel dan memaksa kekasihnya itu keluar hingga Varel hanya bisa menghela nafas panjang melihat pintu ditutup dengan keras.
Varel melirik kesamping dimana Ariel juga diusir oleh Vivi.
"Beb.. maafkan aku Beb...? Beb...? ". Ariel mengetuk-ngetuk kamarnya bahkan menggedor-gedornya.
pintu dibuka hingga Ariel tersenyum lebar, "aku tau kamu tidak akan tega menyuruhku tidur diluar beb".
"siapa bilang? ". ketus Vivi melempar bantal ke wajah Ariel dan Vivi membanting pintu.
Ariel menganga melihat ke pintunya yang tertutup rapat, ia berusaha membukanya ternyata di kunci hingga Ariel menyerah dan kini malah menggaruk-garuk kepalanya
"Hmmmppfff... "
Ariel menoleh kesamping dimana Varel menahan tawa sekuat tenaga padanya.
"kau menertawaiku? jangan bilang kau juga diusir oleh Maharanimu? ". ejek Ariel yang tak mau kalah
"siapa bilang? aku hanya berusaha mengetuk pintu dan dia tidak membukakannya sama sekali berbeda denganmu yang di usir dari Kamarmu sendiri". ketus Varel melenggang pergi meninggalkan Ariel yang memaki nya.
alhasil Varel dan Ariel pergi ke kamar tamu dimana Nando dan Frans tidur.
"apaan sih bang? sana pergi..! badanku sakit-sakit semua tidak bisa berbagi tempat tidur". usir Frans
"kau mengusir abang dek? setidaknya terima abang usir dia". Ariel menunjuk muka Varel
"tidak bisa..! aku abangnya". tolak Varel.
__ADS_1
"aku juga abangnya". bantah Ariel
"aku yang abangnya". tantang Varel
"kau... ini Rumahku, dia adikku kalau disini". marah Ariel
bruukkhh..
pintu di tutup dengan kasar hingga Ariel dan Varel mematung memutar kepala ke arah Pintu, seperti bocah mereka menggedor-gedor Kamar Frans dan Nando yang tadi tertawa.
"kenapa aku diusir dari Rumah milikku sendiri? ". gumam Ariel
"gara-gara kau aku jadi terkena imbas kemarahan Maharani". Varel menyalahkan Ariel.
"ckk... diamlah..! kau berisik sekali, sekarang pikirkan bagaimana cara kita tidur? ". geram Ariel
"apa tidak ada Kamar di Rumahmu sama sekali hah?". tanya Varel dengan heran
"ada.. " jawab Ariel
.
Varel terbatuk-batuk melihat kamar yang dikatakan Ariel.
"kau bilang ada kenapa kau malah membawaku ke gudang? ". bentak Varel
"kau bilang ini gudang? ini kamarku sebelum pindah bodoh tapi karna sudah lama tidak aku tempati jadi begini". marah Ariel
"cepat kau bersihkan kamarmu! ". titah Varel
"aku tamu dan kau harus melayaniku dengan baik". kata Varel dengan angkuh
"tidak bisa.. kau harus membantuku, aku sudah lelah dan aku mau cepat berbaring". Ariel menarik lengan Varel untuk membantunya.
dengan enggan Varel membantu Ariel, walau diawali pertengkaran sampai kamar itu sudah bersih tak juga mulut mereka berhenti berdebat.
"ssst.. diamlah..! sana kau pergi! ". usir Varel
"diam kau..! kau yang pergi bukankah kau bilang tadi kau tidak diusir? ". usir Ariel meledek
"aku lelah membantumu, aku ingin tidur disini saja". Varel menjawab dengan angkuh
"ckk.. bilang saja kau juga diusir". gerutu Ariel tak dibalas oleh Varel.
ke esokan harinya
Shila menghubungi Suryo yang baik-baik saja lalu menghubungi Jessy.
"mommy baik-baik aja nak..! kami hanya berdua dan melarikan diri itu hal mudah apalagi kami punya jalan tikus dari kamar, mommy tidak menyesal membiarkan kalian pergi". Jawab Jessy
Shila tersenyum manis, "baiklah Mom..! Shila memberi pelajaran sama om Raffan jadi Mommy jangan mau di bujuk olehnya ya Mom? ".
"iya sayang.. iya..! mommy mengerti". jawab Jessy
__ADS_1
satu harian Varel, Ariel dibuat pusing 7 keliling karna Shila dan Vivi tidak mau keluar kamar bahkan enggan keluar dari sana hingga Aham dan Rion tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat berada di tempat sunyi.
"Nona muda galak juga". kekeh Rion
"mungkin bawaan anaknya". sahut Aham
mereka kembali tertawa, saat mereka tau Vivi hamil sebelum menikah mereka sama sekali tidak terkejut sebab hal seperti itu sudah biasa di dunia hitam, bedanya jika melakukannya pada wanita yang dicintai tidak memakai pengaman.
"tapi Nona Shila? dia lebih cantik dari dugaanku bahkan saat berpakaian besar sekalipun". cengir Rion senyam-senyum sendiri
buggh
"sakit bodoh..! ". geram Rion mengelus dadanya yang di tinju Aham
"supaya kau sadar, Tuan Varel sepertinya punya sifat yang sama dengan Tuan Ariel jadi jangan nampakkan padanya binar matamu pada Kekasihnya". ketus Aham
"iya bodoh aku juga tau, aku masih waras dan mengerti situasi itu". jawab Rion dengan kesal
.
"sayang..? apa kamu benar tidak mau keluar sayang? cuaca sedang sangat bagus, aku akan membawamu ke Pusat kota bagaimana? ayolah sayang keluarlah!". bujuk Varel.
".....?". tak ada jawaban dari Shila
Nando dan Frans mengintip dibalik pilar melihat Varel dan Ariel tampak Berlomba mengeluarkan bujuk rayuan maut masing-masing untuk pujaan hati mereka supaya mau keluar.
"....?". tak ada jawaban dari Vivi
"apa perlu aku buka dengan kunci kamar ya? ". gumam Ariel
"kenapa tidak dari tadi bodoh? ". teriak Varel
"kau bilang apa? didalam sana ada kunci khusus jika Vivi menggunakan kunci itu maka kunci dari luar tidak ada gunanya". marah Ariel tak terima dibentak Varel.
"kamarmu kan? sekarang berikan kunci kamar ini..!". Varel mengulurkan tangannya
"aku lupa kunci kamar itu dimana". bohong Ariel
"kau jangan coba-coba menipuku! ". teriak Varel
Frans dan Nando menepuk jidat seketika mendengar adu mulut kedua Pria super tampan dengan wajah yang sama itu, padahal kemarin saat perkelahian mereka berdua begitu kompak tapi saat situasi aman dan saat tak ada musuh malah mereka yang bertengkar mulut seperti musuh.
"lebih baik aku pergi sendiri saja ke pusat kota". gerutu Frans
"aku juga ikut denganmu..! kau seorang petualang negara dan aku jarang kesini, mohon bantu aku". kata Nando
Frans mengangguk percaya akan kata-kata Nando, akan lebih baik jika dirinya memiliki teman saat jalan-jalan.
sementara istri dan kekasih yang mereka (Ariel dan Varel) khawatirkan sedang jalan-jalan di pusat kota dengan penampilan lelaki mereka, anggap saja hukuman bagi kekasih dan suami mereka itu telah mempermainkan mereka tentu dibalas juga dengan hal yang sama biar Ariel dan Varel sadar diri.
.
.
__ADS_1
.