Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
mual


__ADS_3

.


.


.


beberapa hari kemudian.


semua karyawan pilihan Shila, Varel, Ariel dan Vivi benar-benar hebat, baru pertama bekerja saja terlihat oleh Frans betapa semangatnya mereka bekerja, bahkan mengalahkan semangat Frans.


Frans membagi mereka menjadi beberapa tim, dan menunjuk satu persatu kelompok mereka menjadi ketua tim, hampir saja mereka yang dipercaya pingsan di tempat.


bagaimana tidak? mereka yang nganggur beberapa tahun lamanya tidak bekerja hanya fokus main game saja, bahkan diusir dari rumah hanya tau main-main saja kini dipercaya jadi ketua tim, jika ingin menjadi ketua Tim diluar sana butuh kerja selama bertahun-tahun dulu baru bisa jadi ketua tim, sementara mereka yang di tunjuk baru saja bekerja.


"ke.. kenapa tuan? ". tanya Arif tergagap


"kenapa?". beo Frans seolah tak percaya pertanyaan Arif.


"i.. iya kenapa saya? saya kan masih baru". tanya Arif menjelaskan maksud hatinya yang tak mengerti.


"aku juga masih baru". jawab Frans dengan datar


"jika didunia game kau adalah Rajanya, bersikap santai saja, kita disini bermain game kan? jangan terlalu serius". lanjut Frans lagi


"Raja Game? ". beo karyawan lainnya


Frans melirik situasi.


"jangan bilang kau belum memberi tau mereka kau itu Master A". Frans menoleh ke arah Arif.


"Master A? ". pekik mereka semua syok sambil membekap mulut tak percaya


"eehh..? ". Arif salah tingkah seketika


"lanjutkan kerja kalian, aku sudah bagi tugas silahkan cari, luangkan ide kalian jika ingin menciptakan game baru kita diskusikan bersama lalu kita uji bersama". Frans


mereka saling pandang.


"masalah biaya tidak perlu khawatir, kedua abang kembarku sudah memberi modal besar untuk kita". lanjut Frans melenggang pergi.


sepeninggal Frans semua karyawan mendekat ke Arif dan mencecar, meneriaki Arif yang tak jujur sejak awal, pantas saja Frans mempercayainya sebagai Ketua Tim ternyata Arif punya talenta di game yang baru saja diterbitkan beberapa bulan yang lalu, padahal game itu sangat sulit di mainkan alias naik level.


.


"Tuan Frans sangat baik ya? ".


"iya, bahkan Nona Vivi lebih baik".


"haha.. aku sungguh gemas dengan Nona Vivi pertanyaannya berapa tanggungan kalian ya? tidak perlu tamat kuliah tapi langsung lolos jika punya tanggungan".


"Nona Shila juga baik, dia juga adil dan bertanya dengan elegan".


"ya ampun, aku kemarin itu dapat bagian diuji oleh Tuan Varel tapi karna aku takut dan gugup, aku minta tukar sama teman cowok dan masuk ke tim uji Nona Vivi, waah.. aku benar-benar beruntung".

__ADS_1


"kita harus bekerja keras".


"iya... bekerja keras...!"


"buktikan sama orang disana kalau kita ini hebat".


"benar, kita punya bakat tersembunyi".


"iya... "


betapa semangatnya karyawan baru Player Game milik Frans,


.


"apa ini? ". tanya Frans melihat banyaknya kertas-kertas dibalik dalam map tebal yang dibawa seseorang.


Arif menggaruk-garuk kepalanya


"Maaf Tuan, bukankah Tuan minta kami membuat ide jika ingin buat game baru? jadi ini semua... " Arif tidak melanjutkan ucapannya.


"iya tapi kenapa sebanyak ini? ". tanya Frans bingung.


"hmm.. kami semua punya keinginan buat game tuan, jadi saat anda memintanya kami langsung menjawabnya". jawab Arif


"kalian semangat sekali". gumam Frans tertawa


Arif pun pamit undur diri,


"uuufft...! hari pertama yang melelahkan". gumam Frans menarik nafas dalam-dalam


ditempat lain


SriMaya menangis haru saat ia ditelfon oleh pihak Rumah Sakit untuk menjalani operasi ibunya, gadis itu adalah Maya beberapa hari yang lalu mencoba peruntungan bekerja di Perusahaan baru Frans tapi Vivi menolaknya secara halus meminta Maya untuk merawat ibu nya saja.


bukan Vivi tidak mau tapi siapa yang merawat ibunya Maya jika tidak ada siapa-siapa disisi ibunya itu, jika yang dipermasalahkan Maya adalah biaya maka Vivi bisa meminta bantuan sang suami.


