Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
Bonus Ekstra Part. 4


__ADS_3

.


.


.


tanpa mereka sadari Frans melihat hal itu, Raisa memiliki sifat keibuan merawat Vikri seperti anaknya sendiri.


"ayo minum susunya Vikri! ". pinta Raisa


"teh susu tatak juga enak, Vikli minta ini aja, kita tukalan ya tatak? ". bujuk Vikri memeluk minuman Raisa


Raisa tertawa lebar, "tapi harus minum ini ya? sedikit saja". bujuk Raisa


alhasil Vikri dengan patuh minum susunya, barulah ia meminum susu Vikri sementara Vikri sudah menghabiskan teh susunya.


"ayo kita bersihkan tangan Vikri ya? ". Raisa bangkit dan menggendong Vikri mencium gemas pipi Vikri membawanya ke westafel.


Raisa juga mencuci bekal makan siang miliknya juga milik Vikri, "sekarang kakak lagi istirahat Vikri mau main apa? ". tanya Raisa.


"kita ke kantin tak!". ajak Vikri


"hayo..? kamu makan tanpa ajak-ajak Uncle Vikri? ". tanya Frans tiba-tiba datang lalu mendekat dan menciumi wajah Vikri hingga Raisa membeku sebab begitu dekat dengan Frans.


aroma maskulin itu benar-benar sangat wangi dihidung Raisa.


"Uncle lapar tapi kamu sudah menghabiskan bekalmu hmm? ". Frans mengangkat tinggi tubuh Vikri yang tertawa mengayun-ngayunkan kakinya.


"kamu udah makan Raisa? ". tanya Frans


"udah Tuan". jawab Raisa tersenyum


Frans tersenyum tipis, ia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Raisa hanya menonton Vikri makan, Raisa hanya makan beberapa suap saja dari makanannya juga makanan Vikri.


Frans yakin tadi Raisa hanya minum susu saja,


"tatak belum makan uncle, ayo tak..! vikli bayalin makan dikantin". ajak Vikri dengan sombongnya malah terlihat imut.


"ta.. "


Frans menarik lengan Raisa, "tidak usah segan, bocah ini memang sangat rakus aku tau makananmu pasti ditelan olehnya". kekeh Frans menekan-nekan bibir mungil Vikri yang menyeringai lebar.


Raisa pun terpaksa mengikuti Frans, sesekali ia tersenyum ke Vikri, mereka persis seperti keluarga bahagia.


.


Raisa menganga lebar melihat jumlah uang yang dikeluarkan oleh Vikri, bagaimana bisa bocah berumur 4 tahun itu punya blackcard juga uang tunai dan lucunya pandai berhitung.


"Uncle bisa bayar sendiri Vikri". kekeh Frans mengelus kepala Vikri yang tengah digendong oleh Frans.


"Vikli juga punya uang Uncle". gerutu Vikri

__ADS_1


Frans melihat ke arah Raisa lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Raisa, "kau harus mengerti, dia ini bocah tidak normal dia tidak suka dipanggil anak kecil, dan dia banyak uang. jangan pernah meremehkannya kalau dia mengajakmu makan". bisik Frans ke Raisa lalu tersenyum tipis melihat wajah syok Raisa


Frans memesan minuman seperti teh susu hingga Vikri bersemangat memesannya juga, bahkan memesankan untuk Raisa juga.


Raisa memegang wajahnya yang panas, sudah pasti dirinya sangat merona saat ini.


"uuuh... mimpi apa aku semalam bisa dekat dengan Tuan Frans? sadar Raisa.. sadarr!! ". batin Raisa


selama beberapa hari Vikri begitu menikmati kesenangannya bermain di Perusahaan Player Game bersama Frans dan Raisa hingga Vikram mulai penasaran, kini Vikram dan Vikri ada di Perusahaan Player Game.


Frans hanya bisa pasrah membawa kedua keponakannya, yah..! bagaimana lagi? Vikram dan Vikri tidak sama dengan Reza dan Nisa yang lebih senang didalam Rumah, terkadang dibawa keluar mau tapi ikut setiap hari ke Perusahaan Varel, baik Nisa maupun Reza tidak mau, kecuali antar bekal makan siang untuk Daddynya.


"kenapa kamu bisa dekat dengan keponakan bos Raisa? ". tanya Arif berbisik.


"kan kamu tau aku punya adik banyak, jadi saat bertemu yang selucu mereka aku tidak tahan". senyum gemas Raisa hingga Arif terkekeh.


Vikram dan Vikri terlihat begitu anteng di sofa tak jauh dari meja kerja Raisa,


siang harinya.


