
.
.
Shila pun berkenalan dengan manager barunya bernama Viviana, 24 Tahun.
"kalau begitu aku pergi ya Shil..? aku harus fokus membuat gaun mu saat acara Award beberapa hari lagi". Agus melenggang pergi meninggalkan Shila bersama Vivi.
Vivi menunduk sopan saat Agus pergi.
"jangan terlalu formal padaku ya?". pinta Shila
"baik Nona ". jawab Vivi
Shila mengerutkan keningnya, "jangan panggil Nona ya? panggil Shila atau Shil juga tidak apa". pinta Shila
"ba.. baik Shila". jawab Vivi patuh walau sempat tergagap.
"iya kak Vivi, sekarang katakan apa jadwalku hari ini hmm? ". tanya Shila tersenyum manis
Vivi gelagapan mencari jadwal kerja Shila karna terlalu gugup sebab hari ini adalah hari pertama ia kerja bersama Shila, tidak tau watak asli Shila yang sebenarnya.
Vivi sering bekerja bersama perempuan cantik dan telah menghadapi berbagai watak yang menakutkan berbeda dengan dunia nyatanya, itu sebabnya ia was-was bekerja bersama Shila yang terkenal bar-bar berani melabrak seorang penguasa Fox Group.
.
.
"huh..! terimakasih kak..! aku udah tidak ada jadwal kerja lagi kan? ". tanya Shila ke Vivi saat didalam mobil.
"tidak ada Shil". jawab Vivi masih terkesan sopan
"biasa saja kak..! aku tidak suka cara bicara kakak seperti masih ada pembatas diantara kita". kata Shila
"maksud Shila? ". tanya Vivi
"tidak apa..! lain kali pasti akan terbiasa". gumam Shila yang tidak lagi mempermasalahkan tata bicara Vivi yang memanggilnya dengan sebutan nama tapi ada kesan formal dalam nada bicaranya.
Shila yang masih memejamkan matanya di dalam mobil pun tiba-tiba tersentak mendengar ketukan dari jendela mobilnya.
"siapa? ". tanya Shila membuka kaca mobilnya.
Shila melihat kiri-kanan dan depan belakang terlalu banyak orang hingga ia tidak bisa menebak pelakunya.
"biar aku lihat Shil". kata Vivi dibalas anggukan oleh Shila.
Vivi keluar dari mobil dan berlari mencari sesuatu hingga ia melihat sebuah tas kado yang terlihat cantik.
__ADS_1
"Shila..? ". Vivi mengetuk jendela Shila.
"siapa yang memberinya kak? ". tanya Shila celingukan
"apa perlu aku lihat isinya Shil? ". tanya Vivi saat duduk dibangku kemudi.
"nanti aja kak..! ini hadiah dari fansku jadi harus aku lihat sendiri". jawab Shila sambil tersenyum
Vivi pun mengangguk, ia baru saja beberapa jam bekerja dengan Shila tapi kenyataannya Shila tidak seburuk yang dipikirkan orang lain tentang Shila.
Shila tidak punya Akun Sosmed, anggap saja dia tidak suka sosial media, walaupun Shila punya ponsel bagus tapi hanya butuh untuk telfonan dengan Papanya saja.
"kak Agus ada mengatakan tentang jadwal kuliah aku kak? ". tanya Shila tiba-tiba
"ada Shil.. apa kamu mulai kuliah minggu depan? ". tanya Vivi
"ya..! aku harus kuliah tapi lewat online saja". jawab Shila dengan santai
"kenapa Shil? ". tanya Vivi
"kok tanya kenapa sih kak? emang kenapa kalau aku kuliah lewat online? ". tanya Shila balik dengan heran
"maaf Shila.. setau aku seorang publik figur itu harus selalu memamerkan apapun ke publik supaya dilihat orang banyak, dan kamu juga bisa memamerkan kecantikanmu juga ke publik supaya banyak Perusahaan lain yang mengontrakmu menjadi bintang iklan mereka". jelas Vivi
Shila terkekeh, "buat apa? bukankah aku sudah banyak jadwal iklan? aku tidak mau memiliki banyak pekerjaan hingga tidak ada waktu bagiku untuk istirahat".
