Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
tiba-tiba datang


__ADS_3

.


.


Varel terkekeh melihat ponselnya ada bukti transfer uang dengan nominal 100 JT dari Shila,


"Tuan Muda? ". panggil Nando melangkah mundur.


"dia benar-benar mentranferku uang 100 JT Nan, imut sekali, apa dia tidak tau kekayaanku tidak akan habis 7 turunan meski aku menganggur? ". Varel memperlihatkan uang masuk yang di TF Shila.


Nando bukannya tersenyum malah ngeri dengan ekspresi tak biasa Varel, jika orang lain mungkin Varel akan marah besar karna mengira telah meremehkan uang yang dimiliki Varel tapi Shila? malah berbeda.


"om jangan bekerja terlalu keras ya? 😊". pesan Shila dengan emoticon tersenyum


Varel tersenyum melihat pesan itu, ia bangkit dari tempat duduknya.


"kita pulang Nan". ajak Varel masih fokus dengan ponselnya


"waah..! ". decak Nando dalam hati mengagumi Shila yang bisa membuat seorang Tuan Muda sombongnya itu patuh meninggalkan pekerjaan nya demi permintaan Shila.


.


di Jerman


"Papa? ". Shila memeluk manja Suryo yang membalas pelukan Shila dan sesekali mencium sayang puncak kepala putri manjanya.


Vivi tersenyum manis melihat hal itu, Mang Aji juga tersenyum lebar akan kasih sayang ayah dan anak itu.


Mang Aji sangat mengerti mengapa Shila sangat pekerja keras, itu karna Suryono juga pekerja keras, Suryono tidak pernah memikirkan kesehatannya hanya tau bekerja dan bekerja demi sang permata hati yang tersisa hingga jatuh sakit,


"pantas saja Shila serendah hati itu ternyata Papanya sangatlah baik, bahkan sangat ramah, shila sangat beruntung, walau hidup mereka sebelumnya berada lalu jatuh bangkrut karna Fox Group, tapi mereka berdua tidak pernah dendam atau benci pada penguasa Fox Group". batin Vivi


kini Vivi mengerti mengapa Tuan Muda Varel Kanaka Mafileokaveka Raffan bisa jatuh cinta pada Shila bahkan begitu tergila-gila, jika Vivi seorang laki-laki pasti akan tergila-gila juga pada Shila yang memiliki kepribadian murni seperti berlian tanpa noda.


"bagaimana keadaanmu nak? apa ada yang sakit? ". tanya Suryo yang kini sudah terlihat segar tidak lagi pucat seperti beberapa minggu yang lalu.


"ini pegal pa". rengek Shila memegang bahunya.


Vivi menahan senyum melihat Suryo yang memijit bahu Shila seperti istri saja padahal Shila itu anaknya Suryo, Mang Aji tertawa lebar.


selama 1 harian Shila menghabiskan waktu bersama Papanya, Cinta Pertamanya, Pria Idamannnya, tipe Pria ideal Shila memiliki sifat seperti papanya.


.

__ADS_1


.


beberapa hari kemudian.


di tempat ramai.


Shila kehilangan jejak Papanya, Shila tidak mengenal orang disekitarnya setiap kali Shila bertanya orang-orang hanya menatapnya takjub sebab Shila sangat cantik.


"Papa dimana? mereka dimana? ". gumam Shila khawatir.


shila berlari kesana-kemari mencari Suryo, karna terlalu bahagia mencari oleh-oleh Shila lupa sedang bersama Papanya dan Mang Aji, Vivi.


buugghhh...


Shila mendongak menatap tubuh kekar pria yang ia tabrak dan ternyata adalah.


"Ehhh..? om? ". kaget Shila melihat Varel berada di negara yang sama dengannya.


Varel menarik tangan Shila dan membawanya ke tempat sempit, Shila berusaha melawan.


"om kenapa aku dibawa lari kesini? aku kehilangan Papaku, Mang Aji juga Kak Vivi". protes Shila terengah-engah


"mereka sudah kembali ke Hotel di bawa Nando". jawab Varel menatap wajah cantik Shila yang selama beberapa hari ini tidak terlihat oleh Varel hingga membuatnya hampir gila.


