Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin

Gadis Istimewa Milik Bos CEO Dingin
takut


__ADS_3

.


.


"om? ". rengek Shila


Varel menghela nafas panjang, "tidak ada apapun, disini sangat aman". Varel merangkul bahu Shila


"iya juga..! disini sangat aman ya? tapi kenapa Shila masih takut? ". gumam Shila mengedarkan pandangannya lalu matanya terhenti di jaket Varel yang didalamnya masih ada kado misterius yang mengerikan itu.


"om..! itu buang! ". tunjuk Shila


Varel menghela nafas panjang lagi lalu melirik tangan kanannya yang masih dipeluk erat oleh Shila, Shila melihat tangannya lalu melepaskannya dengan hati-hati tapi matanya masih mengedar melihat sekeliling hingga Varel mengerutkan keningnya.


"hei..? bocah? kau mau ikut denganku? ". tanya Varel membuat Shila menoleh ke arah Varel dengan cepat ia mengangguk-ngangguk.


"gendong..! ". pinta Shila


Varel menggeleng kepalanya, "tidak mau..! lenganku lelah seharian harus tanda tangan berkas penting".


"punggung? ". tunjuk Shila


"tidak bisa..! punggungku sangat berarti". tolak Varel


Shila memicingkan matanya, "aku kaduin sama tante mau?? ". ancam Shila membuat Varel membelalak melihat ke arah Shila.


"berani? apa kau bocah selalu mengadu hah? ". tanya Varel


"bukankah om panggil aku bocah? sekalian aja aku jadi bocah wlekkk..!". ejek Shila


Varel memijit pangkal hidungnya lalu tersentak saat Shila tiba-tiba memanjat punggungnya dan bergelantung seperti monyet.


"ayo om..! buang itu juga". pinta Shila sambil melingkarkan tangan juga kakinya di tubuh Varel.


Varel hanya bisa mengumpat pelan dan hal itu membuat Shila tertawa, ia senang membuat Varel marah, bagi Shila kekalahan Varel adalah saat mengancam Varel dengan mengadukan sifat buruknya pada Jessy.


Jessy sangat percaya pada Shila, jadi apapun perkataan Shila itu seperti hukuman pancung bagi Varel, itu sebabnya jika diancam Varel tidak berkutik.


"uhukk.. uhukkk..! ". Frans terbatuk-batuk seketika melihat Varel yang dingin dan kaku menggendong seorang perempuan.


Jessy mengerjabkan matanya dan Ramon menganga lebar melihat hal itu. memang cara Varel menggendong Shila tidak romantis tapi hal itu sudah suatu keajaiban bagi seorang Varel mau mengorbankan tubuhnya demi menggendong seorang perempuan.


"Tante Om....? Shila langsung tidur aja ya? bye..? ". lambai Shila ke arah Jessy dan Ramon


"kakak ipar? tapi abang belum makan malam". tunjuk tangan Frans


"nanti aja diantar ke kamar ok..? Kami mau membahas hal penting". Shila mengedipkan matanya sebelah ke Frans.


Frans memegang dada bidangnya seolah sedang tertembak oleh pesona kecantikan Shila, Jessy menggeleng kepalanya pelan tapi tatapannya kembali ke Varel yang terlihat biasa saja menggendong Shila.

__ADS_1


"padahal Papi dulu tidak seperti itu ya mom? ". Ramon melihat ke arah Jessy


"diam pi! papi makan aja". ketus Jessy membuat Ramon tersenyum lebar mengecup bahu Jessy


Frans memutar bola matanya dengan jengah, benar yang dikatakan Varel bahwa kedua orangtua mereka adalah pasutri tua yang terlalu romantis hingga tidak ingat umur dan tempat.


.


Varel menjatuhkan Shila di sofa lalu menatap tajam ke arah Shila yang dengan cepat memeluk bantalnya yang sudah stay disana.


"kakak jangan jauh-jauh ya? ". pinta Shila memelas hal itu membuat Varel luluh


Varel mengangguk lalu mengusap kepala Shila yang memejamkan matanya sambil berusaha untuk tidur, setelah memastikan Shila tertidur, barulah Varel kembali ke lorong kamar Shila dan mengambil jaketnya yang berisi kado mengerikan dari fans Shila.


Varel pergi membawa bukti keluar Mansion, ia menghubungi Nando dan memerintahkan Nando mencari alamat pengirim misterius itu.


entah mengapa Varel benci dengan hinaan yang diberikan oleh Fans misterius Shila, jika Shila takut membuat Varel tidak senang hingga Varel ingin menghancurkan siapapun yang membuat gadis bar-barnya menjadi penakut.


