
.
.
ke esokan harinya
Ariel tersenyum puas melihat berita tentang Bar ternama di salah satu Kota kecil habis dilalap sijago merah, bahkan tidak ada satupun korban yang selamat.
"tentu saja tidak ada yang selamat, mereka bekerja dengan baik". gumam Ariel menyunggingkan senyumnya.
Ariel keluar ke Ruang tamu dan melihat Varel tengah diobati oleh Jessy yang mengomel-ngomel tanpa henti.
"mom..! ini hanya luka kecil". jawab Varel dengan bosan tingkah Jessy yang menganggapnya anak-anak.
"hati mommy yang paling sakit melihat tubuh putra Mommy terluka, bahkan luka di tubuh Ariel saja sudah sangat menyakiti hati mommy, Mommy tidak sanggup melihat bekas luka di tubuhnya, jika kalian memang ingin membunuh mommy secara perlahan silahkan saja buat tubuh kalian terluka". Jessy marah-marah
Ariel mendengar perkataan Jessy, lagi-lagi hatinya menghangat kata-kata Jessy menjelaskan bahwa Jessy akan menderita jika Ariel maupun Varel terluka.
Varel melihat Ariel pun berbicara, "lihatlah..! gara-garamu aku jadi kena marah mommy".
Jessy buru-buru fokus dengan tugasnya mengobati lecet-lecet di tubuh Varel.
"ckk.. kenapa kau bisa berada di tengah hutan? ". tanya Ariel mendekat dan duduk disamping Jessy
"sebelum jatuh ke jurang aku dan Maharani tersangkut di pohon dan disamping pohon itu ada gua, kami tidak punya pilihan selain masuk ke dalam gua itu". jawab Varel
"oh ". jawab Ariel
Varel mendengus saja, mereka menoleh ke arah Shila yang juga diomeli oleh Suryo saat menuruni tangga terlihat oleh Varel kekasihnya itu tengah mengerucutkan bibirnya.
"masih main-main lagi hmm? Papa bisa mati berdiri jika dapat kabar yang sama lagi, kamu mengerti maksud Papa kan sayang? ". tanya Suryo
"iya Pa..! Shila minta maaf". cicit Shila yang tak membantah omelan Suryo karna dirinya memanglah bersalah.
"Vivi mana mom? ". tanya Ramon yang baru datang
"mungkin masih tidur Pi". jawab Jessy
Jessy melihat ke arah Ariel, "siapkan susu dan sarapannya nak..! sejak kemarin dia tidak mau makan dan malamnya setelah melihat Shila kembali dia mau makan, mungkin saja tenaganya masih lemah".
"iya Mom". Ariel
Frans berlari ke arah Ariel yang mengacak rambutnya.
"abang..! ". dengus Frans
Ariel melenggang pergi, Frans berjalan ke arah Varel sambil membenarkan rambutnya.
"bagaimana bang hidup dihutan? ". tanya Frans penasaran
"diamlah..! Maharani yang lebih pandai di dalam hutan, aku terlihat paling bodoh dibanding dia". jawab Varel
Frans, Ramon dan Jessy menoleh ke arah Shila yang semakin diomeli oleh Suryo.
"kamu tidak berubah sayang..! sejak dulu suka sekali bikin Papa khawatir, tiap hari selalu main dihutan bahkan papa beberapa kali kesasar masuk hutan mencarimu". omel Suryo panjang lebar.
__ADS_1
"sudah-sudah Suryo..! jangan memarahi putrimu lagi, asalkan dia baik-baik saja itu sudah hal baik bukan? ". Jessy mendekati Shila
Shila dengan manja memeluk Jessy, Varel mendekat ke Suryo.
"maafkan Varel Pa..! ini semua salah Varel". ucap Varel
"huuh..! ". Suryo hanya bisa menghela nafas panjang.
"baiklah..! kalau begitu Papa pulang nak..! ayo sayang..! ". Suryo pamit pada keluarga Varel lalu beranjak pergi membawa Shila.
.
"apa Papa marah sama Varel Mom? ". tanya Varel
"tidak, dia masih takut semuanya mimpi, itu sebabnya membawa anaknya kemana-mana". jawab Jessy
"iyaah..! lain kali kamu hati-hati nak". Ramon
"iya..! abang hati-hati ya? bang Ariel keliatan merasa bersalah tuh kemarin". sahut Frans
Varel menyunggingkan senyumnya, "itulah arti saudara".
