
.
.
Varel tidak mau gegabah dengan mengambil kesimpulan bahwa pelaku yang meneror Shila ada di tempat yang sama dengan nya kini.
"apa tidak ada tanda-tanda? dasarnya pengecut pasti akan terus menjadi pengecut". batin Varel tidak bisa menebak pelaku nya.
alhasil Varel keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah Shila yang tengah fokus berbicara dengan fansnya, Vivi kaget melihat kedatangan Varel.
"T.. Tuan? ". cicit Vivi dibalas anggukan oleh Varel
Vivi dengan cepat mengambilkan tempat duduk untuk Varel, Shila menautkan kedua alisnya melihat banyaknya orang tengah memotretnya, memang tadi sudah banyak yang memotretnya tapi kali ini tidak wajar malah ingin cepat seolah takut ada yang menghilang tiba-tiba.
Shila awalnya tidak tertarik namun lama-kelamaan membuatnya penasaran, siapa yang membuat keributan di belakangnya hingga kepopulerannya melebihi Shila.
"Ehh?? om? ". Shila membekap mulutnya melihat Varel yang tengah memperhatikan fans-fans Shila bahkan menandai kertas kadonya.
Ingatan Varel benar-benar seperti monster, ia bisa mengingat apapun dengan sangat detail dan pasti yang pasti sangat teliti
Shila menautkan kedua alisnya menatap Varel yang terlihat fokus melihat kado-kado pemberian fans nya. Shila menoleh ke Vivi meminta penjelasan nyatanya managernya itu juga terlihat tidak tau apa-apa.
"Kak? ". panggil Fans Shila
"eeh..? iya". Shila kembali fokus ke fans-fans nya.
.
.
.
"berikan kado-kado itu padaku..! aku akan memeriksanya untukmu". kata Varel dengan serius
Shila mengerutkan keningnya, "maksud om? kado-kado ini untukku enak aja om yang buka".
"bukan untukku tapi aku hanya memeriksa isinya, karna kau sudah memberiku izin atas ide pewangi, sabun juga sampo buatanmu, aku akan membantumu mengatasi fans fanatik mu itu". jelas Varel
Shila terdiam, "benarkah om? tapi bukankah itu tidak imbang, Vivi sudah lapor polisi katanya tidak ditemukan, pelakunya anak kecil dan anak itu bahkan tidak tau siapa yang menyuruhnya".
"aku bisa mengerjakan pekerjaan yang tidak ditemui oleh polisi". kata Varel melempar kunci mobilnya ke Shila yang gelagapan menangkapnya.
"aku akan pergi membawa mobil box ini". Varel melangkahkan kakinya berjalan ke arah tempat duduk tumpangan mobil box berisi kado-kado Shila.
Vivi menganga dan Shila malah terdiam melihat kunci mobil Varel.
.
__ADS_1
dalam hitungan jam Varel membongkar kado-kado pemberian fans Shila, akhirnya ia menemukan isi yang sama seperti kado misterius sebelumnya, Varel mengambil kertas kado nya lalu mengingat siapa yang memberikan kertas kado seperti itu pada Shila.
dari motif kertas kado bisa saja ada yang sama, tapi ukuran kado serta bentuk kado yang diberikan fans berbeda-beda, kalaupun ada yang sama Varel bisa membedakannya.
"****...! " Varel berdiri dengan cepat ia berlari keluar dari mobil box Shila.
"Om? ". Shila baru saja tiba di mansion Keluarga Varel.
"hmm..! aku bawa mobilku..!". Varel mengambil kunci mobilnya yang dibawakan Shila lalu mengusap kepala Shila.
Shila melihat kepergian Varel dengan tatapan bingung, mata Shila berbinar melihat mobil box yang membawa kado-kadonya namun langkahnya terhenti saat bayangan kado misterius itu ada diantara banyaknya kado itu membuatnya mengurungkan niatnya hendak membuka kado-kado itu.
.
Nando bersama Varel mendatangi sebuah rumah sederhana dikawasan menengah,
"kau yakin rumah nya disini? ". tanya Varel dengan serius
"benar Tuan..! sketsa wajah yang anda gambar benar-benar sempurna dan saya menemukan tempat tinggalnya". jawab Nando
Varel berjalan duluan dan Nando menyusul, pintu di ketuk tak ada sahutan, Nando tidak menyerah ia terus mengetuk pintu hingga seorang Pria keluar dari tempat itu.