.


.


"Tuan ini peringatan serius Tuan Muda..! ". Nando menatap jijik semua isi kado yang ditujukan pada Shila.


"apa ini memang ukuran dal*m*n Nona Shila Tuan? ". tanya Nando


"mana aku tau..! tugasmu cari tau pengirimnya lalu buang dia ke pulau cacing". titah Varel dengan lantang


"apa yang kau lihat? ". tanya Varel dengan dingin


"tanda ini Tuan..! apa anda tidak merinding? saya bisa merasakan orang ini sangat tergila-gila pada Nona Shila". tunjuk Nando


Varel melihat tatapan Nando, walau jijik ia tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya, matanya semakin tajam dan situasi semakin dingin hingga Nando menelan salivanya bersusah payah.


"tanda apa itu? ". tanya Varel yang tidak tau tanda yang dimaksud Nando


"ini tanda Love Tuan, Cinta! tanda Cinta". jelas Nando dengan begitu sabar


"lalu apa yang mengerikan dari tanda aneh itu? ". tanya Varel dengan mata menelisik tajam karna ia tidak suka di permainkan.


Nando menunjukkan artikel percintaan sepasang kekasih di tablet yang dipegangnya kini, bahkan ia harus lembur malam ini karna menuruti kemauan Varel yang minta dicarikan pengirim paket menjijikkan itu pada gadis bar-barnya.


.


.


"cukup sulit Tuan, dia sepertinya sangat profesional, paket ini dikirim misterius, bahkan dari CCTV hanya menunjukkan seorang anak kecil yang meletakkan kado itu di mobil Nona". jawab Nando


"cari lebih teliti! ". titah Varel membuat Nando mengangguk pasrah

__ADS_1


"cari yang benar..! ". tegas Varel


"baik Tuan". jawab Nando dengan lemas


"kenapa kau jadi lemah begini? ". tanya Varel


Nando menarik nafas dalam-dalam, hal itu membuat Varel mengerti.


"gaji lemburmu berbeda! jadi kerjakan yang benar". titah Varel


Nando berbinar seketika, ia memiliki banyak cicilan yaitu Apartemen yang akan lunas beberapa bulan lagi, tentu gaji lembur membuatnya senang bisa melunasi cicilannya lebih cepat.


gaji lembur maksud Varel itu tergantung dari kepuasan Varel melihat hasil kerja Nando, jika puas Varel tidak segan memberi gaji yang setara dengan gaji biasa Nando.


.


.


"Shilaa? ". panggil Vivi


Shila tersentak kaget, "iya kak? ". sahut Shila


"ada apa? apa kakak melakukan kesalahan? ". tanya Vivi menunjuk dirinya sendiri


Shila tersenyum lalu menggeleng kepalanya, "bukan salah kakak, kakak ingat kado didepan mobilku?".


"ah.. iya Shil.. sangat ingat kenapa? apa isinya berbahaya? ". tanya Vivi


"kakak kok bisa tau isinya berbahaya? ". tanya Shila penasaran


"kakak bekerja sudah lama dengan seorang publik figur Shil, dan kebanyakan mereka mengirim pisau, bangkai tikus, dalam*n, dan banyak hal kotor lainnya". jawab Vivi


"begitu ya? kenapa aku baru tau sih? ". gumam Shila


"apa isinya Shil? ". tanya Vivi


"huuh...! ". Shila tidak menjawab hanya menggeleng kepalanya pelan sambil tersenyum dipaksakan.


Vivi menautkan kedua alisnya, "lain kali biar kakak yang melihat isi kadonya terlebih dahulu".


Shila tersenyum tulus lalu memejamkan matanya, ia berusaha untuk tidur tapi jujur bayangan itu membuatnya tidak bisa terlelap, Shila membuka matanya lalu melihat ke kiri dan ke kanan.


untuk pertama kalinya Shila tidak bisa tenang mendapat teror seperti itu tapi ia tidak berani melaporkannya ke polisi karna takut Fans nya kecewa, sungguh Shila masih berpikiran sempit sebab umurnya masih 20 tahun.


Shila terlalu memikirkan perasaan orang lain, waktu melawan Varel ia tidak takut karna Varel bukan fans nya, terlebih saat itu Varel membuatnya marah bukan takut tapi saat ini fans Peneror nya membuatnya takut bukan marah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2