Vivi terperangah, biasanya juara ajang kecantikan akan terus menyebarkan sayapnya selebar-lebarnya hingga tidak sempat memberi bagian ke pemenang lainnya, tapi tahun ini berbeda, juara 1 sampai 10 Finalis PI season 7 tetap terkenal karna Shila tidak serakah dengan mengambil semuanya.
.
.
Shila melihatnya dan mengangguk pelan, "ini yang di inginkan oleh Kak Navira, berikan pada Kak NaVira ya?? ".
"hah? tapi ini ditawarkan untukmu kan? lagian jadwalnya tidak bertabrakan dengan jadwalmu Shila, kenapa diberikan pada yang lain? ". tanya Vivi
"berbagi itu indah kak..! lagian aku mau istirahat hari itu, aku mau tidur cantik di Rumah Tante Jessy". jawab Shila dengan enteng.
.
di dalam kamar Shila.
"aah.. hadiahku? ". Shila mengambil tas kado yang diberikan oleh orang misterius
"hei.. bocah? ". Varel tiba-tiba nyelonong masuk dan bersandar di pintu Kamar Shila.
"ada apa sih om? kebiasaan tidak mengetuk pintu, lain kali ketuk pintunya om". gerutu Shila
__ADS_1
"aku lihat wajahmu biasa saja, lagian kau tidak punya penyakit jantung jadi tidak usah bawel". ketus Varel
"ada apa om? ". tanya Shila dengan jengah
"mommy menyuruhmu turun untuk makan, bisakah kau dewasa sedikit? saat tau jam makan malam jangan membuat orang repot memanggilmu". kata Varel dengan tutur kata kejamnya seperti biasa
Shila mendengus tak memasukkan hati kata-kata kejam Varel karna ia sudah tau watak Om tampan nya yang jahat itu.
"dasar si mulut jahat". umpat Shila
"kau bilang apa? ". tanya Varel dengan nada membentak.
Shila mencibir sambil membuka isi kadonya, ia menjerit seketika hingga Varel kaget dan berlari ke arah Shila.
"kenapa? ". tanya Varel merampas tas kado Shila dan menyerakkannya ke lantai.
Varel melebarkan matanya melihat pakaian d*l*m wanita lengkap berdarah dengan cincin pernikahan sederhana
"sial..!". umpat Varel menggendong Shila dan mendudukkan Shila di Ranjang
shila menutup kedua matanya karna ia sangat tau bau darah itu adalah darah ayam tapi yang membuat Shila gemetar adalah pakaian dal*m itu, bersama cincin pernikahan dan ada tertera tulisan:
Menikahlah denganku dan kita habiskan malam pertama berdua dengan sangat bahagia.
"kau tenang bocah.. tenang..! biar aku yang atasi". Varel membuka jaketnya dan membungkus semua kado mengerikan itu lalu menekan kepala Shila.
"om.. Shila takut! kenapa fans Shila mengirim hal seperti itu? Shila salah apa? ". tanya Shila dengan lirih meremas lengan kekar Varel.
Varel duduk di tepi ranjang Shila, "aku sudah bilang kan? fans pun ada yang baik dan ada yang mengerikan dengan menerormu, sama seperti malam itu aku juga mengira dia fans fanatikmu karna caranya tidaklah wajar".
"benarkah? kalau dia memang Fans Shila seharusnya tidak akan seperti itu kan? ". tanya Shila dengan gemetar
wajar saja Shila takut karna saat ini tidak ada siapapun yang bisa menjadi tempat sandaran Shila, Papanya sedang di Jerman dalam proses pengobatan dan saat ini Shila hanya bisa mengadu pada Varel.
"dia bukan fans melainkan orang gila yang mengatas namakan Fans untuk mendekatimu". kata Varel dengan dingin
Varel bangkit dan Shila dengan cepat memeluk lengan Varel.
"om mau kemana? ". tanya Shila
"kau takut? kenapa? bukankah kau bisa melabraknya? menamparnya? memberinya pelajaran seperti yang kau lakukan padaku". sindir Varel
"om kan saat itu bukan fans ku, kali ini masalahnya adalah fansku om, kalau aku salah bicara bisa menghancurkan perasaannya". jelas Shila dengan mata melebar mengingatkan.
"ck..! kau takut melawan fansmu tapi tidak takut melawan bosmu". decak Varel
.
__ADS_1
.
.