
.
.
.
"ini Raisa Kak! dia calonnya Frans". bisik Shila
Ayu melebarkan matanya lalu tersenyum manis, "hai.. hai... " sapa Ayu mengulurkan tangannya begitu juga Raisa yang tidak tau hanya menjabat tangan Ayu.
"cantik". bisik Ayu ke Shila
Shila tertawa cekikikan, lalu Shila membawa Raisa ke Ramon dan Jessy dan membisikkan hal yang sama hingga Jessy tersenyum lebar memegang dagu lancip Raisa
Raisa celingukan dengan wajah kikuk dan linglung, ia sungguh penasaran apa yang Shila katakan hingga keluarga Shila menatapnya seperti itu.
"dimana Frans nak? ". tanya Jessy ke Raisa
"hmm..? sepertinya disana Nyonya". jawab Raisa
"iya.. iya, bisa kamu panggilkan dia? ". tanya Jessy
Raisa melihat ke Shila yang tampak sibuk menata rambut Nisa yang kini digendong oleh kakeknya (Suryono).
Raisa terpaksa meninggalkan Shila dan Jessy lalu berjalan ke arah Frans, Raisa tidak berani mengganggu Frans hanya berdiri kikuk dibelakang Frans.
"siapa itu Tuan? ". tanya Jack
"hmm? cantik ya? bukannya tadi itu perempuan yang Tuan Frans bawa ya? ". tebak Rion.
Frans memutar kepalanya melihat ke arah Raisa yang begitu kikuk menatap kakinya yang mengenakan heels mewah, Raisa juga memainkan sebelah kakinya menggesek-gesek dengan kakinya yang lain, tak lupa tangannya dibelakang seperti bocah pendiam yang tidak berani berbicara pada guru nya.
Raisa terkejut melihat sepasang sepatu dihadapannya lalu ia mendongak ke atas dan terlihatlah Frans tengah menatapnya dengan heran.
"ada apa? ". tanya Frans mencondongkan tubuhnya kedepan dan Raisa juga mencondong kebelakang.
"T. Tuan? bukan saya berniat mengganggu tapi N.. Nyonya Jessy meminta saya memanggil Tuan". jawab Raisa gugup.
"tinggal jawab itu aja susah". Frans meluruskan tubuhnya.
Frans pun meninggalkan Raisa yang menghela nafas lega dan celingukan hingga matanya berbinar melihat banyaknya kue cantik berjejer tak jauh darinya bahkan memanjang keatas seperti istana.
"aku lapar". gumam Raisa berjalan ke arah tatanan kue itu.
Acara belum juga dimulai sebab rekan-rekan dokter Leon belum juga tiba, Raisa mengambil satu kue berbentuk mawar bahkan warna nya juga sama.
"cantiknya? kalau begini aku tidak tega memakannya". gumam Raisa tersenyum lebar meraba bentuk kue itu.
"nanti bisa dibawa pulang kak". Vika menyahut hingga Raisa terkejut.
__ADS_1
"ehh..? h.. hai Vika". sapa Raisa dengan kikuk.
"kakak cantik ya? cantik banget apalagi dagunya..? uuh.. manis banget.. lesung pipinya sebelah itu kok bisa tambah manis?". celoteh Vika
Raisa malah menutupi pipinya sebelah yang ditunjuk gemas oleh Vika, mereka bercerita cukup lama hingga Vika terkejut saat ada tangan yang merangkul pinggangnya.
"mas? ". sapa Vika yang sudah tau pelakunya
"kenapa meninggalkanku hmm? kan sudah aku bilang tidak usah datang kesini". kata Gibran.
"aku diundang mas..! kenapa aku tidak boleh datang? ". tanya Vika dengan kesal.
"heiii.. mereka semua tau kalau kita ini pengantin baru masih hangat-hangatnya diatas ranjang". kata Gibran tanpa disaring seolah dunia saat ini hanya ada mereka berdua saja.
Raisa yang mendengarnya begitu malu dengan cepat memakan kue nya dan membelakangi mereka
"mas ngomong apa sih? malu tau". kesal Vika
"kenapa malu? toh kita sudah menikah". jawab Gibran dengan entengnya memeluk Vika dan mengendus aroma khas Vika.
pletakk!!
"aduuuhh". Gibran tersentak kaget saat kepala belakangnya disentil seseorang.
Vika balik badan dan menahan tawanya sedangkan Gibran hendak marah pun saat balik badan malah nyengir.
"mentang-mentang pengantin baru lihat-lihat situasi? kau tidak lihat disini banyak Anak-anak kami hah?". peringatan Varel
"diamlah". ketus Varel
"kau yang diam, aku sedang mengomeli Gibran". bantah Ariel
"ckk.. berisik". ketus Varel
"jangan meribut..! sana pergi pakai helm". usir Ariel.