"ada apa pak? ". tanya Pria itu dengan senyuman ke Nando.
Varel menyeringai, "kau lepas saja topengmu itu..! aku tau kaulah pelakunya".
"kau yang meneror ini pada gadisku kan? ". kata Varel melempar isi kado menjijikkan Benny pada Shila.
Nando melotot kaget ke arah Varel, "apa Tuan Muda sadar mengatakan Nona Shila adalah gadisnya? ". batin Nando penasaran.
Benny melihat semua kado-kado yang ia berikan pada Shila, ia melihat dari kaki sampai kepala Varel.
"gadis anda tuan? ". tanya Benny sekali lagi sambil menjaga jarak.
"ya... dia milikku! ". jawab Varel tersenyum tipis terkesan meremehkan namun langkah kakinya semakin mendekat ke Benny.
Benny menyerang Varel dengan pisau yang ada dibalik pintu Rumahnya, Varel dengan cepat mengelak dan Nando pun yang terkejut ikut menyerang.
"berhenti mengganggu dewiku..! dia dewiku dan akan menikah denganku". kata Benny tertawa senang.
"apa yang kau punya hingga dia harus memilihmu". ejek Varel
"diam..! anda mungkin kaya raya tuan tapi dewiku tidak mencintaimu, aku sangat tau cara dia menatapmu itu hanya sebatas teman". balas Benny dengan senyum mengejeknya pula
Varel tertawa, "kalaupun dia hanya menganggapku teman aku bisa memilikinya dengan kekuasaan yang ku punya, tapi kau? kau punya apa? ".
"hiyaaa...! ". Benny yang marah menyerang Varel dengan membabi buta.
__ADS_1
Nando memukul tengkuk Benny hingga jatuh pingsan,
"tidak berguna sama sekali". umpat Varel
"apa yang harus saya lakukan Tuan Muda? ". tanya Nando
"buang dia ke pulau cacing bersama Pria Tua bangka itu". jawab Varel dengan enteng
"kenapa tidak dilaporkan ke kantor polisi tuan muda?". tanya Nando penasaran
"kau fikir meneror artis itu dapat hukuman penjara berapa lama? bagiku penjara terlalu nyaman baginya, aku tidak akan menoleransi siapapun mengganggu gadis bar-bar itu". Varel
Nando terdiam dan segera ia mengangguk, bagi Nando dibuang ke pulau cacing adalah hal yang lebih mengerikan daripada kematian, tempat itu memang khusus untuk orang yang pantas mati bagi Varel, sungguh Varel tidak pernah membuang orang ke pulau itu tapi semenjak Shila datang, sudah 2 manusia jadi korban buangan Varel ke pulau cacing.
bisa dikatakan hidup segan matipun tak mau, begitulah hukuman Varel bagi orang-orang yang dibuang ke pulau cacing itu, tidak ada yang bisa lari dari sana dengan berenang karna tempat itu dikelilingi hiu yang siap menerkam siapa saja.
.
.
"om? om dari mana aja sih? ". tanya Shila berlari menyambut Varel di kamar Varel layaknya seorang istri padahal bukan.
"kenapa kau disini? ". tanya Varel penasaran
"om Ramon sudah pulang jadi Shila tidur sama om, hehe". cengir Shila
"minggirlah! aku mau mandi kau mau ikut aku mandi? ". tanya Varel tersenyum miring
Shila menggeleng kepalanya lalu memberi jalan untuk Varel melanjutkan langkah kakinya menuju kamar mandi.
Varel tersenyum tipis lalu mengusap kepala Shila yang diam saja mendongak menatap Varel.
"apa kau bisa membuat nasi goreng pedasmu? ". tanya Varel
Shila mengangguk pelan
"buatkan aku mau? aku akan bayar berapapun yang kau minta". pinta Varel
"kenapa harus bayar om? aku akan buatkan untuk om sekarang juga?". Shila berjalan keluar kamar Varel
Varel tersenyum menggeleng kepalanya lalu melanjutkan aktifitasnya yang memang ingin membersihkan diri.
.
.
.
__ADS_1