
.
.
.
Frans meloncat hingga mendarat dengan sempurna di tengah hutan, Frans membenarkan lampu di dahinya.
"Abanggg? ". teriak Frans
Ariel mendarat disamping Frans dan memukul punggung adiknya itu kuat.
"kau cari mati hah? ". marah Ariel
"maaf bang..! bang Varel itu anak sendok emas, dari kecil tidak pernah hidup di hutan". jelas Frans
"ckk..! aku juga tau tapi kau harus pikirkan keselamatanmu..! pegang ini! ". Ariel memberikan pistol
"iya bang". Ariel memegang pistol pemberian Ariel, ia tau di hutan bisa saja ada hewan buas.
Varel yang mendengarnya buru-buru turun dari pohon tapi karna saking buru-burunya ia tersungkur hal itu membuat tawa Shila menggelegar, seorang Tuan Muda Fox Group juga punya kelemahan yaitu tidak bisa turun dari atas pohon padahal bisa memanjat sungguh menggemaskan.
Varel berdecak pelan karna bajunya semakin kotor dan tak terbentuk lagi, awalnya warna maron sekarang entah warna coklat atau hitam blasteran pun Varel tidak tau warna bajunya kini.
"suara mu sayang?". Varel mendongak menatap datar pujaan hatinya itu
"tangkap aku om! ". pinta Shila
Varel membelalak melihat Shila ancang-ancang mau turun, ia merentangkan kedua tangannya dengan kaki ditegapkan supaya tidak roboh karna ia harus menggendong sang kekasih hati.
bruuughhh..
"bagus.. bagus...! hehe.. muah... ". Shila menepuk-nepuk pipi Varel lalu mengecupnya senang.
"kenapa kamu tidak ada takutnya sama sekali sayang? ". tanya Varel tersadar sambil menurunkan Shila dengan hati-hati
"aku adalah ratu hutan! ". ucap Shila bangga
Varel hanya menganga lebar lalu berubah datar hal itu membuat Shila cekikikan, rembulan malam adalah cahaya yang paling alami dan Shila bisa melihatnya walau cahaya bulan itu samar-samar tertutup pepohonan tinggi disekitarnya.
"ayo Om..! kita datangi asal suara itu". ajak Shila menggenggam tangan Varel
mereka saling berpegangan tangan dan mengikuti insting asal suara Frans tadi, lama kelamaan suara Ariel juga terdengar hingga Varel semakin mempercepat langkahnya bersama Shila.
"apa bab* hutan akan datang sayang? ". tanya Varel
"biasanya bab* hutan datang di tengah malam, ini mungkin masih jam 10". jawab Shila.
"syukurlah..! semoga kita cepat keluar dari hutan ini sebelum tengah malam". Varel
Shila hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"abangg? ". teriak Frans
"Relll? ". teriak Ariel juga
"kami disinii...? ". sahut Varel membuat Ariel dan Frans memutar kepala dan berlari ke arah asal suara Varel.
terlihatlah oleh mereka betapa kumuhnya Varel dan Shila.
"kalian..? menyusahkan saja". gerutu Ariel
"masih sempat-sempatnya kalian berpegangan tangan, kami bahkan bersikeras mencari kalian! kalau tau begini lebih baik aku tidur saja di rumah". gerutu Frans namun ada kelegaan dihatinya melihat Varel dan Shila baik-baik saja.
"berisik..! cepat bawa kami pulang! ". kata Varel
"kakak ipar.. Mommy sedih sekali sejak tadi bahkan kak Vivi saja terus saja melamun tidak mau makan". lapor Frans
"benarkah? cepatlah pulang..! papa ku pasti khawatir". ajak Shila
"memang khawatir..! mereka juga ikut mencarimu di hutan sebelah". kata Ariel
"hah? cepat-cepat kita kembali ". desak Shila
tak berapa lama kemudian Helikopter turun di tempat yang lumayan luas, pohonnya tidak terlalu rapat.
"Rel ? Shila?? kalian tidak apa-apa kan? ". teriak Nando dengan bahasa teman
"iya". jawab Varel dan Shila
Shila memakainya tanpa protes karna pakaiannya warna cream memang sangat kotor.
Varel hanya menatap tajam jas itu, Shila tidak tau kekasihnya sedang cemburu.