Vivi yang pernah merasakan hidup susah tak membuatnya lupa diri, ia semakin suka menolong supaya tidak ada orang yang merasakan hidup susah sepertinya dulu.


"terimakasih Nona.. terimakasih banyak". ucap Maya menangis sambil bersujud di lantai kumuhnya padahal tidak ada siapa-siapa disana.


jika Vivi suka menolong maka Shila suka membantu dengan caranya.


.


.


"sayang? ". panggil Varel memeluk Shila dari belakang.


"iya". sahut Shila membiarkan suaminya memeluknya dan menggoyang tubuhnya ke kanan dan kekiri.


Varel memang sedikit kekanakan tapi begitulah Varel jika bersama sang istri tercinta.


"hari ini hari minggu". kata Varel

__ADS_1


"iya aku tau suamiku, memang kenapa? ". tanya Shila bingung


"kamu tidak tau sayang? ". tanya Varel


Shila membalik tubuhnya hingga menghadap Varel, Varel menautkan jemari tangannya di pinggang Shila.


"bagaimana aku bisa tau suamiku? aku saja tidak tau jika suamiku tidak memberitauku". kata Shila.


Varel terlihat kecewa, "hari ini adalah 1 bulan pernikahan kita".


"hmm? udah satu bulan aja suamiku? ". tanya Shila malah kaget


"apa? kamu benar-benar tidak ingat sayang? uuff.. aku kecewa sekali". gerutu Varel


Shila terkekeh, "uluhh.. suamiku kenapa jadi lemas begini hmm? baiklah.. maafkan aku ya suamiku? aku terlalu sibuk membantu kak Vivi untuk cepat membantu orang-orang yang butuh pertolongan".


"iya sayang, tapi kamu milikku". rengek Varel yang tau kebaikan hati istrinya itu.


Shila tertawa lebar, "baiklah, sekarang katakan apa hukumanku? ".


Varel tersenyum lebar seketika seperti bocah kecil yang diberi mainan baru. tanpa aba-aba Varel menggendong Shila dan meletakkannya di ranjang.


"benar hanya ini saja? ". tanya Shila yang sudah tau pikiran sang suami.


"iya, aku harus lebih semangat lagi biar kamu cepat hamil". kata Varel dengan semangat melepas pakaian Shila


Shila tersenyum saja, ia dengan sukarela melebarkan pah* nya karna kebahagiaannya membuat suami manjanya senang saja, Varel tidak banyak tingkah begitu pengertian hanya saja dihari-hari penting Varel butuh diperhatikan seperti hari ini.


.


.


Shila terbangun mengucek-ngucek matanya mendengar seseorang muntah-muntah di kamar mandi.


"siapa? ". teriak Shila dengan suara serak.


Shila tak dapat jawaban, "siapa ya? Suamiku? ". Shila berbalik mencari Varel tapi nyatanya sang suami tidak ada disampingnya.


Shila mengerjab-ngerjabkan matanya seakan mencerna sesuatu hingga ia tersadar, Shila segera menarik selimutnya dan mengikatnya seperti handuk melilit ditubuh polosnya, ia berlari seperti cinderella mengenakan gaun sempit ke kamar mandinya.


"suami? ". Shila masuk mengedarkan pandangannya hingga matanya tertuju pada Varel yang terlihat tidak berdaya setelah muntah-muntah.


"Suamiku? ". Shila berlari ke arah Varel.


Varel menekan tombol westafel supaya lebih bersih, padahal tidak ada apa-apa tapi kenapa perutnya terasa mual bahkan Varel tidak ada makan sejak tadi .


Varel bersandar di dinding dan membuka matanya melihat Shila, Shila memegang rahangnya dengan lembut.


"suamiku kenapa? ". tanya Shila


Varel berusaha berdiri tegak lalu memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai, "sayang..? kepalaku pusing sekali, perutku juga mual". keluh Varel dengan suara lemas.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2