
.
.
malam-malam
Shila keluar dari Pesta dan melihat sekeliling dimana situasi sedang hujan deras bercampur petir yang menyambar-nyambar.
"aaakhhh...! ". pekik kaget Shila saat petir menyambar ke pepohonan.
Varel menarik tangan Shila dan menutupi tubuh Shila dari gemuruh yang mengerikan itu,
"kau tidak apa-apa Maharani? ". tanya Varel
"tidak apa om..! aku cuma kaget aja, kenapa cuaca jadi seperti ini? sepertinya ramalan cuaca tidak ada bilang bakal hujan petir seperti sekarang". kata Shila sedikit berteriak.
Varel melihat tenggorokan Shila, "jangan berbicara terlalu keras!". bisik Varel di telinga Shila dengan jarak sangat dekat.
Shila mengangguk-ngangguk memeluk Varel sambil menyeludupkan wajahnya dibelahan dada bidang Varel, "terus bagaimana caraku bisa pulang om? ". Shila mendongak menatap Varel
"kita bisa pulang, dimana managermu? ". Varel mendekatkan bibirnya di telinga Shila
"tadi memang dia bilang akan menungguku tapi aku bilang pulang duluan, sekarang Kak Vivi tentu sedang di rumahnya". jawab Shila
"kamu mau tunggu disini sebentar? aku akan ambil mobilku dan mengantarmu pulang". bisik Varel
Shila mengangguk-ngangguk, Shila berpikir Varel baik padanya karna takut Shila terluka dan Jessy tentu marah besar, Shila sangat tau Jessy begitu mengasihinya seperti putri kandungnya sendiri bahkan anak kandungnya Jessy saja diabaikan oleh Jessy.
Varel melepaskan jasnya lalu menyelimuti tubuh Shila, "tunggu sebentar ya? jangan kemana-mana". pinta Varel.
Varel berlari ditengah derasnya hujan, Shila menatap Varel yang sedang hujan-hujanan menuju mobilnya yang jauh diparkirkan.
"kenapa om jadi berbeda ya? ". batin Shila memeluk dirinya sendiri
"aah.. mungkin om takut aku mengadu sama Tante Jessy". tebak Shila dalam hati berpikir positif
sebenarnya Shila bisa saja menginap di hotel ini tapi ia tidak tahan memakai gaun pesta ini, Shila ingin menggantinya dengan pakaian longgar di rumahnya, Varel tidak memaksa Shila untuk menginap hanya sekali merasakannya saja Varel tau Shila terlihat tidak nyaman dengan pakaiannya sendiri, mungkin Shila bisa menutupinya dari siapapun tapi tidak dimata varel.
Varel keluar dari mobilnya dengan payung lalu berlari ke arah Shila, Varel merangkul Shila dan membawanya masuk ke mobilnya.
di dalam mobil
"kenapa? dingin? ". tanya Varel
Shila mengangguk, Varel menangkup pipi Shila dan meraba gaun Shila yang sedikit lembab.
"kenapa bisa lembab? apa kamu main air tadi? ". tanya Varel
"bukan om..! tadi anginnya deras dan menerpa ku jadi..." jelas Shila
Shila melebarkan matanya saat Varel tiba-tiba begitu dekat dengan wajahnya, "seatbeltmu".
Shila memejamkan matanya saat bau mint (nafas) segar Varel menyerpa wajah Shila, Varel melihat Shila yang memejamkan mata seperti semakin cantik, ingin sekali Varel mencium bibir Shila, Varel menggeleng kepalanya lalu kembali ke tempat duduknya.
"tenang Rel..! tenang..! jangan terlalu terburu-buru, Shila bisa saja kaget dan menjauhimu". batin Varel menenangkan diri.
__ADS_1
.
.
"macet om..? ". kata Shila dengan gemetar
Varel melihat ke arah Shila lalu memegang pipi Shila yang terasa dingin, sementara jalanan sangat macet.
"maaf Shila.. kita tidak bisa jalan kecil, anginnya sangat deras aku takut kita terjebak reruntuhan pohon". ucap Varel dengan nada merasa bersalah
"kapan kita keluar dari jalan ini om? pasti ada kecelakaan didepan sana". tanya Shila
Varel mengedarkan pandangannya dan ia melihat toko baju cukup jauh dari mobilnya sekarang, "aku keluar sebentar..! sepertinya memang ada masalah didepan sana dan mobil tidak akan bergerak, jangan keluar ya?".
