
.
.
siang hari
Shila berlari riang memasuki Gedung Apartemen tempat tinggal Varel
"Shila ku mohon jangan lari-lari! ". teriak Vivi
Shila mengabaikannya dan terus saja berlari hingga Vivi kewalahan mengejar gadis kampung yang sudah lama hidup di hutan itu.
tiba di dalam Lift, Shila tersenyum senang memegang pialanya yang akan menjadi kejutan untuk sang kekasih, sementara Vivi sudah ngap-ngapan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
"om... Tampaaaannnn! ". teriak Shila berlari memasuki Apartemen Varel
Varel berdiri dari duduknya di sofa dan tanpa ada yang menyadari senyum usilnya muncul seketika.
"Maharani? ". senyum lebar Varel berjalan mendekati Shila
Shila tertegun saat Varel tiba di hadapannya, ia dengan cepat mengelak hingga Vivi yang baru datang masuk ke dalam pelukan Varel.
"aah.. Tuan..? ". pekik Vivi segera melepaskan pelukannya dari Varel sementara Varel mukanya memerah karna menahan amarah.
"bapak pikir bisa mengelabuiku? ". ejek Shila tertawa puas.
Vivi segera melarikan diri ke kamar Shila yang ada di tempat ini, ia tidak mau kena amukan Pria itu yang tak lain adalah Ariel.
"kau mengenaliku? ". tanya Ariel tak percaya gadis Arogan ini mengenalnya.
"sudah berapa kali aku bilang kalian berbeda". senyum manis Shila yang terkesan mengejek Ariel
Ariel berdecak merapikan pakaiannya, "kemana managermu itu? berani sekali dia memelukku". gerutu Ariel
"bukankah Bapak yang merentangkan tangan? ". ejek Shila dibalas dengusan oleh Ariel
"aku pikir kau akan terjebak dengan aktingku". jawab Ariel dengan sombong
Shila mengulangi kata-kata Ariel membuat Pria tampan itu melototkan matanya karna ia sangat tidak suka kata-katanya di ulang atau di cibir.
"akting Bapak jelek sekali, hilangkan dulu kerutan itu baru aku bingung melihat perbedaan kalian". bohong Shila membuat Ariel berubah serius seketika
"benarkah? ". tanya Ariel merasa tertantang
"iya Pak..! bersihkan hati bapak dari pikiran kotor yang ingin menghabisi orang, lagian bapak adalah saudara kembar kekasihku dan aku yakin sedikit banyaknya perilaku baik kekasihku pasti ada didiri bapak". senyum tulus Shila membuat Ariel terdiam
__ADS_1
"aku orang jahat Maharani". kata Ariel
"bapak bukan orang jahat tapi karna kehidupan bapak yang dikelilingi orang jahat". jawab Shila sambil tersenyum
"apa aku bisa menjadi orang baik? ". tanya Ariel dengan serius
"tentu saja..! Mommy Jessy dan Papi Ramon sangat baik dan aku yakin Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Bapak pasti memiliki sifat yang sama dengan mereka yang sangat aku kenal sebagai orang yang sangat baik". jawab Shila
Ariel merasakan hatinya menghangat, "kau benar masih berumur 21 tahun? ". tanya Ariel penasaran
"kenapa memangnya pak? ". tanya Shila balik
"karna pikiranmu sangat dewasa melebihi kejeniusanku". jawab Ariel tersenyum tipis
"bapak memujiku? wow.. aku tersanjung terimakasih!". Shila memberi tundukan hormat hingga Ariel terkekeh pelan
"dimana Om Raffan Pak? ". tanya Shila penasaran
"dia tadi sakit perut dan ada di toilet, aku rasa dia salah makan sesuatu". jawab Ariel
Shila terbelalak, "benarkah?". tanya Shila khawatir
Ariel mengangguk lalu Shila dengan cepat berlari ke arah Kamar Varel hingga Ariel menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum tipis.
"pantas saja gadis itu bisa membuat anak itu tergila-gila, ternyata karna pemikirannya yang dewasa". gumam Ariel mengangguk pelan
Ariel melangkahkan kakinya ke arah kamar itu lalu mengetuk kamar itu dan tak lama Vivi menyahut dan membuka pintu kamarnya, Ariel menaikkan sebelah alisnya melihat pintu nya hanya dibuka sedikit saja.
