
.
.
.
Varel bekerja seperti biasa, ia membiarkan Shila menginap di Rumah Papanya, sementara keluarga Varel tidak terima pun hendak menyusul Shila.
"Maharani istirahat Mom!". kata Varel mengecup kening Jessy lalu masuk ke mobilnya.
Jessy menggeleng kepalanya, Ariel sudah berangkat duluan sebelum ayam berkokok. tinggallah Jessy dengan Vivi dan pengawal setia Vivi yaitu Diani.
Diani bertugas saat Ariel tidak ada saja, jika Vivi pergi bersama Ariel, Diani tidak akan ikut.
"kita kesana aja mom". senyum lebar Vivi
"kamu yakin sayang? kandunganmu bagaimana hmm? ". tanya Jessy khawatir
Vivi terkekeh, "tidak apa-apa mom, Vivi baik-baik saja".
"baiklah..! ayo kita pergi lewat jalan besar saja, pagi-pagi begini belum macet". ajak Jessy
.
Vivi, Diani dan Jessy tiba di Rumah Suryo, Suryo yang hendak pergi ke Rumah Makannya pun terkejut dengan kedatangan besannya pagi-pagi buta begini.
"lanjutkan saja pekerjaanmu Suryo, aku hanya ingin menemui menantuku". senyum lebar Jessy
"dia sedang istirahat Jessy, jika kamu mau menemuinya masuklah ke kamarnya". kata Suryo
"ok". jawab Jessy
mereka bertiga pergi bersama-sama sedangkan Suryo sudah pergi keluar Rumah menuju tempat dagangannya, walau ia tidak sesibuk dulu lagi tapi ia harus melihat kerja seluruh karyawannya sebagai bentuk perhatiannya.
Shila sedang tertidur pulas saat Jessy, Vivi dan Diani masuk ke kamarnya, Diani kembali keluar berjaga didepan pintu saja dan Vivi tidak mempermasalahkannya karna Diani orang yang sangat keras kepala, sulit untuk mengatur orang keras kepala.
"ya ampun.. kasihan sekali menantuku". keluh Jessy melihat wajah Shila yang ada hitam dibagian bawah matanya.
"pasti Tuan Varel yang membuatnya seperti ini mom". sahut Vivi terkekeh.
"ya sudah biarkan saja Shila istirahat". Jessy tidak sanggup membangunkan Shila yang tidurpun masih cantik walau ada mata panda nya.
"Shila balas dendam tidurnya bakalan panjang Mom". kekeh Vivi
"ayo kita keluar siapkan minuman dan sarapan untuknya, nanti kalau dia terbangun tinggal makan saja terus kembali tidur". ajak Jessy
"iya Mom". sahut Vivi
"ehhh..? kamu disini saja sayang". Jessy teringat Vivi yang sedang hamil.
"Mom...? Vivi bosan di kamar cuma liatin Shila tidur". rengek Vivi
Jessy terkekeh, alhasil ia membawa Vivi saat keluar kamar Shila, tentu Diani mengikuti Vivi kemana-mana hingga Vivi mengomel.
"Diani, di dalam Rumah sangat aman Ni, tidak mungkin ada musuh saat didalam Rumah". kesal Vivi
"saya hanya berjaga supaya Nona tidak tersungkur dan membahayakan kandungan Nona". jawab Diani
__ADS_1
Jessy tertawa, "biarkan saja sayang, dia hanya menjalankan tugasnya dari Ariel".
"tapi dia selalu ngikutin Vivi Mom, tadi dia tidak ikut masuk tapi saat kami berdua saja saat Vivi kebelet masuk ke kamar mandipun dia ikut, padahal Vivi udah bilang cuma ingin buang air aja". cerocos Vivi menatap kesal ke Diani
"oh ya? ". tanya Jessy tertawa
"iya.. udah bilang Vivi mau buang air besar dia tetap ngikutin Vivi, raut wajahnya tidak berubah sama sekali saat aroma tak sedap mengenai hidungnya". kesal Vivi
Jessy tertawa terbahak-bahak.
"buktinya saya bisa menangkap Nona yang tergelincir saat hendak keluar kamar Mandi Nona, saya hanya melindungi Nona saja". jawab Diani dengan sopan
Vivi mendelik, ia tidak suka dikawal tapi perintah Ariel mutlak hanya saja cara kerja Diani sangat menyebalkan, masa iya saat Vivi buang air besar pun tetap ikut ke dalam toilet.
setelah sibuk berceloteh antara Vivi dan Jessy, akhirnya Jessy telah menyiapkan sarapan yang enak untuk Shila.
"Vivi antar! ". senyum manis Vivi
"biar saya yang antar Nona". kata Diani mengambil alih hingga Vivi menganga
"mommy...? ". rengek Vivi meminta bantuan.