Shila mengangguk-ngangguk, sekali lagi Shila melihat Varel keluar dari mobil tanpa membawa payung padahal di sini ada Payung, tentu saja Varel di guyur hujan tapi nampaknya Varel tidak begitu memperdulikannya.
"om kenapa semakin baik ya? apa memang karna takut aku mengadu sama Tante? ". gumam Shila menggigil.
.
.
"ganti bajumu Maharani! ". pinta Varel yang tidak sadar dirinya sedang basah kuyub.
"dimana gantinya om? ". tanya Shila celingukan
"ganti disini! ". jawab Varel hingga Shila menoleh ke arah Varel
Varel mengambil dasi yang ada di belakang mobilnya lalu mengikat matanya sendiri supaya tidak melihat kegiatan Shila.
Shila pun melepaskan satu persatu jaketnya, "tapi sleting belakangku bagaimana om? "
"aku tidak bisa membantumu karna aku tidak melihatmu". jawab Varel
"tapi aku tidak bisa melepaskannya, sini tangan om!". Shila memegang tangan Varel yang dingin membuatnya kaget.
"tangan om dingin sekali". Shila
"aku beli baju untukku juga, nanti aku akan berganti, cepat kamu ganti saja dulu". Varel
Shila menarik telapak tangan Varel dan meletakkannya di punggungnya, Varel menurunkan resleting gaun Shila, ia tidak bisa melihat tapi mengapa jakunnya bisa naik turun.
"udah". jawab Varel segera menjauhkan tangannya.
cukup lama Shila berganti pakaian, ia juga menghabiskan tisu yang ada di mobil Varel untuk mengelap bangku nya yang basah.
"giliran om yang ganti baju..! ". kata Shila melepaskan dasi yang menutupi mata Varel dan kini shila mengikatnya sendiri menutupi mata Shila.
Varel juga cepat berganti pakaian karna ia memang merasa dingin, Varel mengambil tisu baru di belakang mobilnya dan mengelap bangku nya juga yang basah.
.
.
"terimakasih om! ". ucap Shila tersenyum tulus
__ADS_1
Varel melihat ke arah Shila lalu tangannya terangkat menekan kepala Shila dan mengusapnya lembut.
"kita masih terjebak macet". kata Varel
Shila mengangguk, "tapi aku tidak sedingin tadi lagi".
Varel tersenyum mengelus pipi Shila,
"om kenapa jadi baik? apa om takut aku mengadu sama Tante Jessy? ". tanya Shila dengan mata mengerjab
Varel diam dan mengangguk saja karna ia tidak mungkin menyatakan perasaannya pada Shila di situasi yang tidak mengenakkan ini.
dalam waktu 1 jam mobil Varel hanya berjalan sedikit dan sedikit saja, Shila yang sudah mengantuk tertidur di samping Varel, sementara Varel fokus dengan jalanan saat mobil-mobil didepan sudah bisa jalan.
Varel melirik Shila lalu mengulas senyum tipisnya, ia tidak membangunkan Shila karna ia tau Shila pasti sangat kelelahan.
.
.
di depan Rumah Shila, Varel melepas seatbeltnya dan menatap wajah Shila yang tertidur, cukup lama Varel menatap Shila ia mulai terasa gerah karna matanya tertuju pada bibir Shila.
"aku harus membawanya pergi tapi bagaimana? disini masih hujan". gumam Varel
Varel mengklakson Rumah Shila hingga Shila menggeliat dan Varel tidak lagi mengklakson Rumah Shila karna tidak mau mengganggu tidur Shila.
Mang Ujang Keluar dengan payung membuka pagar Rumah Shila, Varel pun membawa masuk mobilnya ke pekarangan rumah Shila.
.
.
Varel kini merebahkan tubuh Shila di ranjangnya lalu menyelimuti Shila.
"terimakasih Tuan". ucap Suryo
"sama-sama Om..! Varel pamit pulang". kata Varel sambil memberikan tas berisi baju Shila yang basah dibawakan oleh mang Ujang tadi.
.
"sepertinya Tuan Muda Fox Group benar-benar tulus mencintai Neng Shila pak". kata Ujang
"hmm.. siapapun tau saat melihat cara nya memandang anakku tapi anakku tidak mencintainya". balas Suryo
"saya yakin neng Shila pasti akan mencintai Tuan Muda juga pak, hanya butuh waktu saja". jawab ujang.
"semoga saja". jawab Suryo lalu berbalik pergi
Ujang tersentak, kini ia mengerti ternyata Suryo tidak melarang Shila untuk jatuh cinta pada Varel.
.
.
.
__ADS_1