Vika tertawa lepas sedangkan Gibran membawa kabur istrinya, sekarang malah Varel dan Ariel yang berdebat hingga tiba-tiba telinga Ariel seperti mau lepas dari tempatnya.
" Tuan Varel? ambil anakku". titah Vivi ke Varel
Varel dengan cepat menggendong Vikri dan meledek Ariel lalu melarikan diri.
"apa mas yang ajari Vikri begitu hah? ". tanya Vivi
"aduh.. sakit beb..! ajari apa? ". ringis Ariel
"dia punya sifat blak-blakan, tiba-tiba dia menyatakan cinta pada Raisa ini sangat mirip dengan Mas yang main tancap gas aja, tidak suka basa-basi langsung nanam benih aku takut anakku mengikuti jejakmu mas". omel Vivi menarik telinga Ariel hingga tiba di sudut Ruangan.
"Beb? namanya aja anakku ya harus punya sifat sepertiku lah? kalau kita suka harus jelas kan? kenapa harus bertele-tele hmm? ". Ariel mengelus-ngelus telinganya yang terasa panas.
__ADS_1
Vivi tak habis fikir, mereka berdebat namun Ariel masih bisa sabar menghadapi istrinya itu karna ia merasa Anaknya adalah pria sejati harusnya bangga bukannya dimarahi.
.
.
Raisa melihat sekeliling dan semua keluarga Shila begitu sibuk, ia memang bawa kado tapi nanti mau pulang saja diberikan, Raisa tidak punya uang jadi membuatkan sapu tangan dengan ada ukiran yaitu selamat ulang tahun Virgo Pratama.
"lebih baik aku sibuk makan saja". senyum lebar Raisa memakan kue-kue cantiknya.
tak berapa lama acara pun dimulai, Raisa melihat dari kejauhan saja ternyata Putra Leon dan Ayu masih berumur 2 tahun (Virgo Pratama).
Leon terlihat begitu bangga dengan putra kecilnya yang sangat pintar seperti dirinya, Cici (Mama Leon) tersenyum haru.
bagaimana menderitanya Leon dulu saat mencintai Shila tapi ternyata gadis impiannya itu telah menaruh hati pada Pria lain yaitu Varel, kini Leon bahagia dengan istrinya apalagi kebahagiaan mereka semakin lengkap sejak hadirnya buah hati mereka.
Virgo menyuapi kue ulang tahunnya pada sang Papa dan Mama, Oma lalu Nisa hingga mereka semua tertawa terbahak-bahak.
Nisa tentu tidak tau apa-apa malah begitu semangat membuka mulutnya lebar-lebar, Virgo juga menyuapi saudara laki-laki Nisa.
"main sama Oma yuk sayang? ". ajak Oma Cici menggendong Cucu kesayangannya.
mereka semua membubarkan diri dan mulai makan semua makanan yang telah tersedia, Leon dan Ayu memotong-motong kue ulang tahun Virgo lalu membagikannya pada semua yang ada di Rumahnya kini.
Raisa tersenyum lebar menerima kue itu, ia tanpa ragu memasukkannya ke dalam mulutnya lalu matanya terpejam.
"lembutnya kue ulang tahun orang kaya". gumam Raisa tersenyum manis.
"enak.. hm.. enak". oceh Raisa menghabiskan semua kue nya lalu mengambil tas kecil nan panjang berisi bungkusan khusus untuk meletakkan kue-kue cantik itu supaya tidak rusak.
"Adik-adikku pasti senang makan kue-kue ini". batin Raisa yang begitu senang mengumpulkan kue-kue cantiknya.
"habiskan saja Raisa". Ayu tiba-tiba datang hingga Raisa kaget.
"maaf Kak.. hmm.. aku.. ?".
Ayu terkekeh, "lihatlah masih banyak kue nya".
Raisa tersenyum lebar, "terimakasih kak..! adikku ada 5 dan mereka pasti suka kue-kue ini".
"woww..! banyak sekali? mamamu hebat sekali bisa melahirkan 6 anak". puji Ayu.
Raisa malu-malu menjawab, "ibu aku tidak bisa pasang KB kak, ada masalah dengan hormonnya dan Ibu aku tidak mau kelebihan hormon itu hingga tubuhnya melebar nantinya".
"oh.. begitu ya? hahaha". tawa Ayu merasa gemas akan kejujuran Raisa.
Ayu seorang dokter tentu tau ada wanita yang unik seperti itu, tapi ia tidak menyangka akan dapat penjelasan yang begitu jujur dari Raisa.
.
__ADS_1
.
.