"biarkan dia yang melakukannya sayang, mending kamu ikut sarapan cepat! tadi kamu tidak sarapan kan? ". ajak Jessy tersenyum lembut.
Vivi tak bisa apa-apa, sejak ia hamil mengandung anak Ariel semua perlakuan keluarga Ariel begitu mengekang Vivi, ia tidak tau harus bahagia atau sedih mendapat perlakuan itu.
Vivi tidak bisa marah jika alasannya demi kebaikannya, tapi Vivi sebenarnya tidak selemah itu.
.
.
"issh.. laper..! ". rengeknya lalu menguap lebar
Shila melepaskan selimutnya, ia duduk cukup lama tiba-tiba hidungnya mencium aroma makanan, matanya melihat ke meja nakas.
"haih..? udah ada makanan? ". senyum lebar Shila
Shila segera berlari kecil ke kamar mandinya, setelah mencuci muka ia pun memakan sarapannya.
"apa mommy kesini ya? ". gumam Shila merasa tidak asing makanan yang ia kunyah.
setelah merasa kenyang, Shila duduk cukup lama sambil memainkan ponselnya lalu kembali bersiap untuk tidur.
"aku harus tidur puas sebelum Suamiku memakan jam tidurku lagi". gumam Shila tersenyum lebar.
.
Varel tersenyum lembut melihat pesan Shila, ia kembali fokus bekerja.
"Tuan? ". sapa Nando
"hmm..!". sahut Varel
"kapan..? hmm.. saya? .. ". Nando terbata-bata
"besok". jawab Varel
__ADS_1
"benarkah Tuan? ". tanya Nando begitu senang.
"hmmm, kerjakan tugasmu hari ini, besok kau silahkan libur". kata Varel
"baik Tuan Muda". jawab Nando begitu senang lalu berlari keluar Ruangannya.
Varel menggeleng kepalanya pelan, ia kembali bekerja.
Aham dan Rion kini bekerja di Perusahaan Fox Group menduduki posisi Asisten Ariel, sementara Jack sibuk mencari seseorang untuk membeli Perusahaan BRIMA milik Ariel, Ariel ingin menjualnya lalu menyumbangkannya uangnya pada anak-anak sakit yang butuh operasi.
.
"Abang..? ". sapa Frans tersenyum lebar masuk ke Ruangan Ariel.
"kau? kenapa kesini dek? kau tidak jadi berpetualang? ". tanya Ariel berdiri lalu berjalan ke sofa.
Frans pun duduk disofa, "huh..! sepertinya Frans mau buka Perusahaan Game". jawab Frans tersenyum lebar.
"Game? ". beo Ariel
"iya bang, jumlah nol pekerjaan abang membuat Frans pusing dan mengantuk, tapi alangkah baiknya Frans buka Perusahaan Game, haha.. Frans akan keluarkan game baru yang menggemparkan dunia". kata Frans dengan bangga.
Ariel menggeleng kepalanya pelan, sebenarnya ia juga senang Frans ada kemajuan ingin membuat Perusahaan nya sendiri, sementara Varel sudah sibuk dengan Perusahaan Kecantikannya yang semakin berkembang pesat.
"sekarang kita kemana? ". tanya Ariel
"abang sudah siap bekerja? ". tanya Frans berbinar
"ayo kita ke Perusahaan Varel! ". ajak Ariel sambil bangkit mengambil jasnya.
"Ayo...! ". sahut Frans dengan senang.
mereka semakin dekat dan semakin kuat hingga musuh mereka telah habis tanpa tersisa, tidak ada lagi ada orang yang berani menyerang Ariel maupun Varel.
hanya orang tidak waras yang menyerang mereka, sebab jika Ariel dan Varel telah bersatu jadi begitu kejam itu sebabnya Frans ikutan kejam padahal ia suka berpetualang.
.
"ck... kenapa kalian datang? ". tanya Varel bangkit dan berjalan ke sofa.
"ckkk.. adik kita mau buka Perusahaan baru". jawab Ariel berdecak
"Perusahaan? ". tawa tertahan Varel sebab ia tau adiknya itu suka tidur setiap dibawa masuk ke Ruangan kerjanya.
"kenapa kau tertawa? ". tanya Ariel ketus
"diam kau! ". ketus Varel
"berisik..! ". kata Ariel
"kau yang berisik..! ". jawab Varel
"kalian bertengkar selalu seperti itu, perkataannya hanya itu-itu saja". Frans menengahi
Varel dan Ariel membuang muka hingga Frans menepuk-nepuk keningnya dengan tingkah kedua abangnya itu.
.
__ADS_1
.
.