"bagaimana Shila? apa Tuan Ariel sudah pergi? ". tanya Vivi khawatir dan terdengar panik
".....?".
"ini semua karnamu Shila, siapa suruh kamu lari-lari dan aku ikutan berlari mengejarmu lalu tiba-tiba kamu menyingkir hingga aku masuk ke dalam pelukan Tuan galak itu". kesal Vivi
"Tuan galak? ". batin Ariel
"aku lebih baik kecebur dalam kolam buaya dari pada masuk ke dalam pelukan Tuan Galak itu, ya Tuhan.. apa aku masih bisa melihat mata hari terbit esok hari? maafkan kakak dek..! kakak tidak akan bisa mentransfer uang lagi untukmu, jaga dirimu ya dek? sepertinya umur kakak tidak akan lama lagi". cerocos Vivi tanpa rem tanpa sadar hal itu membuat sudut bibir Ariel terangkat.
"kolam buaya? bukankah kau sama saja bunuh diri?". ejek Ariel
"lebih baik seperti itu kan? udah jelas aku akan mat...? eeehhh? ". jawab Vivi keceplosan dan akhirnya ia menyadari sesuatu.
"aaahhh". Vivi membekap mulutnya secepat kilat dan hendak menutup pintu tapi tidak bisa karna sepatu Ariel sudah menghalangi pintunya.
"mati aku..! ". gumam Vivi terdengar ketakutan lalu meninggalkan pintu yang terbuka sementara Ariel masuk dan melihat Vivi melarikan diri masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"apa aku terlihat begitu mengerikan? ". gumam Ariel menggaruk kepalanya yang tak gatal
".....?"
tak ada tanda-tanda Vivi akan keluar, ia pun memilih pergi dari Kamar itu, tak sengaja ia mendengar omelan Shila pada Varel, ia mengabaikannya dan terus saja melanjutkan langkah kakinya karna ia yakin Varel akan baik-baik saja dengan adanya Shila.
.
1 jam... 2 jam... 3 jam... 4 jam... hingga tidak terasa berjam- jam telah berlalu.
Vivi yang ketakutan hingga tertidur pulas di kamar mandi pun terbangun seketika, "ya Tuhan sudah jam 10 malam". gumam Vivi
Vivi melihat ke arah pintu, "tidak akan menungguku kan? bisa bahaya jika aku berhadapan dengan Tuan Galak itu".
Vivi memukul-mukul bibirnya yang tak bisa diajak kompromi, "mampuslah aku.. besok aku pasti akan dipecat". gumam Vivi dengan nada sedih
ke esokan paginya
"eeeh...? kakak disini? ". kaget Shila melihat Vivi keluar dari kamar mandinya.
"iya". jawab Vivi dengan mata panda nya
"ada apa kak? ". tanya Shila aneh melihat Vivi tak seperti biasanya terlihat begitu menyedihkan.
"iya.. karna kemarin aku menabrak pria yang tak seharusnya di sentuh oleh rakyat jelata sepertiku". jawab Vivi dengan tampang datarnya
"ada apa kak? apa maksud kakak? ". tanya Shila
"karnamu Shila.. hiks.. hiks.. aku pasti akan dipecat oleh Tuan Galak itu". cicit Vivi menangis seketika
Shila yang panik berusaha membujuk Vivi sampai tenang, Varel yang mendengar hal itu hanya menghela nafas panjang dan mengeluarkan ponselnya menghubungi Nando dan terhubung ke Ariel
"apaa? ". sahut Ariel ketus disebrang sana
"jangan memecat manager Maharaniku". kata Varel
"ck.. kenapa aku memecatnya? kau fikir kita sama?". ejek Ariel
"baguslah.. " Varel mematikan panggilannya secara sepihak hingga Ariel menyumpah serapah diPerusahaan Fox Group
Nando hanya bisa diam sambil menahan tawa di dalam hati, Perilaku dingin dan menyebalkan bertemu dengan Pria dingin juga menyebalkan bukankah itu hal tidak menyenangkan.
"pasti Tuan Ariel kesal sekali, dia dan Tuan Varel sama saja tidak suka direndahkan". batin Nando yang tau alasan Ariel menyumpah serapahi Tuannya (Varel).
.
__ADS_1
.
.