
.
.
"apa memang begini tingkah seorang asisten pada tuannya? kenapa tidak sopan sekali? ". batin Ariel
di tempat lain
Shila menatap pemandangan di luar dengan pandangan serius, tatapan Shila terlihat serius namun tersirat sesuatu disana.
"Shila..? ". panggil Vivi dengan hati-hati
"kenapa kak? ". tanya Shila menoleh ke Vivi
"apa kamu sedikit menyesal telah memutuskan Tuan Varel? kamu masih bisa berbicara dengannya kan? dia sangat mencintaimu". Vivi
"ck.. aku tidak memikirkan dia kak, aku malah memikirkan Om Raffan, apa yang dia lakukan saat ini? ". gumam Shila
Vivi menautkan kedua alisnya, kenapa bicara Shila seperti melantur seolah Pria yang diputusin oleh Shila itu bukan Varel saja padahal jelas wajahnya itu wajah Varel.
"om..? aku rindu tatapan cinta om". gumam Shila
Vivi menganga di tempat lalu dengan cepat menepikan mobilnya.
"kenapa berhenti kak? ". tanya Shila dengan kesal
"kamu mau menemui Tuan Varel kan? bukankah tadi kamu sendiri yang minta putus dengannya? saat aku minta kamu untuk balikan dengannya kamu tidak mau, terus tadi kamu bilang merindukannya, apa maumu sebenarnya Shila? ". cecar Vivi dengan kesal
"ya ampun Kak..! udah jelas pria tadi bukan Om Raffan, hubungan kami baik-baik saja". jelas Shila dengan malas sambil fokus dengan ponselnya.
Vivi terbelalak kaget, "maksud kamu bagaimana Shila? ".
"dia itu Om Ariel, saudara kembar Om Raffan". jawab Shila dengan santai tanpa sadar penjelasannya membuat Vivi semakin syok mendengarnya.
"ba.. bagaimana bisa? ". gumam Vivi
"kakak tidak tau pria tadi bukan Om Raffan? aku sekali melihatnya saja langsung tau". Shila
"bagaimana caramu membedakan mereka? mereka sangat mirip Shila". pekik Vivi membuat Shila menghela nafas
"jangan bilang-bilang pada siapapun kak! aku tidak mau ada yang tau tentang Om Ariel, Om Raffan memintaku untuk menyadarkan sifat batunya itu". peringatan Shila
"Batu? ". beo Vivi
"iya.. Om Raffan Kulkas kan? dia sangat dingin dan Om Ariel ini Batu, sebuah batu raksasa yang sangat keras tidak terima orang luar walau keluarganya sendiri". Shila
"coba jelaskan pelan-pelan Shila, aku tidak mengerti..! ". pinta Vivi
__ADS_1
Shila menceritakan secara singkat saja namun Vivi telah mengerti bahwa Pria yang diputusin oleh Shila tadi adalah Ariel bukan Varel.
"ya Tuhan..! cintamu luar biasa sekali Shila, kamu bisa membedakan mereka padahal aku saja tidak tau bedanya". decak Vivi dengan kagum
Shila menarik nafas dalam-dalam, "beda kak..! mereka sangat berbeda, om Raffan sangat penyayang bahkan rela bertukar posisi dengan Om Ariel demi keselamatan serta mental Mommynya".
Vivi mengangguk, "kamulah yang merubahnya".
"benarkah? ". tanya Shila dibalas anggukan oleh Vivi
"Tuan Varel pasti sangat mempercayaimu Shila, dia tau kamu sangat istimewa dan kamu pasti bisa menyadarkan saudara kembarnya yang kamu sebut batu". senyum tulus Vivi
"jangan bicara yang tidak-tidak kak..! aku hanya bersikap apa adanya dan tidak pernah mengajari siapapun". Shila berkata dengan santainya.
Vivi tersenyum namun benaknya memang mengagumi Shila bisa membuat seorang Varel mau mengalah, bahkan Pria itu begitu mempercayai kekasihnya, mau hidup bersembunyi demi memikirkan perasaan orang lain.
"tapi tunggu... apa mereka akan perang antara saudara? ". gumam Vivi melirik Shila yang tampak serius mengirim pesan pada Varel.
"kenapa nggak dibalas ya? ". gumam Shila penasaran
Shila terus mencoba menghubungi Varel tapi tidak diangkat hingga Shila memilih diam dengan melihat ke arah jendela.
