
.
.
"tapi tiba-tiba ada musuh papimu yang ingin kami binasa". Jessy berkaca-kaca mengingat hari itu
"kami binasa siapa mom? ". tanya Ariel
"anakku dan aku lah siapa lagi? ". ketus Jessy membuat Ariel terhenyak.
"mommy pendarahan hebat dan melahirkan tiba-tiba di dalam lift sementara Papimu terus meminta bantuan pada rekan-rekannya, Mommy yakin melahirkan 2 bayi bahkan samar-samar mommy mendengar mereka berbicara memuji kesamaan anak mommy". Jessy
"lalu? ". tanya Ariel
"mommy koma beberapa hari setelah kejadian itu, mommy kehilangan banyak darah dan sulit mendapatkan golongan darah yang pas sedangkan papimu sibuk mengurus mommy dan perusahaan saat itu, 27 tahun yang lalu benar-benar menyakitkan nak, tapi saat mommy terbangun semua itu hanya mimpi, mommy hanya memiliki 1 anak".
"mommy sangat yakin melahirkan 2 bayi tapi kenapa papimu bilang mommy hanya punya 1 bayi? mommy tidak tau batin mommy mengatakan anak mommy dalam bahaya". Jessy menghapus air matanya yang mengalir seperti air.
"sampai sekarang mommy merasa kamu punya saudara lain nak, tapi dimana dia mommy tidak tau". Jessy
"papimu pasti menyembunyikan sesuatu dari mommy, dia pasti berpikir kebenaran akan merusak mental mommy tapi dia tidak tau kebenaran yang di tutup-tutupi pasti akan terbongkar juga". Jessy berbisik pelan lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
Ariel teringat kata-kata Varel yang mengatakan Mommynya tidak tau apapun, ia ingin bertanya lagi tapi melihat mak lampir mak tirinya terlihat begitu menyedihkan pun membuatnya mengurungkan niatnya.
"apa pelakunya sudah tertangkap? ". tanya Ariel tiba-tiba
"ternyata dia mantan kekasih mommy juga mantan kekasih Papimu, mereka berkomplot menjatuhkan kami, mommy yakin mereka mengambil 1 bayi mommy setelah menghilang tapi Papimu sudah menghabisi mereka karna terlalu marah membuat kita nyaris saja tiada". Jessy
"kenapa tidak mencari anak itu jika firasat mommy memang benar?". tanya Ariel ingin tau jawaban Jessy
"asal kamu tau Mommy sudah menghabiskan uang beberapa milyar menyebarkan foto Varel di dunia hitam, kata jal*ng itu anak mommy dijual didunia hitam tapi kenapa tidak ada jawaban? mereka seakan menipu mommy".
Ariel teringat kata-kata penjahat yang menyakitinya dulu sewaktu kecil.
"jangan membunuhnya, wajahnya sangat mirip dengan orang yang dicari pelanggan VVIP kita".
dan banyak kata-kata lainnya, Ariel melebarkan matanya seketika menatap Jessy.
__ADS_1
"lalu bagaimana mom? ". tanya Ariel begitu penasaran
"mommy kehilangan jejaknya saat Papimu tau apa yang mommy lakukan, Papimu mendatangi markas itu untuk mengambil anakku tapi sudah tidak ada dan mommy hanya di tipu, karna kelalaian itulah Mommy dan Papimu kehilanganmu yang diculik wanita gila".
"hah? ". Ariel kaget
"apa kamu lupa nak? kamu diculik wanita gila dan entah apa yang terjadi padamu saat itu wanita itu mati bunuh diri, setelah itu pribadimu berubah, dan sejak itu juga mommy tidak mau kehilangan putra mommy yang sedang mommy miliki".
Ariel terdiam membayangkan kekacauan itu, ia tidak menyangka kedua orangtuanya memang mencarinya tidak mengabaikannya hingga dendamnya yang berlapis-lapis itu mengikis sedikit demi sedikit.
"bagaimana jika dia menderita?". tanya Ariel
"siapa? ". tanya Jessy
"anak mommy yang lain". jawab Ariel
"sudah jelas mommy akan bersujud padanya lalu mengatakan terimakasih telah bertahan di dunia yang kejam ini". kata Jessy menundukkan kepalanya tanpa sadar Ariel berkaca-kaca ia dengan cepat berdiri membalik tubuhnya membelakangi Jessy.