Shila hendak pergi namun pinggangnya di tahan oleh lengan Varel, Shila menoleh ke Varel dengan raut wajah polosnya yang tidak tau apa-apa tentang perasaan Varel yang mengguncah telah bertemu dengannya.


"ada apa om? ". tanya Shila


"aku merindukanmu". ujar Varel dengan serius.


Shila menautkan alisnya, "bukannya om dan aku tidak akur ya? apa yang om rindukan? seharusnya om senangkan tidak ada benalu di kamar om". tawa Shila dengan cerah


"kau bukan benalu bocah". balas Varel masih menatap Shila.


Shila melihat tubuhnya yang dililit oleh lengan Varel, Shila berusaha melepaskan diri tapi kekuatan Varel tidak ada apa-apanya dibanding Shila.


"om kenapa sih? ". tanya Shila dengan kesal


Varel menarik pinggang Shila hingga masuk dalam pelukan Varel, Varel seperti baru saja menemukan paru-parunya, detak jantungnya seolah baru saja menyatu dalam tubuhnya, pikiran Varel yang kacau kini telah tenang karna sedang memeluk Shila.


Shila menghela nafas panjang hingga ia pun menoleh saat hujan tiba-tiba turun.


"hujan? ". gumam Shila dengan mata mengerjab sementara Varel asik memeluk Shila karna masih belum puas menenangkan pikirannya yang kalut sebab si gadis bar-barnya itu.

__ADS_1


"om?". rengek Shila yang merasa tubuhnya terasa sesak di peluk oleh Varel begitu erat.


"kenapa kau tidak pernah mengabariku? ". tanya Varel melepaskan pelukannya dari Shila dan menatap lekat wajah Shila.


"ha? kenapa om? bukannya aku udah beritau ya? om kan sangat sibuk, kenapa aku harus mengganggu om? ". tanya Shila dengan bola mata indahnya melihat langit yang gelap juga hujan yang deras.


Varel menarik nafas dalam-dalam, "dia sama sekali tidak merindukanku". batin Varel yang mengakui perkataan semua orang dirinya memang mencintai Shila secara sepihak.


"hujan ya? bagaimana aku kembali ke hotel om? ". tanya Shila dengan serius.


Varel melihat situasi, "disini ada hotel, kau mau kita kesana untuk berteduh? ". tanya Varel


Shila menoleh ke arah tatapan Varel, "kenapa om tidak bilang dari tadi? ". gerutu Shila yang tau ramalan cuaca dilihat dari gelapnya langit seolah memberi tau akan terjadi hujan lebat dalam waktu lama.


Shila berlari tanpa melihat-lihat jalan,


"Shila..? licin.! jangan sampai jatuh". Varel ikut berlari dengan langkah lebar mengejar Shila.


benar saja belum sampai hitungan detik Shila sudah tergelincir karna sepatu nya yang menginjak lantai basah dan licin.


sebenarnya Shila berlari karna tidak mau terlalu basah tapi nyatanya tetap basah.


"aahhh". Shila memejamkan matanya dengan pasrah namun Varel datang tepat waktu dengan cepat menangkap tubuh Shila hingga masuk dalam pelukan Varel.


Shila mendengar detak jantung Varel yang berdebar tak karuan, ia malah menduselkan kepalanya mencoba mendengar suara itu.


"jantung om kenapa? ". tanya Shila


"kau membuatku khawatir masih bertanya? ". kata Varel dengan nada 1 oktaf.


"kenapa om malah marah? kan yang jatuh aku? yang patah pinggang aku jika memang terjadi kan?". Shila berdiri tegak di hadapan Varel lalu berkacak pinggang seperti sifatnya yang memang si gadis bar-bar.


"ayo kita masuk..! bajumu basah dan dalam*n mu terlihat jelas". Varel melepaskan jas nya lalu menutupi tubuh belakang Shila yang terkena hujan.


Shila melebarkan matanya dengan cepat menyilang tubuhnya, "om cab*l ". pekik Shila


"aku sudah pernah melihatnya dan aku tidak ingin ada pria lain yang melihat tubuhmu". kata Varel dengan entengnya membuat Shila menjatuhkan rahangnya seketika dengan mata membelalak lebar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2