"cepat naik bodoh..! ". ketus Ariel
"kau yang bodoh.." balas Varel tak terima
"kau berisik sekali". kesal Ariel
"kau yang berisik". balas Varel
"sudah.. sudah... aku mau pulang! kalau kalian mau bertengkar silahkan saja". Shila menengahi sambil berjalan melewati mereka yang saling pandang dingin satu sama lain lalu membuang muka.
Frans menggeleng-geleng kepala saja, "cepatlah masuk..! takutnya ada hewan buas ".
.
.
semua keluarga Varel dan Shila telah menunggu di Rumah, betapa bahagia dan terharunya mereka Shila serta Varel baik-baik saja.
walau keadaan mereka kotor tapi melihat mereka masih bisa mengomel dan marah-marah itu adalah kebahagiaan mereka, Vivi bahkan menangis memeluk Shila hingga yang lainnya hanya bisa saling pandang.
__ADS_1
Vivi sangat sensitif, jika sedih maka jangan salahkan umurnya kalau menangis seperti bayi karna sekarang ia tengah mengandung calon bayi.
"udah kak.. udah ya? Shila baik-baik aja kok". senyum manis Shila mengelus-ngelus kepala Vivi
"sepertinya anak-anak abang akan sangat menyayangi Kakak ipar Shila". bisik Frans ke Ariel.
Ariel hanya diam melirik Varel yang sibuk minum air putih karna sangat kehausan.
"kau tenang saja Rel..! aku akan atasi pelakunya". ujar Ariel serius
"hmm.. jangan main-main dengan mereka tapi bantai habis langsung, bagaimana jika kau yang mengalami ini? kasihan Vivi dan bayinya". ucap Varel dengan datar namun serius
"hmm..! aku tau, terimakasih telah memikirkan perasaan istri dan anakku". balas Ariel
Varel tertegun sejenak melihat ke arah Ariel, Ariel langsung pergi tanpa menoleh lagi hingga Frans dan Jessy yang mendengarnya tersenyum haru.
"Frans heran bagaimana kakak ipar dan Abang Varel masuk ke tengah-tengah hutan mom? ". gumam Frans berbisik
"iya.. tapi belum tepat bertanya disaat seperti ini". sahut Jessy.
"iya juga mom, Frans mandi ya mom! ". bisik Frans dibalas anggukan oleh Jessy
semua orang masih saling melepas rindu, bahkan Suryo menginap di Mansion itu sedangkan Aji dan Ujang sudah pulang setelah memastikan Nona nya baik-baik saja.
Jessy, Vivi dan Shila tidur bersama.
"Shila elus-elus perutku! ". pinta Vivi
Shila terkekeh sedangkan Jessy tersenyum lembut mengelus kepala Vivi yang kini sudah merasa hidup, sebelumnya Vivi yang terlihat paling terpukul saat tau Shila belum ditemukan.
Shila mengelus perut Vivi, Vivi memejamkan matanya yang tiba-tiba saja merasa mengantuk, terkadang perutnya harus dielus oleh Ariel tapi entah mengapa hari ini harus Shila yang melakukannya.
di kamar Ariel.
"bantai habis Pria Tua itu, bakar bar nya sampai menjadi abu". titah Ariel
"baik Tuan". sahut Jack, Aham dan Rion dari sebrang.
sekitar jam 3 malam, Jack dan kawan-kawannya beraksi melancarkan perintah Ariel yang mengubah rencananya yaitu menghabisi pelaku sampai menjadi abu.
"membusuklah kau di neraka". gumam Ariel tersenyum sinis.
Ariel memejamkan matanya di sofa lalu teringat keadaan Varel yang sangat kotor namun tidak ada luka di tubuhnya, jujur saja alasan Varel benar-benar menembus relung hatinya, Ariel tidak menyangka saudara kembarnya itu begitu berbeda bisa menjadi saudara yang saling melindungi jika menyangkut nyawa, padahal mereka sering bertengkar dari pada akurnya.
bila Ariel yang ada disituasi itu entah apa yang terjadi dengan Vivi, Ariel dapat pelajaran dari Varel bahwa dirinya kini punya seseorang untuk dijaga dan tidak bisa bermain-main lagi dengan mangsa.
jika sekiranya akan membahayakan harus di basmi sampai akar-akarnya supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
.
.
__ADS_1
.