"semudah itu? ". tanya Ariel dengan nafas tercekat
"tidak mudah tapi apapun akan mommy lakukan deminya, bahkan jika dia butuh jantung mommy akan mommy berikan tanpa berpikir". jawab Jessy terisak seketika memegang kepalanya.
Jessy tak sadarkan diri dengan cepat Ariel membawa Jessy ke Rumah Sakit, Ariel terduduk lemas mendengar diagnosa dokter yang mengatakan Jessy terkena serangan panik dan tidak boleh membuatnya tertekan.
"saya permisi Tuan". kata dokter dibalas anggukan oleh Ariel.
Ariel menatap Jessy yang terlihat pucat, "kenapa? kenapa aku sedih melihatmu seperti ini? seharusnya kau bahagia bukan? dengan begitu aku akan bahagia membunuhmu". bisik Ariel dengan nada lirih
Ariel kini dilema, ia tidak tau harus berbuat apa hingga telfon Jessy bergetar ada panggilan dari Ramon.
"kenapa nomor mu tidak aktif hah? dimana kalian?". bentak Ramon
.
Ariel duduk di kursi dekat brankar Jessy, ia teringat kata-kata Jessy sebelum tak sadarkan diri yang mengatakan akan sukarela memberikan jantungnya pada nya.
Ramon datang terburu-buru lalu melihat kondisi Jessy, "kenapa bisa seperti ini? kamu cerita apa pada mommymu hah? ". tanya Ramon ke Ariel
__ADS_1
"aku cerita apa? tidak ada, mommy tiba-tiba cerita anak nya ada 2". jawab Ariel
brakh.. Ramon memukul meja kecil didekat brankarnya.
"kenapa bahas itu hah? bukankah kita sudah sepakat? ibumu bisa masuk Rumah Sakit jika tau tentang saudara kembarmu itu". bentak Ramon
"apa maksud Papi? seharusnya mommy sudah baikan bukan? sudah 27 tahun berlalu kenapa belum bisa menerima kebenaran? ". tanya Ariel dengan heran
"kau fikir 27 tahun bisa menghilangkan memori pahit di benak ibumu? kejadian itu bahkan masih jelas teringat di kepala papi apalagi bagi mommymu". geram Ramon
"orangtua mana yang bisa melupakan kejadian pahit darah dagingnya entah dia masih hidup atau tidak". Ramon menatap ke arah Jessy lalu mencium telapak tangan Jessy.
"sekarang kau cari tau bagaimana caranya supaya kembaranmu itu kembali! jika dia ingin membunuh Papi silahkan saja tapi ampuni mommymu, papi yang salah telah menjalin hubungan dengan jal*ng itu". usir Ramon
"membunuh papi? ". beo Ariel
"lalu menurutmu dia akan berlapang dada masuk ke Rumah Kita ya? begitu? kau fikir semudah itu? anak itu pasti membenci kami yang tidak becus menjaganya juga tidak mencarinya, pasti hatinya sudah menghitam ingin membunuh kami, cepat cari anak itu aku tidak tahan melihat ibumu seperti ini". marah Ramon
.
Ariel kini ada di taman luas, ia menatap anak-anak yang bahagia bermain dengan orangtuanya,
"apa hidupnya juga tidak sebahagia itu? ". gumam Ariel teringat perkataan Jessy yang pernah mengatakan Varel sempat hilang diculik oleh orang karna Jessy dan Ramon terlalu serius mencari nya hingga mengabaikan Varel.
Ariel meraup wajahnya kasar, "apa aku bisa membunuh mereka?". gumamnya dengan nada bergetar
Ariel akhirnya tau bahwa Jessy dan Ramon tidak bisa mengelakkan takdir, memang nasib Ariel yang malang harus menghadapi kejadian menyakitkan itu sewaktu kecilnya.
"bagaimana ini? ". gumam Ariel merasa frustasi
Ariel melihat ke tempat yang tak jauh darinya, "oh.. iya.. Shila sedang syuting hari ini di tempat ini". gumam Ariel yang tau Shila lah yang syuting disana
"dia tidak mencintai anak itu lalu kenapa bisa berpacaran dengannya? apa ada hal yang tidak aku ketahui? dia bahkan tidak menemuiku sama sekali". gumam Ariel terheran sendiri dengan kisah cinta Varel dan Shila.
.
.
__ADS_1
.