"semoga om baik-baik aja ya? aku sayang sama om". batin Shila tampak berusaha terlihat baik-baik saja.
Shila hanya menghargai keputusan Varel, Shila tau bagaimana beratnya Varel mengambil keputusan ini untuk itu Shila harus ada disisi Varel dan membantu kekasihnya mengatasi masalah saudara kembarnya itu.
.
.
"Sayang..? ". Ariel mengejar Shila membawa satu ikat bunga mawar
Shila mengabaikan Ariel seperti tidak terlihat sama sekali, Ariel mengikuti Shila ke Mal bersama Vivi tanpa diduga oleh Shila pria gila itu mengikutinya ke Mal bahkan tanpa malu memberikan bunga mawar untuk Shila, tapi tidak mau meminta maaf hanya nyengir dan membujuk saja.
"minggir Om..! " bentak Shila menepis tangan Ariel yang sedang berusaha membuatnya berhenti.
Ariel dibuat frustasi karna tidak tau mau bicara apa, ia tidak terlihat sedih dan menangis saat tau putus dari Shila berbeda jika Varel yang sesungguhnya pasti penampilannya akan sangat kacau meminta maaf pada Shila supaya mau berbalikan lagi dengannya.
"jadi benar dia bukan Tuan Varel ya? ". gumam Vivi membuat Nando disampingnya menoleh
"apa maksudmu? ". tanya Nando dengan serius
"kau juga tidak tau Tuan? ". tanya Vivi berbisik
"hmm? ". Nando terlihat tidak tau apa-apa
"itu bukan Tuan Muda Varel tapi Tuan Ariel". bisik Vivi membuat Nando menghentikan langkah kakinya menatap Vivi.
__ADS_1
Vivi yang terus berjalan menghentikan langkahnya dan kembali ke Nando, "kenapa?".
"jadi dia bukan Tuanku? ". gumam Nando yang merasa tertipu
"betapa bodohnya aku tidak menyadarinya". gumam Nando teringat hari-harinya bersama Varel memang berbeda.
"wajar saja kau tidak menyadarinya, jika bukan Shila yang memberi tauku mana mungkin aku tau". bisik Vivi
"aku akan menghabisinya, berani sekali dia menggantikan posisi Tuanku, aku tidak akan memaafkannya". Nando mengepalkan tangannya dan hendak melangkah tapi dicegah oleh Vivi
"Tuan Varel yang memilih mengalah demi semuanya". jelas Vivi
"apa maksudmu? ". tanya Nando dengan mata memerah terlihat memendam amarah.
.
Nando berteriak marah di dalam toilet, para pengunjung mal yang ada di toilet berlarian keluar dengan panik karna berpikir ada orang gila di dalam Toilet
"Tuan.. maafkan aku yang tidak mengenalimu". Nando berkata lirih terlihat begitu menyesal padahal dirinya tidak bersalah hanya karna tidak mengenali Varel.
"ada apa sebenarnya? kenapa Tuan Muda mengalah demi pria itu? pantas saja Tuan Varel begitu berbeda akhir-akhir ini". Nando berkata-kata sendiri
Nando sibuk dengan penyesalannya
sedangkan Ariel masih berusaha membujuk Shila, "minggir Om..! ". bentak Shila
"aku tidak akan minggir sebelum kamu menerima bunga ini sayang". Ariel tersenyum begitu tampannya.
Jika di lihat secara penampilan Ariel dan Varel benar-benar sangat mirip tidak ada bedanya tapi cinta Shila dan Varel telah bersatu mudah bagi Shila mengenali kekasihnya.
Shila menerima bunga itu membuat Ariel senangnya minta ampun lalu Shila memberikan bunga itu ke wanita yang lain hingga mereka memekik kegirangan menerima bunga itu.
"sayang..? kamu?". Ariel menjatuhkan rahangnya.
"mulai sekarang dia adalah kekasihmu, ayo kejar dia! ". senyum manis Shila pada wanita itu
Ariel membelalak saat wanita-wanita menor mengejarnya, ia tidak mungkin menghajar mereka kan sementara wanita itu sangat banyak.
"mending aku lari". gumam Ariel berlari dan wanita yang lainnya ikut-ikutan mengejar Ariel.
kekacauan pun terjadi, Shila tersenyum miring lalu melanjutkan kesenangannya seolah tidak terjadi apa-apa.
"rasakan itu..! ". senyum Shila begitu puas
.
.
__ADS_1
.