Vivi dan Vika datang ke Perusahaan Frans, mereka pun mencari Vikram dan Vikri mengantarkan makan siang sekaligus penasaran pada Raisa.


walaupun Vivi pernah bertemu Raisa tapi itu sudah lama, saat itu Vikram dan Vikri masih diperut Vivi tentu saja ia tidak ingat wajah Raisa.


"jadi kamu Raisa ya? ". tanya Vivi tersenyum ke Raisa


"iya Non.. eh.. Nyonya". jawab Raisa malu-malu


"eeh..? ". Raisa gelagapan


tak berapa lama kemudian Reza datang memegang tangan adiknya Nisa, hingga Raisa menganga tak percaya melihat Shila secara langsung.


"haii? ". senyum manis Shila


Raisa mengidolakan kedua perempuan hebat itu, baik Vivi maupun Shila adalah perempuan yang sangat di irikan posisinya oleh banyak perempuan.


"oh.. jadi ini yang buat Vikri beralih ya? dulu suka susu putih sekarang suka teh susu". Shila mendekati Raisa dan tersenyum lebar.


"maaf Kak Shila". cicit Raisa


"Mommy.. Mama.. jangan tatap tatak sepelti itu". Vikri entah sejak kapan sudah ada didekat mereka kini memeluk Raisa


Shila, Vivi dan Vika tertawa lebar, bagi Shila anak Vivi adalah anaknya jadi harus memanggil Mommy dan Daddy begitu juga anak Shila adalah anak Vivi dan harus memanggil Mama dan Papa.


"tidak sayang..! Mama tidak menatap kakak lucumu seperti itu". jawab Vivi mengelus kepala Vikri.


sementara Nisa duduk disamping Vikram tapi karna sofanya terlalu tinggi Nisa cukup kesulitan hingga Vikram pun meloncat membantu Nisa naik ke sofa bersamaan dengan Reza yang juga membantu adiknya.


perlakuan Vikram yang tak banyak bicara dengan Reza seperti itu dilihat oleh Raisa, betapa beruntungnya Nisa memiliki Saudara sejak kecil yang tau menjaganya.


"harap mengerti ya? Nisa satu-satunya anak perempuan kami jadi mereka sangat menjaga Nisa". Shila menjelaskan ke Raisa yang malu karna ketahuan memandang Nisa.

__ADS_1


mereka pun duduk berbicara, sementara Vikri bergabung dengan Nisa, Vikram dan Reza.


"tatak? tatak main apa? ". tanya Nisa


Vikram menunjukkan layar ponselnya,


"jangan main game itu dek! main game balbie aja ya? ". bujuk Reza


Nisa mengerucutkan bibir mungilnya, alhasil ketiga saudara laki-laki Nisa pun mengalah ikutan main barbie dari pada nanti Nisa ikut-ikutan main game mereka.


tak butuh waktu lama Nisa sudah tertidur pulas dipangkuan Reza, Vikri menarik pelan ponsel game Nisa dan Vikram mengambil selimut lalu menyelimuti Nisa.


mereka terlihat begitu menjaga Nisa, setelah memastikan adiknya tidur barulah mereka bertiga main game laki-laki tapi suaranya dimatikan supaya tidak mengganggu tidur Nisa.


"kenapa Raisa? kok senyum? ". tanya Vivi memutar kepalanya ke arah tatapan Raisa begitu juga Shila dan Vika.


mereka tertawa cekikikan, sedangkan Shila hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah putri kecilnya.


"lama-lama putri kecilku akan jadi manja kak, mereka bertiga begitu memanjakan putri kecilku". gerutu Shila


"biarkan saja kak, bukankah bagus". sahut Vika


"dia memang pantas dimanja, kamu lihat sendiri bagaimana sayangnya keluarga kita pada Putri kecilmu Shila". kekeh Vivi


Shila menghubungi suaminya lalu mereka kembali berbicara hingga tiba-tiba Frans datang dan meminta maaf karna tidak bisa menyambut mereka.


"tidak apa..! sini duduk! ". ajak Shila


Vivi tersenyum, lalu Frans melihat tempat duduk di tempat Vika kosong tapi Frans malah duduk disamping Raisa hingga mereka tertawa.


"kenapa disana? ". tanya Vivi menggoda


"ada kasmara kah? ". goda Shila


"bukan kakak ipar, aku tidak mau diancam dengan pisau bedah milik dr. Gibran". celutuk Frans menatap kesal Vika.


Shila, Vivi tertawa terpikal-pikal tapi menutupi mulut mereka supaya tidak membangunkan Nisa, sementara Vika hanya memajukan bibirnya diledek oleh Frans. Raisa tersenyum saja dengan keakraban keluarga hebat itu.


.


.


.


terbayar kan?? besok-besok lagi ya? kebetulan sedang libur maka nya bisa up.. hehe.. terimakasih.. selamat beraktifitas pagii!!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2