Frans tersenyum lebar, Ramon menghela nafas panjang.
"saudara juga harus pintar dikit napa? jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi". sungut Jessy
"hanya bedeb*h yang melakukan cara curang seperti itu Pi, Mom". kata Varel dengan angkuh seolah hal itu bukan kesalahannya.
"dasar aneh..! seharusnya kau juga harus jadi bedeb*h untuk melawan para bedeb*h". gerutu Ramon
"itulah bedeb*h sebenarnya..! haha.. syukurin mereka mati". Frans tertawa terbahak-bahak
Varel menoleh ke arah tontonan Frans yang memperlihatkan foto-foto para korban yang telah di pastikan jasad nya di Rumah Sakit setelah melewati beberapa pemeriksaan.
"itu orang yang mencoba membunuh abang". kata Varel dengan senyum miringnya memutar kepala melihat ke atas seolah disana tempat Ariel berada.
saat terjatuh Varel mengenali suara Jefri yang memberi perintah pada bawahannya untuk mencari tau dirinya masih hidup atau tidak.
"apaaa? ". Sahut Jessy dan Ramon
Frans yang sedang minum menyemburkan minumannya dan menatap tajam ke layar tv.
"dasar pengecut..! jika Frans tau dia pelakunya pasti udah Frans bunuh sejak malam itu". geram Frans
"biarlah..! abang Arielmu telah bertindak". jawab Varel berjalan ke arah dapur meninggalkan mereka semua
semua menganga lebar mendengarnya, akhirnya mereka sadar Ariel telah membalaskan dendam adiknya bahkan hanya berselang jam saja.
.
kabar Ariel selamat dari kematian pun menyebar diberita, entah bagaimana berita itu bisa bocor tapi hal itu membuat orang lain lega.
"mau kemana? ". tanya Varel melihat Ariel hendak keluar Mansion
"aku ke gudang tempat wanita jal*ng itu di kurung". jawab Ariel
__ADS_1
"aku boleh ikut? ". tanya Varel
"abang..? akuu? ". Frans entah sejak kapan sudah ada disekitar mereka
alhasil Ariel terpaksa membawa kedua manusia itu, jujur saja Ariel sudah begitu terbuka pada keluarganya.
.
Frans menahan senyum melihat Varel dan Ariel saling melirik lalu membuang muka, mereka terlihat makin aneh saat tidak bertengkar mulut, biasanya ada saja yang mereka ributkan hingga Frans pusing jika berada ditengah-tengah mereka.
"bagaimana keadaan Vivi? ". tanya Varel serius namun dengan wajah andalannya yaitu datar
"ekhemm...! sudah baikan, dia sudah mau keluar kamar". jawab Ariel datar
Frans tertawa didepan membuat Varel dan Ariel menatap tajam adiknya.
"jadi supir yang benar". titah Varel dan Ariel serentak hingga Frans cepat menutupi mulutnya.
"kalian berbicara pun terlihat aneh, diam terlihat aneh, bertengkar aneh, bahkan saat akur pun juga aneh.. haha.. kalian saudara kembar yang teraneh yang aku kenal.. hahaha". tawa Frans menggelegar
"diam..! ". ketus Ariel
"diamlah". ucap Varel datar
"iya iya". Frans menutup mulutnya rapat-rapat namun tidak bisa hanya bibirnya tetap saja berkedut.
.
"Tuan ". hormat Jack, Aham dan Rion
"hmm". jawab Varel
"hah?? ". kaget ketiga orang setia Ariel melihat Ariel yang lain bersama Frans.
"T.. Tuan? ". sapa mereka bertiga dengan kikuk melihat Varel dan Ariel bergantian
"ada apa? ". tanya Frans heran
"yang mana Tuan Muda kami? ". tanya Rion
Frans tertawa lebar melirik kesamping hingga ketiga manusia itu membelalak lalu menggaruk-garuk kepala dengan malu namun terlihat takut Ariel marah sebab mereka tidak bisa mengenali Ariel.
"ckk.. cepatlah! ". titah Varel
"berisik! ". ketus Ariel mengabaikan bawahannya itu yang lega karna tidak kena marah oleh Ariel.
"syukurlah Tuan tidak marah". gumam Jack lega
"ayo cepat! ". ajak Frans terkikik
.
.
.
__ADS_1